Mengabdi Bermodal Keihlasan


KM. Sukamulia - Ikhlas adalah hal yang sangat tinggi nilainya. Bahkan Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda jika hamba-NYA melakukan suatu amalan dengan perasaan yang ikhlas. Hal itulah yang menjadi dasar bagi Murniati untuk melakukan segala kegiatan yang ia lakukan demi membangun diri dan masyarakatnya. Selama penulis berjuang bersama sosok yang satu ini, penulis senantiasa mengagumi keikhlasannya dalam berjuang untuk membangun masa depan diri dan keluarganya, serta membangun masyarakatnya melalui dunia pendidikan dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial di masyarakat.

Murniati merupakan salah seorang Guru Tidak Tetap Yayasan yang mengabdikan dirinya untuk membangun masyarakat-nya melalui dunia pendidikan dengan mengawali karirnya sebagai seorang guru di MTs Maraqitta’limat Lenggorong. Ia mulai meniti karir menjadi seorang guru sejak tahun 2007, yakni sejak awal MTs Maraqitta’limat Lenggorong didirikan. Penulis terkesan menulisnya sebagai salah satu sosok inspirasi yang dikisahkan di dalam buki ini sebab ia sangat gigih berjuang dalam menempuh pendidikannya dan mengamalkan ilmunya dalam dunia pendidikan.

Murniati lahir di Bayan pada tanggal 16 Mei 1989. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sederhana. Ia dibesarkan di Dusun Lenggorong Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Murniati menempuh pendidikan dasarnya di SDN 1 Sambik Elen. Pada umumnya ia menempuh masa-masa pendidikannya dengan normal dan ia termasuk anak yang cerdas. Murniati menamatkan pendidikan Sekolah Dasar-nya pada tahun 2000, setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke SMPN 1 Bayan dan tamat pada tahun 2004. Tamat SMP, ia melanjutkan sekolah-nya di Lombok Tengah, yakni di Madrasah Aliyah Mertak Tombok Praya Lombok Tengah dan ia-pun tamat di Madrasah Aliyah itu pada tahun 2007.

Setelah menamatkan pendidikannya di Madrasah Aliyah Mertak Tombok, Murniati kembali ke kampung halamannya (Dusun Lenggorong) dan ia langsung mengabdikan dirinya sebagai salah seorang tenaga pendidik di MTs Maraqitta’limat Lenggorong dan PAUD Miftahul Qudsi Dusun Lenggorong yang waktu itu baru dirintis dan didirikan oleh masyarakat setempat dan para pejuangnya. Murniati termasuk salah seorang perintis di madrasah dan PAUD tersebut sebab sejak awal pendirian madrasah dan PAUD itu, ia aktif berjuang dengan bekal ilmu yang ia dapatkan dari bangku Sekolah Dasar hingga Madrasah Aliyah.

Sosok perempuan yang gigih dalam berjuang ini selalu aktif melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru. Sejak awal masuk mengajar di MTs Maraqitta’limat Lenggorong, ia mengemban tugas sebagai Tata Usaha dan memegang Mata Pelajaran Fiqih dan Aqidah Akhlak. Kedua mata pelajaran itu diampunya dengan baik yang meskipun ia hanya bermodal ilmu yang didapatkan selama duduk di bangku Madrasah Aliyah. Awalnya, Murniati merasa tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi, namun setelah ia aktif berjuang di MTs Lenggorong, motivasinya untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi mengebu-gebu yang meskipun ia serba kesulitan untuk memperoleh biaya kuliah.

Atas dasar niat ikhlas untuk menuntut ilmu demi membangun masyarakatnya lewat dunia pendidikan, ia-pun mendaftarkan diri sebagai salah seorang mahasiswi kelas jauh STKIP Hamzanwadi Selong yang dibuka di SMPN 1 Bayan dengan mengambil Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Untuk merealisasikan keinginannya menempuh pendidikan tinggi, ia harus meminjam uang awal untuk biaya kuliah. Perjuangannya untuk menyelesaikan pendidikan tingginya cukuplah besar sebab orang tua laki-lakinya telah lama meninggal dunia sehingga sebagian besar biaya kuliahnya harus ia cari sendiri, belum lagi jarak tempat perkuliahan yang lumayan jauh dengan akses transportasi yang serba terbatas sebab ia tidak punya speda motor sebagai alat transportasi pribadinya. Namun demikian, ia tidak patah semangat demi mendapatkan gelar sarjana.

Selama kuliah, pagi harinya ia gunakan untuk berjuang di PAUD Miftahul Qudsi Dusun Lenggorong dan MTs Maraqitta’limat Lenggorong. Sebagai seorang TU, ia harus masuk setiap hari dan mengerjakan tugas-tugas administrasi serta tugas mengajarnya. Belum lagi ia harus mengisi jam mengajar di PAUD. Di PAUD ia mengambil jam mengajar selama tiga hari dan selama tiga hari itu ia masuk siang atau mulai mengajar di MTs Maraqitta’limat Lenggorong setelah ia pulang dari PAUD. Sore hari-nya ia gunakan untuk mengikuti perkuliahan. Untuk pergi kuliah, ia sangat susah sebab waktu awal-awal kuliah hingga smester empat ia belum memiliki alat transportasi sendiri. Untungnya waktu itu ia punya seorang teman yang selalu bersedia membonceng-nya pulang pergi dan jika temannya itu tidak masuk kuliah maka ia-pun tidak bisa masuk kuliah sebab waktu itu di sekitaran Desa Sambik Elen belum ada ojek, apalagi angkutan umum berupa mobil umum.


Untuk menunggu teman-nya itu, setiap hari Murniati harus nongkrong di pertigaan Dusun Lenggorong. Teman-nya yang selalu memboncengnya waktu itu adalah Ruspaidi dan terkadang pula ia dibonceng oleh Jadiwardian (Kepala Desa Bilok Petung) yang juga searah dengan-nya. Ruspaidi merupakan salah seorang teman sekelasnya yang berasal dari Dusun Bawak Nao Desa Sajang dan Jadiwardian berasal dari Dusun Landean Desa Bilok Petung. Tidak jarang Murniati, menunggu kedatangan Ruspaidi hingga sore hari dan orang yang ditunggunya itu tidak kunjung datang sehingga ia harus pulang dan tidak dapat mengikuti perkuliahan, yaa maklumlah waktu itu Murniati belum memiliki media komunikasi berupa handpone dan sejenisnya.

Tahun 2008, ia ikut sebagai salah seorang Anggota PKK Desa Sambik Elen dan kegiatan sebagai anggota PKK ia laksanakan hingga sekarang. Di Lembaga PKK Desa Sambik Elen, Murniati berjuang bersama Desi Sri Sandy yang dimana mereka sama-sama mengampu tugas sebagai Ketua Pokja Tiga yang mengurus masalah sandang, pangan dan papan. Murniati bertugas sebagai Pokja Tiga di Dusun Lenggorong dan Desi Sri Sandy bertugas seabagi Ketua Pokja Tiga di Dusun Sambik Elen II, namun mereka selalu bekerja sama dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab untuk melakukan pembinaan bagi warga kelompok wanita Desa Sambik Elen.

Pada tahun yang sama (2008), Murniati juga dipercayai untuk memegang jabatan Bendahara Bumdes Desa Sambik Elen. Jabatan ini didapatkannya sebab teman-temannya mengenal Murniati sebagai orang yang ulet dalam mengelola administraasi keuangan. Maklumlah, sejak tahun 2007 ia bekerja sebagai Tata Usaha di MTs Maraqitta’limat sehingga secara tidak langsung ia banyak belajar mengenai tatacara pengelolaan keungan dengan segala administrasinya.

Pada tahun 2009, Murniati dinikahi oleh Budisartono yang merupakan salah seorang warga Praya Lombok Tengah. Waktu itu, perjuangan Murniati hampir saja terhenti, baik perjuangan menjadi seorang guru ataupun sebagai seorang mahasiswi. Di awal pernikahannya, sang sumai sempat meminta Murniati untuk berhenti mengajar dan kuliah. Sempat selama hampir tiga bulan sejak penikahannya, ia tidak pernah datang ke madrasah sebab suami-nya membawa-nya tinggal di Peraya Lombok Tengah.

Selama awal pernikahan-nya itu, Murniati harus berjuang meluluhkan hati suami-nya supaya ia diberikan kesempatan untuk melanjutkan perjuangannya di MTs Maraqitta’limat Lenggorong, serta melanjutkan kuliah-nya yang tinggal empat smester. Selam belum mendapatkan izin dari sang suami, perempuan yang teguh dalam berjuang itu merasa hidup-nya tidak sempurna sebab ia selalu merindukan wajah murid-muridnya yang setiap hari meriuhkan harinya. Setelah melalui pembicaraan yang panjang dan pertimbangan yang matang, Ahirnya, sang suami-pun mengizikan Murniati untuk melanjutkan perjuangannya merintis pendidikan di daerah terpencil itu. Suami-nya juga bersedia untuk ikut tinggal di Dusun Lenggorong Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan, serta mencari pekerjaan di sana.

Tentunya, Murniati sangat bahagaia dan bersykur atas keputusan suami-nya. Perjuangan panjang-nya belum terhenti sampai di sana. Perjuangan-nya untuk menyelesaaikan pendidikan tinggi-nya masih berlika-liku. Murniati kembali ke PAUD dan madrasah, sebagaimana sebelum-nya, ia aktif bahkan lebih aktif lagi mengajar. Ia juga masih aktif sebagai anggota PKK Desa Sambik Elen, namun karena selama hampir empat bulan tinggal di kediaman suami-nya maka posisinya sebagai Bendahara Bumdes Desa Sambik Elen digantikan sehingga setelah kembali menetap di Sambik Elen, ia aktif sebagai anggota Bumdes saja.

Terkait dengan masalah kuliah-nya, sejak menikah ia dianggap cuti oleh pihak pengelola perkuliahan-nya sehingga waktu itu ia harus menyelesaikan masa cuti-nya selama enam bulan. Pada awal tahun 2010, ia kembali melanjutkan kuliah dan ikut pada perkuliahan smester enam. Kini ia semakin kesulitan untuk melakukan perjalanan-nya menuju tempat perkuliahan sebab ia tidak lagi menempuh mata kuliah yang sama dengan Ruspaidi yang dulunya selalu setia memberinya tumpangan. Waktu itu, Murniati pergi kuliah menggunakan sepeda motor butut milik suaminya sedangkan suami-nya bekerja sebagai sopir yang terkadang membawa mobil dari Lombok Tengah dan kadang juga membawa mobil angkutan umum milik pengusaha jasa transportasi yang ada di sekitaran Bayan Lombok Utara.

Sepeda motor itu digunakan dengan sebaik mungkin oleh Murniati, tidak jarang ia menjadi ojek pada saat ia berangkat kuliah dengan membawa muatan yang menuju arah Desa Anyar Kecamatan Bayan. Hal itu, ia lakukan untuk menambah uang bensin-nya dalam melakukan perjalanan menempuh perkuliahan. Perempuan yang satu ini memang gigih dan ia tidak pernah mengeluhkan keadaan-nya yang demikian sulitnya. Niat ikhlas-nya menuntut ilmu demi berjuang membangun masyarakat-nya lewat dunia pendidikan membuatnya terus dan terus tegar dalam memperjuangkan cita-cita dan tujuan hidup-nya.

Kehidupan seorang Murniati, tidaklah mudah sebab setelah menikah ia masih tetap harus berjuang demi keluarga barunya, madrasah, masyarakat dan berjuang menyelesaikan kuliah-nya, sedangkan penghasila-nya sangatlah minim. Ia hanya memperoleh pendapatan dari tanah perkebuanan jambu mente yang merupakan tanah warisan dari orang tuanya dan penghasilan suami-nya sebagai seorang sopir angkutan umum yang anemonya mempunyai pendapatan yang tidak menentu. Tanah perkebunan-nya tidak terlalu luas dan dari tanah perkebunan itu, ia hanya memperoleh penghasilan musiman sehingga untuk memenuhi biaya kuliah-nya, Murniati harus banyak berhutang.

Pada ahir tahun 2010, Murniati melahirkan anak pertama-nya (Lidiniati Lillah) dan ia harus mengambil cuti kuliah selama satu tahun. Semasa cuti melahirkan itu, ia senantiasa aktif mengajar di madrasah pada pagi hari dan sore harinya ia gunakan untuk bekerja di lahan perkebunan-nya. Waktu itu, kehidupan ekonomi Murniati dan suami-nya masih serba kekurangan, mereka belum punya rumah sendiri dan menumpang di rumah orang tua-nya. Awal tahun 2011, Murniati kembali melanjutkan kuliah-nya. Sebagai biaya melanjutkan pendidikan-nya, ia harus menjual motor milik suami-nya. Alhamdulillah Budi selaku seorang suami senantiasa mendukung keinginan istrinya untuk menamatkan pendidikan tinggi-nya.

Pada tahun 2012, Murniati aktif sebagai Ketua Kelompok Wanita Dusun Lenggorong dan ia kerap mengikuti kegiatan pelatihan pengembangan usaha kreatif. Sekitaran pertengahan tahun 2012, Kelompok Wanita Dusun Lenggorong mendapatkan pelatihan pembuatan Tortila (Jajanan yang dibuat dari bahan dasar ubi kayu, jagung dan tepung beras). Setelah mendapatkan pelatihan itu, Murniati dan beberapa orang teman-nya di Kelompok Wanita Dusun Lenggorong memperdalam pengetahuan mengenai cara pembuatan Tortila sehingga ia cukup mahir dalam membuat Jajan Tortila.


Mulai awal tahun 2013, Murniati bekerjasama dengan Wiliana Fadriah dan Parida Ariani untuk mengembangkan usaha pembuatan Tortila. Lewat usaha kreatif tersebut, Murniati dan kedua orang anggota kelompok-nya itu bisa memperoleh tambahan pendapatan. Murniati dan kedua orang patner-nya, membuat, mengemas dan menjual Tortila dan tidak jarang mereka mendapatkan pesanan dari luar Desa Sambik Elen. Usaha kecil itu mereka kembangkan hingga sekarang sebagai salah satu usaha untuk memperoleh tambahan pendapatan guna mencukupi kebutuhan rumah tanga mereka. Murniati juga mengajarkan cara pembuatan tortilla kepada peserta didik MTs Maraqitta’limat Lenggorong.

Pada tahun 2013, perempuan desa yang gigih berjuang itu juga diberikan tugas sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Dusun Lenggorong. Lewat kelompok ini, Murniati dan anggotanya bekerjasama membangun masyarakat dalam aspek pertanian. Sejak aktif sebagai Ketua Kelompok Tani Wanita, ia menjalin kerjasama yang baik dengan Desi Sri Sandy yang juga merupakan rekan kerja-nya di MTs Maraqitta’limat, hanya saja kelompok yang dipinpin oleh Desi lebih berprestasi dari pada kelompok yang dipegang oleh Murniati. Namun demikian, Murniati juga mengembangkan Budidaya Tanaman Holtikultura di pekarangan rumah-nya dan kegiatan-nya tersebut juga menjadi inspirasi bagi warga Dusun Lenggorong untuk memanfaatkan pekarangan-nya sebagai lahan Budidaya Tanaman Holtikultura. Lewat usaha Tortila dan Budiaya Tanaman Holtikultura, Murniati memperoleh tambahan penghasilan yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan biaya kuliah-nya.

Budi terus berjuang membatu istrinya, bahkan pada sekitaran tahun 2013 Budi sempat mendaftar sebagai Tenaga Kerja Indonesia dengan tujuan negara Arab Saudi dengan tujuan untuk mencari rizki guna meningkatkan prekonomian keluarga-nya dan mencari biaya untuk menyelesaikan kuliah istri-nya. Namun sayang, Budi hanya sampai di Jakarta sebab ia ditipu oleh tekong-nya sehingga niat-nya untuk menjadi TKI di tanah Arab Saudi harus terputus. Atas kejadian itu, perekonomian keluarga mereka semakin terpuruk. Meski-pun demikian, Murniati tidak patah semangat untuk menamatkan pendidikan tinggi-nya yang meskipun ia harus berhutang lumayan besar.