Meneladani Kisah Alm. H. Achmad Ula, Sang Pahlawan Pendidikan

“Tuhan adalah pemilik ilmu, maka dekatilah niscaya kamu akan meraih ilmu yang kamu inginkan”

KM LENGGE,- Setelah perjuangan meraih kemerdekaan telah terwujud, sebuah tugas berat mempertahankan kemerdekaan menjadi tugas didepan mata para pejuang terdahulu, bangsa harus menyiapkan generasi muda yang berpendidikan, berakhlak dan siap memegang tanggungjawab meneruskan nasib Bangsa Indonesia kedepannya. berawal dari inilah para guru terdahulu berikhtiar untuk berjuang, perjuangan mencerdaskan Indonesia.

Nama Beliau H.Achmad Ula (Alm), Lahir pada tahun 1935 di Desa Kombo Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Beliau bisa dibilang salah satu dari pejuang dunia pendidikan pasca kemerdekaan RI silam

Kisah perjalanan panjang beliau sebagai guru Ilmu pendidikan Agama Islam berdasarkan cerita dari teman seangkatan dan penuturan beliau kepada anak cucu beliau, kisah perjuangan pengabdian beliau sebagai seorang guru pada era awal pasca kemerdekaan sampai purnabakti sebagai seorang guru pada saat itu berhasil KM rangkum dari anak cucu beliau.

Awal beliau ditugaskan menjadi seorang guru di sebuah daerah di kecamatan Parado yaitu wilayah pegunungan di bagian selatan Kabupaten Bima, beliau menjadi tenaga pendidik ilmu agama islam, pengabdian di Kecamatan Parado beliau lalui bersama suka dukanya, di wilayah selatan Kabupaten Bima ini pendidikan Agama Islam memang sangat dominan. 

Bendungan Pela Parado 

Beliau mengabdi di Kecamatan Parado dalam waktu yang cukup lama. sekitar tahun 50-an diwilayah Dompu kekurangan guru, khususnya di beberapa daerah yang sangat terpencil, karena panggilan jiwa untuk mencerdaskan bangsa akhirnya beliau bersama beberapa rekan rekan guru lainnya bersedia dikirim ke Kabupaten dompu.

Di tempat pengabdian baru ini beliau ditempatkan di Desa Daha, Kecamatan Hu,u, sebuah daerah yang pada saat itu sangat terpencil dan tidak memiliki akses jalan untuk kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Satu - satunya akses transportasi di Daha adalah menggunakan kuda, bisa dibayangkan susahnya mendapatkan akses didaerah ini, informasi dan berbagai kebutuhan sangat terbatas. Namun tidak menyurutkan Semangat mereka tenaga pendidik pada zaman itu untuk mengabdi kepada Bangsa dan Negara demi cita-cita mulia mencerdaskan generasi muda, pun semua rintangan dan kesulitan dihadapi dengan kesabaran dan keikhlasan mengabdikan diri kepada Masyarakat.  

Setelah lama mengabdi di Desa Daha Kabupaten Dompu, karena totalitas dan dedikasi tinggi beliau kemudian ditarik Ke Bima, ditempatkan di sebuah wilayah di pegunungan ujung timur Kabupaten Bima, tepatnya di Desa Mangge Kecamatan Lambu, sebuah wilayah yang sangat terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan kecamatan Lambu.

Sahnya suatu amal dan sempurnanya hanyalah tergantung benarnya niat. Oleh karena itu apabila niat itu benar dan ikhlas karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala maka akan sah pula suatu amal dan akan diterima dengan izin Allah Ta’ala, dengan niat tulus ikhlas beliau, memberikan pendidikan sesuai kaidah keilmuan yang belaiau kuasai dengan harapan akan muncul manusia-manusia berpendidikan sekaligus berakhlakul karimah dari setiap daerah yang pernah beliau abdikan diri sebagai tenaga pendidik. Beliau tetap mendidik dengan sepenuh hati dan ikhlas.

Terakhir beliau mengabdi untuk mencerdaskan anak anak bangsa adalah didesa Sari, Kecamatan Sape. Setelah sekian lama "berkeliling" mengawal dan menyiapkan generasi berpendidikan yang siap melanjutkan cita-cita Bangsa ini akhirnya di Desa Sari inilah beliau menemukan jodoh pujaan hati, bersama istri tercinta Beliau menjalani sisa waktunya sebagai seorang guru pendidikan Agama Islam sembari menjadi seorang petani di Desa Sari 2 yang saat ini kita kenal sebagai Desa Tanah Putih, sebuah desa yang sejuk di ujung barat kecamatan Sape hingga beliau dinyatakan purnabhakti.

Pegunungan dan persawahan Desa Sari view dari Kecamatan Wawo

Almarhum H. Achmad Ula, menjadi lentera generasi, mewakafkan hidupnya untuk mendidik generasi bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih, menciptakan generasi beragama dan berakhlak mulia, almarhum dengan niat tulus ikhlas, hanya berharap kepada Allah SWT sebagai pembalas setiap Amalan manusia. Bukankah tiada amal yang terputus selain amalan Jariyah yang tak pernah terputus oleh waktu dan itulah sebaik-baiknya Amalan hidup manusia.

(/KIM Wawo)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru