Jadi Duta Hoaks Gampang- Gampang Susah

Menangkal berbagai isu negatif (hoaks) yang banyak bertebaran di media sosial bagi Ni Kadek Dwi Putri Aprisca Setiani gampang-gampang susah. Meski demikian, gadis manis dengan tinggi badan 168 cm ini terus concern mengkampanyekan gerakan anti hoaks kepada masyarakat terutama generasi muda. 

Dwi sapaan akrabnya merupakan salah satu pemenang dalam ajang pemilihan duta anti hoax yang bertajuk own beat 2019 di Mataram beberapa waktu lalu. Gadis kelahiran Narmada 18 tahun silam tersebut, terpilih menjadi juara 1 karena komitmennya untuk memerangi hoaks yang dimulai dari lingkungan sekitar. 

Dalam ajang tersebut, Dwi bersaing Bersama puluhan peserta lain dari seluruh NTB. ‘’Ðipilihnya itu anak muda yang memang tentunya bukan orang yang suka nebar hoaks lah pastinya, jadi nanti kita akan jadi duta NTB buat gerakan stop hoaks di kalangan generasi muda,’’ katanya, Selasa (30/07/19) di Mataram.

Sebagai duta, Dwi mengaku cukup kesulitan mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk tidak mudah percaya terhadap isu yang belum pasti kebenarannya.”Banyak yang menelan mentah-mentah informasi yang didapatkan. Apalagi sekarang pengguna medsos banyak dari kalangan ibu dan bapak,’’ katanya lagi.  

Meski demikian, gadis yang memiliki 1235 follower di Instagram ini mengaku tetap berkomitmen agar generasi muda tidak mudah termakan berita hoaks. Tentunya dengan cara terus meyakinkan mereka yang dimulai dari lingkungan sekitar terlebih dahulu,‘’Efektifitas gerakan ini memang masih belum bisa dirasakan langsung. Butuh waktu agar bisa menumbuhkan kepercayaan dibenak masing- masing orang. Untuk itulah kita mulai dari diri sendiri dulu, baru lingkungan sekitar kemudian lingkup yang lebih luas lagi,’’terangnya. 

Untuk di NTB sendiri, menurut Dwi penyebaran isu negatif (hoaks) tidak terlalu signifikan. Jika dilakukan perbandingan sepertinya hanya berkisar 50;50. ‘’Kalau belakangan ini tidak terlalu banyak, tidak seperti waktu pemilihan presiden kemarin. Banyak sekali berita negatif sampai tidak bisa di kontrol. Kalau kemarin- kemarin yang saya lihat isu negatifnya itu seputaran gempa,’’ tambahnya.

Dwi berpesan bagi generasi muda untuk lebih selektif dan cerdas dalam ber media sosial. Mengingat media sosial seringkali menjadi wadah bagi oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan berita bohong (hoaks).‘’Anak muda harus cerdas bermedia sosial, alangkah baiknya juga jangan ikut jadi penyebar hoaks. Kalau ada berita, di telaah dan di teliti dulu sebelum di share kembali,’’ terangnya. 

Own beat sendiri merupakan wadah menangkal hoaks melalui suara anak muda. Dimana gerakan ini di inisiasikan untuk mengajak generasi muda agar bersama-sama menangkal berbagai isu negatif yang saat ini masih banyak bertebaran di media sosial baik twitter, facebook maupun instagram. Gerakan ini dilakukan dengan tujuan agar generasi muda tidak cepat termakan berita bohong.

Saat ini, berdasarkan data dari Kementerian Kominfo melalui Tim AIS Ditjen Aptika hasil temuan dan identifikasi konten hoaks sejak Agustus 2018 hingga Maret 2019 sebanyak 1.224 hoaks. Kategori hoaks tertinggi ada pada soal politik yakni 311 hoaks. Hal tersebut tidak terlepas karena tahun 2019 ini memasuki tahun politik. (luk-tim media).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru