Berburu Belut Suatu Kearifan Lokal

Hari Minggu, biasanya anak-anak muda di Masbagik Lombok Timur mengisi waktu dengan bersantai, atau melakukan wisata jalan-jalan. Berbeda dengan Nasrullah, justru dirinya lebih memilih memanfaatkan hari luangnya dengan bepergian ke tempat tertentu untuk berburu belut.


Semenjak duduk di bangku SMA, Rul panggilan sehari-harinya, ia menjadikan berburu belut sebagai hobbynya. Terkadang ia mengajak teman-teman sekolahnya ke areal persawahan, ataupun di tempat tertentu yang memungkinkan ditemukan belut.

Lepas dari SMA, ketika Rul menjadi mahasiswa, ia pun masih saja mempertahankan kegiatan rutinitasnya sebagai pemburu belut pada hari libur. Bahkan hampir semua teman-teman dekat mahasiswanya sudah diajak untuk menikmati kegiatan yang sangat dicintainya ini di hari minggu.


Kini, Rul menjadi seorang guru pada sebuah Madrasah Aliah di desanya, yaitu di Tana Maik, Masbagaik, Lombok Timur. Kegiatannya sebagai pemburu belut tertular pada sebagian siswa-siswa yang merasa dekat pada dirinya. “Awalnya, saya perkenalkan kepada siswa-siswa mengenai  jenis hewan licin berupa belut. Saya pun jelaskan manfaat belut bagi kesehatan dan juga lokasi yang disenangi oleh belut. Demikian juga dengan cara menangkap belut saya berikan penjelasan mendetail, kemudian pada hari minggu saya mengajak mereka untuk ikut terlibat langsung dalam penangkapan belut, akhirnya mereka pun sering melakukan kegiatan pencarian belut bersama dengan teman-temannya pada hari libur,” ujar Rul yang kini berusia 29 tahun.


Salah satu lokasi yang paling sering didatangi oleh Rul untuk berburu belut adalah Desa Puncak Jeringo, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur. Pada puncak bukit ini terdapat areal persawahan yang dialiri oleh air yang mengalir dari sumber mata air yang ada di sekitar puncak bukit ini. Air yang mengalir melalui saluran air dan menuju ke areal persawahan tidak pernah mengalami kekeringan, bahkan pada bagian tepi saluran air ini banyak ditemukan belut. Selain itu, di puncak Bukit Jeringo terdapat telaga kecil yang pada bagian tepinya banyak ditemukan belut. Demikian juga ketika musim tanam padi, yang mana ketika petakan-petakan sawah masih terisi air, habitat belut selalu menampakkan diri pada bagian kondiis air yang sangat dangkal. Hal inilah yang membuat Rul paling gemar berburu belut di Desa Puncak Jeringo.  

Menangkap belut di Desa Puncak Jeringo sudah menjadi tradisi sawahan. Bahkan, bukan hanya Rul yang sering berburu belut di atas bukit ini, anak-anak Bukit Jeringo pun yang suka bermain kubangan lumpur di areal persawahan memanfaatkan waktu luangnya untuk mencari belut. Bahkan penduduk sekitar pun yang berusia dewasa sering melibatkan diri untuk mencari belut.


Amaq Rusdi (49 th), warga Bukit Jeringo mengakui bahwa hampir setiap hari Minggu ia bersama dengan anak-anak Desa Bukit Jeringo mencari belut di areal persawahan. Menurut Amaq Rusdi, dirinya sering bertemu dengan pemburu belut dari luar, seperti Rul yang sudah lama menjadi teman akrabnya gara-gara berburu belut di Bukit Jeringo.

Selain itu,  menurut Rul, mencari belut atau menangkap belut adalah kegiatan yang menyenangkan. Selain ada unsur refresing, juga kita bisa lebih akrab dengan teman-teman sesama pemburu belut jika bertemu di satu lokasi. Rul juga mengakui bahwa sangat indah terasa jika kita berhasil menemukan seekor belut. “Semua kelelahan dan pengorbanan lainnya serasa terbayar,” inilah salah satu nikmat yang ditemukan oleh Rul selama ia menggeluti rutinitas aktifitasnya pada hari libur.

“Gampang-gampang susah menangkap belut. Di lokasi pencarian belut kita ramai-ramai, basah-basahan berusaha mencari belut di dalam tanah atau lumpur, namun terkadang dapat dan terkadang tidak dapat. Pasalnya, menangkap belut itu agak susah-susah gampang, soalnya terkadang sudah berhasil ditangkap, namun terkadang lepas lagi, ya maklum tubuh belut terlalu licin,” ujar Rul menceritakan pengalamannya ketika di temui di rumahnya saat pulang dari berburu belut di persawahan Bukit Jeringo.

 
Rul lanjut cerita, bahwa dirinya menangkap belut karena hobi sejak SMA. Pekerjaan mencari belut adalah ibarat memancing ikan di sungai. Namun ia mengakui bahwa mencari belut adalah mempunyai seni tersendiri jika sedang digeluti. “Mencari belut punya perasaan, kita tidak tahu kalau ada atau gak ada belut, jadi pakai perasaan atau raba-raba aja. Soalnya juga terkadang pakai umpan dengan ikatan tali nilon, terus masuk ke lubang, eh dapat juga.,” ujar Rul.

Namun bila dicermati, mencari belut adalah salah satu bentuk  kearifan lokal yang masih dapat dilihat kelestariaannya pada sebagian besar masyarakat desa. Betapa indahnya ketika para pemburu belut memanfaatkan waktu liburnya untuk mencari belut di areal persawahan. Demikian juga dengan anak-anak desa, mereka berburu belut sambil bermain di kubangan lumpur, yang dilakukan ketika mereka sedang libur sekolah.

Akhir kata, mencari belut di hari libur adalah suatu kegiatan yang bernilai positip karena selain mengandung unsur refresing, rekreasi, dan juga mengandung unsur pengenalan lingkungan. Selain itu, dengan kegiatan berburu belut adalah sesuatu yang bernilai pendidikan bagi setiap pelakunya, terutama bagi anak-anak, karena selain bermain, kegiatan ini juga mengandung unsur wisata atau kesenangan bagi anak-anak untuk lebih dekat dengan alam dan lingkungan, sehingga dapat dikatakan bahwa kegiatan berburu belut menjadi wisata edukasi.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru