Lia Seorang Tuna Netra Bercita Cita Ingin Jadi Pengarang

Mata adalah salah satu panca indra yang memiliki banyak manfaat bagi manusia, terutama untuk melihat. Banyak orang yang beruntung diberikan kesempatan untuk melihat indahnya ciptaan Allah Swt, namun bagaimana dengan orang–orang yang mengalami tuna netra, untuk melihat saja mereka tidak mampu, hanya berbicara, mendengar, dan merasakan keadaan sekitarnya.

Sosok pendiam yang sering kali dipanggil Lia kini menempuh pendidikan kelas 2 di SMAN 6 Mataram. Mengalami tuna netra sejak umur 7 tahun tidak membuat Lia berkecil hati. Lia yang kini menjadi penghuni Yayasan Tuna Netra Al-Mahsyar sudah terbiasa jauh dengan orang tua. Orang tua Lia kini berdomisili di Sulawesi bekerja sebagai wirausaha.

Keterbatasan fisik tidak membuat Lia merasa tertindas atau pun tertekan, Lia membuktikan dengan beragam prestasi yang telah di raih sejak Sekolah Dasar (SD). Pada gelaran Olimpiade Sains Nasional di bandung Lia mampu meraih Juara harapan 1 di bidang Mipa.

 Lia memang tidak bisa melihat, namun ia bisa merangkai kata menjadi sebuah puisi yang bermakna indah, membawanya menjadi juara 1 tingkat Provinsi NTB dalam ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) ketika dia masih duduk di bangku SMP, bahkan Lia meraih 10 besar di Tingkat Nasional yang berlangsung di Semarang. Pada tahun 2016 Lia berhasil menjadi juara 3  bidang cipta baca puisi tingkat Provinsi NTB dalam ajang FLS2N.

“Saya memang tidak melihat, namun saya suka membuat puisi, merangkai kata menjadi makna yang indah untuk di baca,” tuturnya.

Aktivitas membuat puisi hingga kini masih terus berlangsung, ia bahkan sering kali membuat puisi tentang percintaan. Inspirasi nya datang dari berbagai macam kebiasaan teman–teman nya di asrama dan dari setiap tokoh novel yang dibaca. Setiap puisi yang dibuatnya akan di share ke sosial media miliknya atau diperlihatkan kepada orang–orang terdekat untuk dapat dimintai koreksi terhadap puisi yang ia sudah buat. Bahkan puisi yang sudah dibuat diterbitkan oleh salah satu media.

Rencana kedepannya Lia sedang membuat sebuah karya ilmiah untuk dapat diikuti dalam sebuah Lomba yang di rekomendasikan oleh sekolahnya. “Saya ingin ikut lomba mengarang, dan kebetulan sekolah merekomendasikan saya untuk membuat karya ilmiah dan akan kirim melalui email,” jelasnya.

Motivasi yang membuatnya semangat datang dari guru di Yayasan Tuna Netra Al-Mahsyar Pak Ahmad Fatoni, S.Adm yang terus memberikan motivasi kepada seluruh siswa/i. “Walau pun kalian memiliki keterbatasan tapi kalian juga memiliki kelebihan, jangan pernah merasa sedih, Allah yang membuat kalian seperti ini jadi dan Allah juga yang akan menentukan nasib kalian” tutur Pak Toni.

Lia percaya dengan keterbatasan fisik yang dialaminya bukan hambatan untuknya untuk terus meraih mimpi dan berjuang mencapai cita – citanya . Bercita – cita menjadi guru dan pengarang dimasa depan. “Maju terus pantang mundur untuk meraih impian,” tutupnya.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru