26 Tahun Masih Nampak Senyum

Mentari akan menyepi, jalan akan terbentang, pepohonan akan tunduk dan cerita akan digelar menyambut kedatangan wajah yang berseri-seri.

Putra putri akan menagih manja bujukan di sisimu, sementara bukit akan terbentuk, melekuk dan memeluk kita. Alunan instrumen tetesan air di petak-petak sawah masih mengirim kerinduan dikala bersama dalam sebuah gubuk kecil di lembah sunyi.

Kehangatan dikala dingin tak tertulis dalam cerita kecil, hanya gerimis tak bersuara di atas alan-alan pembungkus gubuk sederhana yang dapat menggelar kembali ingatan itu.

Suara melenguh terdengar jauh dibalik lembah di atas bukit. Ekor bergoyang-bergoyang mengepas burung-burung kecil tak terlihat, mulut seakan beryanyi di ujung sunset. Ternyata itu kerumunan hewan ternak yang istrahat di bawah pohon Jati milik ayah.

Lagu daerah mulai terdengar dari bibir ibu, seraya membelai rambut basahku. Memeluk, mencoba menghalangi kedinginan di balik celah-celah bambu. Tumpukan jerami masih terlihat membungkus padi di balik terpal kusut membalut gubuk itu. 

Bait demi bait lagu terus dinyanyikan, akhirnya mata mulai lelah dan tertidur lelap di pangkuan ibu. 

26 tahun kemudian

"AKU PUN TERBANGUN, TERNYATA IBU  MASIH TERLIHAT SENYUM," (Man)

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru