Eliza Dan Mimpi Hijau Sekongkang


Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat memang dikenal sebagai daerah tambang. Ini terjadi sejak beroperasinya kegiatan penambangan kedua terbesar di Indonesia oleh PT Newmont Nusatenggara pada tahun 2000. Daerah tambang seringkali identik dengan alam yang kering dan gersang. Secara umum, sebagian besar lahan di Kecamatan Sekongkang berupa lahan kering. Hamparan lahan, yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun. Topografinya beragam. Mulai lahan datar, berbukit dan bergunung yang sangat bergantung pada musim hujan dan kemarau.

Ibu Eliza memiliki mimpi. Tanah kelahirannya dapat pula hijau dan sejuk sejauh mata memandang seperti di negeri lain. Bersama sang suami, mimpi itu dirajutnya dari rumah dengan puluhan, ratusan hingga kini ribuan bibit pohon yang awalnya dibagikan kepada siapa saja yang mau menanam kesejukan. Begitu banyak lahan terbuka gersang yang bisa ditanami pohon. Kata orang orang disekitarnya, pasangan ini bukanlah sekadar pemerhati lingkungan namun itu dilakukan sebagai bagian dari hidup. Seolah Eliza dan suaminya ditakdirkan Tuhan untuk menghijaukan Sekongkang.

Karena perhatian dan “kampanye” lingkungan yang intens dilakukannya terhadap warga sekitar dan kepada siapa saja yang mau melakukan penghijauan, Ibu Eliza kemudian diminta terlibat dalam program Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) pada Tahun 2005. Kegiatan ini melibatkan masyarakat untuk menghasilkan 100.000 batang bibit pohon setiap tahunnya. Ada pohon buah, tanaman hias, pohon pelindung yang sebelumnya hanya dibagikan kepada siapa saja yang berhasrat menanam pohon. Hingga akhirnya, pekerjaan yang dilakukannya semata karena mimpi tentang negeri yang hijau dan sejuk, Ibu Eliza memiliki pengetahuan dan keahlian dalam pembibitan pohon.

 

Pada tahun 2008, Ibu Eliza mulai bekerja sama dengan PT. Amman Mineral Nusa Tenggara melakukan penghijauan di wilayah yang terdampak oleh kegiatan pertambangan. Selain membagikan bibit, ia juga membagikan pengetahuan dan keahliannya dalam melakukan pembibitan dan penanaman pohon. Kegiatan tersebut, selain berdampak baik bagi lingkungan juga berdampak bagi ekonomi masyarakat. Kegiatan tersebut menjadi rintisan bagi sumber pendapatan keluarganya, anggota kelompok penghijauan “Hijau Lestari” dan masyarakat sekitar.

 

Bagi pemerintah daerah kabupaten Sumbawa Barat sendiri, upaya yang dilakukan Ibu Eliza selain membantu kerja dinas lingkungan hidup namun mempunyai dampak lingkungan yang sangat besar bagi Kecamatan Sekongkang. Betapa tidak, kegiatan yang tadinya dimulai dari rumah itu berkembang massif dengan komitmen hijau yang ditanamkan oleh Ibu Eliza. Secara bertahap, mulai dari kelompok masyarakat, organisasi seperti Pramuka, sekolah sekolah bahkan kelompok masyarakat lain di kecamatan berbeda mulai meniru pola penghijauan yang digerakkan oleh Ibu Eliza. Ia pun mulai mengembangkan usaha pupuk organic dari sampah dedaunan untuk mendukung habitat baru dari bibit pohon yang ditanam. Meski kendala air masih menjadi persoalan besar di Kecamatan Sekongkang tapi mimpi itu mulai terlihat nyata dari semilir angin dan gemerisik dedaunan rindang diatas bukit yang hijau.

 

Sampai akhirnya, di tahun 2019, beliau menjadi satu dari 10 Tokoh Lingkungan penerima Kalpataru. Beliau mendapatkan Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan. Ini merupakan penghargaan kesekian kalinya setelah sebelumnya beliau menerima apresisasi berupa Nominator Penghargaan Kalpataru Nasional 2016, Juara II Kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Tingkat Provinsi NTB 2010, Penerima Lencana Wana Lestari 2008 dari Menteri Kehutanan, Penghargaan dari Gubernur Juara I Tingkat Provinsi NTB 2008 pada Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Nasional.

 

Kalpataru adalah penghargaan tertinggi yang diberikan pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kepada individu maupun kelompok yang dinilai merintis lingkungan di daerah masing-masing. Penghargaan Kalpataru diberikan sejak 1981 silam yang disampaikan pemerintah kepada individu (perseorangan) ataupun kelompok yang dinilai berjasa dalam melestarikan lingkungan hidup baik dalam merintis, mengabdi, menyelamatkan dan membina dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan.

 

Pemberian penghargaan Kalpataru ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, membuka peluang bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas, serta mendorong prakarsa masyarakat, sebagai bentuk apresiasi dan motivasi kepada individu maupun kelompok yang telah berpartisipasi aktif dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan.

 

Penghargaan Kalpataru Tahun 2019 ini diserahkan langsung oleh Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla pada hari Kamis, 11 Juli 2019 bertempat di JCC, Senayan, Jakarta. Dalam penerimaan penghargaan Kalpataru ini, Ibu Eliza didampingi oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Ir. Madani Mukarom, BSc.F setelah sebelumnya diterima oleh Ibu Wakil Gubernur NTB pada tanggal 9 Juli 2019 di Ruang Wakil Gubernur. Selain itu, Kepala Dinas LHK NTB juga mendampingi beliau pada saat acara ramah tamah penerima Kalpataru bersama dengan Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian LHK RI.

 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB, Ir. Madani Mukarom, BSc.F menyampaikan bahwa Ibu Eliza menjadi satu dari sedikit warga masyarakat yang harus menjadi contoh dan teladan serta inspirasi bagi semua pihak. Hal ini menjadi bukti, bahwa dengan keinginan yang kuat, ikhtiar yang terus menerus, NTB akan Asri dan Lestari ke depannya.

 

“Saya mengajak anak anak sekolah agar nanti mungkin ada yang menggantikan saya melakukan penghijauan. Saya hanya ingn Sekongkang ini hijau. NTB ini hijau”, kata Eliza. jm - tim media

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru