Menjadi Paskibraka Nasional, Meski Ayah Tukang Kebun

Terpilih menjadi Paskibraka di Tingkat Nasional menjadi prestasi yang sangat membanggakan bagi Muhammad Ihlas Sul Imam. Imam panggilan akrabnya, tak pernah menyangka mampu mengalahkan 34 peserta seleksi lainnya yang berasal dari seluruh wilayah NTB. Namun bagaimanapun, kini mimpi itu telah menjadi nyata.

Siswa SMAN 1 Labuhan Haji kelahiran Paok Pompong, 23 Januari 2002 ini mengaku keberhasilannya mewakili NTB ini tak lepas dari dukungan kedua orangtuanya. Ayahnya Mustamin, adalah seorang Tukang Kebun di SMP 1 Labuan Haji sementara Ibunya, Maisyah, berjualan di kantin sekolah tersebut. Meski begitu, Imam tidak malu, ia tetap berlatih hingga akhirnya ia terpilih.

"Sama sekali ndak minder. Dulu saya juga suka ikut bapak pas malem bantu-bantu di sekolahnya. Ini semua berkat doa orangtua saya terutama ibu. Asal latihan tulus dan ikhlas pasti berhasil," jelas Imam.

Imam sendiri baru menjadi seorang Paskibra saat duduk di bangku SMA. Saat SMP, bajang 16 tahun yang hobby pencak silat ini tidak pernah mengikuti ekstrakurikuler serupa dikarenakan SMPnya terdahulu tidak memiliki eskul tersebut.

"Saya terus olahraga push up, restok, silat, untuk melatih fisik selama ini," jawabnya ketika ditanya bagaimana ia berlatih.

Mustamin, Bapak dari Imam yang merupakan seorang tukang kebun sekaligus penjaga sekolah mengaku sangat bangga putranya tersebut dapat menjadi salah seorang pengibar bendera pusaka di Istana Indonesia 17 Agustus mendatang. Ia mengaku Imam adalah anak yang rajin berolahraga dan belajar di rumah.

"Keseharian Imam di rumah kalau tidak berlatih ya belajar. Dia termasuk anak yang pendiam dan jarang keluar," jelas Mustamin.

Lebih jauh, Mustamin berharap anaknya dapat mengemban tugasnya sebagai Paskibraka Nasional dengan sebaik-baiknya dan dapat mrngharumkan nama daerah. (tim media)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru