Kesetiaan Perempuan Pada Tradisi Anyaman Tikar Pandan


Lentik jari-jemari Hatani (52 tahun) sangat lihai mengayam lembar perlembar daun pandan kering untuk dibuat tikar di halaman rumahnya di Desa O’o RT 002/004, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu NTB, Jumat (13/9). Meski kerajinan tikar pandan hampir tak pernah dijumpai lagi dikalangan masyarakat Dompu dan masyarakat pengrajin lainnya. Perkembangan zaman yang semakin maju membuat kerajinan tikar tradisional hampir jarang ditemui di pelosok pelosok desa. Sehingga pemanfaatannya banyak digantikan dengan beragam tikar modern saat ini yang lebih praktis dengan bahan yang lebih ringan dan kuat.

Namun ditangan ibu dua anak init, tradisi kerajinan tikar pandan tetap dilestarikan karena tekniknya sudah dikuasai sejak kecil. Terlebih keterampilan menganyam telah diwariskan turun temurun. Untuk itu, Hatani tidak ingin keterampilannya membuat tikar pandan ini hilang ditelan zaman.

“Saya kan ingin mengasah kembali keterampilan saya membuat tikar pandan, ketika saya masih gadis dulu sering sekali membuat tikar pandan,” tuturnya sembari mengayam tikar pandan yang sangat berjasa kala itu.


Menurut Hatani, proses menganyam diawali mengolah daun pandan hingga berhari-hari dan memliki proses cukup rumit. Mulai dari mengambil duan pandan dari pohonnya lalu membuang durinya. Kemudian daun pandan dibelah menjadi empat bagian, selanjutnya dibersihkan dan diluruskan dengan maud sebuah potongan batang bambu. Setelah itu daun pandan direbus selama satu jam dan direndam air dingin selama satu malam.

Langkah berikutnya merupakan bagian lebih penting adalah proses penjemuran yang memakan waktu dua hari. Daun pandan yang siap dianyam terlihat dari warnanya yang putih. Setelah kering, kembali dilakukan proses pembersih dan dilakukan pelipatan sebelum melakukan ngana atau menganyam. Selain itu, motif tikar pandan juga memilik corak yang berwarna-warni, biasanya dari beberapa helai daun pandan dimasak bersamaan dengan pewarna buatan sesuai selera.

"Untuk membuat satu buah tikar diperlukan waktu sekitar satu sampai dua hari, tergantung ukurang yang dinginkan," katanya.

Meski terbilang rumit, ia tetap menekuni kerajinan tersebut walapun hanya sebatas kebutuhan rumah tangga sendiri. Ditambah lagi kurangnya peminat terhadap tikar dari daun pandan membuatnya tetap mengenalkan kerajinan itu pada anak-anaknya. Apalagi digantikan dengan berbagai jenis tikar saat ini yang lebih paraktis. Selain kurangnya peminat, ditambah lagi ketersediaan bahan baku daun pandan yang sangat susah akibat perluasan lahan pertanian. Otomatis pohon pandan yang biasanya tumbuh disekitar bantaran sungai jarang dijumpai. Sehingga menambah kurangnya peminat.

“Sekarang, daun pandan susah sekali dicari, karena semua banyak ditebang untuk keperluan pertanian,” ungkap Ibu pengrajin tersebut.

Untuk patokan harganya sangat variatif tergantung motif warna. Kalau yang menggunakan corak berwarna dibandrol dengan harga Rp 150 ribu, yang tanpa corak warna dipatok hanya Rp 100 ribu. Namun, karena tradisi anyaman itu jarang ditemui, tikar daun pandan pun tidak lagi menjadi bagian untuk menopang kebutuhan ekonomi masyarakat saat ini. Dan harga tawarnya pun tidak setenar seperti sedia kala.


"Dulu, kerajinan ini sangat membantu sebagai penambah puing ekonomi kita dan menjadi andalan masyarakat," imbuhnya.

Selain menopang ekonomi masyarakat, tikar daun pandan, kata ibu dua anak itu juga menjadi kebutuhan dasar bagi masyarakat Dompu dalam setiap hajatan, baik hajatan Mbolo Weki (Musyawarah Pra Nikah Budaya Bima Dompu) dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Bahkan hingga saat ini, tikar tersebut masih dimanfaatkan sebagai pembungkus jenazah karena teksturnya yang empuk dan harum.

“Kalau ada tetangga yang meninggal, banyak yang minta tikar pandan untuk dijadikan sebagai pembungkus mayat,” tuturnya. (Man)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru