Wanita Kuat dari Sukarara

Cuaca nampak cerah menyambut kedatangan Tim Media dari Dinas Kominfotik Provinsi NTB yang ingin mengekspos kerajinan desa setempat, saat itu aktivitas masyarakat pun begitu sunyi, biasanya warga setempat sangat ramai menyambut kedatangan wisatawan asing maupun lokal dengan menawarkan berbagai kerajinan tenun yang menjadikan desa tersebut dikenal sebagai desa pengrajin kain tenun khas Lombok. 

Dari kejauhan nampak dua orang wanita sedang duduk belunjur, sembari memangku Alat Tenun Gedogan (ATG) di atas berugak besar. Suara tenunan membiaskan semangat dua wanita itu untuk menjaga kualitas dari kain-kain tenun yang diciptakan. Jari jemari merangkai ribuan helai demi helai benang yang himpun dalam ATG dengan jiwa teliti dan fokus menjadi modal utama  untuk menjadikan hasil tenunan yang diharapkan.


Rina Wisnawati (23) dan Mia (24) adalah dua wanita kuat asal Desa Sukarara Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Sejak umur Sembilan tahun mereka sudah dilatih menjadi seorang penenun sejati. Tak heran, jika jari jemari mereka sangat lihai menciptakan  kain tenun Songket dan ikat dengan beragam motif yang cantik. Kuat untuk menapaki kehidupan demi keluarga dan hebat untuk menjaga produk lokal yang berkualitas.

Sejak Desa Sukarara ada, kerajinan Tenun merupakan mata pencaharian utama masyarakat setempat, Keahlian dalam menenun sudah menjadi tradisi yang diwariskan kepada generasi selanjutnya hingga saat ini. Sehingga aura lifestyle warga desa pun berwarna-warnin dengan berbagai macam motif dari kain tenun.

"Untuk membuat kain tenun yang berukuran 2 (dua) meter saja, kami harus membutuhkan waktu sekitar satu bulan penuh," ungkap salah seorang dari mereka saat ditemui oleh tim Diskominfotik NTB, Lombok Tengah (30/3).


Mia yang lebih berumur dari Risna menjelaskan, upah yang didapatkan setiap harinya tidak sebanding dengan karya yang membutuhkan ketelitian yang sangat besar. Lamanya menenun tergantung dari motif kain yang dipilih, Tenun Songket bermotif bulan lebih lama jika dibandingkan dengan motif lain.

"Dari pekerjaan ini, kami hanya mendapatkan upah sebesar Rp 15.000 sampai 30.000 perharinya," kata ibu satu anak tersebut.

Pada kesempatan itu juga, Risna yang relatif masih sangat muda juga memiliki keahlian menenun, ia mengatakan, panjang kain tenun yang dibuat
setiap hari, hanya 15 cm. Bayangkan saja, dari setiap helai benang yang di sesek (bahasa sasak) atau dinenun harus melewati beberapa tahap dengan tingkat kerumitan yang membingungkan. Puluhan bambu saling berkaitan untuk menyusun satu persatu dari ribuan benang yang dikaitkan antara satu dengan yang lainnya. Sedangkan waktu kerja juga dimulai pagi hingga sore hari. 

"Upah yang didapat hanya untuk memenuhi kebutuhan lauk-pauk setiap hari, sedangkan belanja anak-anak biasanya kami dapat dari bonus yang diberi oleh pemilik atau kiriman dari sang suami," tutur ibu tiga anak itu.

Lamanya duduk bersentuhan langsung dengan papan kayu yang cukup keras, tanpa alat bantu yang memadai. Mereka sama-sama tidak pernah mengeluh karena keadaan itu sudah menjadi kebiasaan sejak puluhan tahun mereka menjadi pengrajin tenun. 

Selain itu, mereka juga sama-sama memiliki nasib yang sama. Karena  suami mereka merantau ke Kalimantan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sedangkan pendidikan yang ditempuh Juga hanya sampai pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). (Man-Tim Media).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru