Sarjana Sastra Jualan Kue, Kenapa Tidak? 


Perdebatan tentang pilihan mana yang lebih baik, ibu berkarier atau ibu rumah tangga memang tak ada habisnya diperbincangkan. Tak ubahnya perdebatan apakah bumi bulat atau bumi datar?

Namun bagi Ismawati (25) Ibu muda asal Sekarbela ini tidak mau ambil pusing dengan pedebatan tersebut. Ia mengambil jalan tengah dengan menjadi ibu rumah tangga sekaligus tetap berkarier dari rumah. Sejak dua tahun terakhir, Isma panggilan akrabnya, tengah menjalankan bisnis kue online, Nala Cake and Chatering. Status sarjana sastra yang disandangnya juga tidak membuatnya setengah-setengah dalam menjalankan bisnis ini. Tak tanggung-tanggung, omset perbulannya bisa sampai 5 juta rupiah.

“Gatau ya.. mungkin ada aja sih yang nyinyir capek-capek kuliah kok jualan kue. Cuma saya memilih menutup telinga. Kalau ortu alhamdulillah gak pernah campuri urusan saya. Mereka selalu mendukung saya termasuk mertua dan suami,” jelas Isma ketika ditanya komentar negatif tentang pilihannya berjualan kue.


Kue yang dijajakan Isma di akun social medianya sangat beragam, berupa aneka bronis, kue tart, donat, dessert, kue kering, hingga nasi kuning dan ayam penyet berbagai saus. Tergantung pesanan atau tergantung apa yang ingin dibuatnya. Di akhir pekan, tidak sedikit paket komsumsi ulang tahun anak dikerjakannya. Dengan menggunakan system PO atau Pesan Order, Isma jadi leluasa memilih hari libur untuk quality time bersama keluarga kecilnya.

Di tengah kesibukannya menyelesaikan kue-kue pesanan, Isma mengaku tidak kerepotan membagi waktu bersama si kecil.
“Alhamdulillah Nala anak saya sangat anteng sekali. Kalau dia lagi bangun dia ikut saya ke dapur. Kalo lagi bobok dia bobok sendri di kamar. Kalau ada temennya main dia akan main sama temennya sembari saya di dapur,” tutur Isma.


Yang mengejutkan adalah, Kemampuan memasak Isma ternyata di dapat secara autodidak, dari melihat   demo memasak di televise, menonton tutorial di youtube, atau membaca aneka resep dari buku resep. Ia mengaku, Mamak, panggilannya kepada ibunya, tidak pernah mengajarkannya memasak. Dari kecil hingga masa gadisnya, Mamak justeru memarahinya jika ikut memasak di dapur.

“Kalau Ima kecil bantuin mamak, dapur akan dua kali lebih berantakan dari sebelumnya kata mamak. Tapi saya sudah mulai menggoreng telur ceplok sendiri umur 6 tahun,” jelas Isma.

Mengenai ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang didapatkannya selama di menimba ilmu di Universitas Mataram, bagi Isma masih akan terus berguna. Kesempatan untuk mengajar di sekolah-sekolah negeri maupun swasta seringkali datang, tetapi selalu ditolaknya. Karena bagi Isma, ia tidak ingin melewatkan perkembangan anak semata wayangnya. Ia memilih terus bekerja dari rumah dan memanfaatkan ilmu pendidikannya untuk si kecil. Besok lusa, setelah Nala mandiri ia baru akan kembali menimbang tawaran untuk mengajar yang datang.

Kedepannya, Isma berharap bisa membuka toko kue sendiri, baik menyewa atau membangun sendiri tak masalah. Yang terpenting ia ingin memiliki rumah produksi sendiri. Sehingga setiap jum’at bisa membuka stand makanan gratis bagi yang kekurangan.

“Kalau bisa setiap hari!” tandasnya penuh harap. (novita-tim media)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru