Rama Hanya Ingin Kaki Palsu

Tahun 2015 silam, menjadi tahun yang begitu kelam bagi Syahrul Ramadhan, remaja berumur 15 tahun, asal Lingkungan Doro Ngao, Kelurahan Kandai 1, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu. Saat itu, berniat untuk menyaksikan meriahnya acara perhelatan event Tambora Menyapa Dunia (TMD) yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, harus pupus ditengah jalan. Saat menuju lokasi acara, dia mengalami kecelakaan hebat hingga kehilangan kaki kirinya yang terpaksa diamputasi karena patah. Syahrul Ramadhan yang akrab disapa Rama itu, harus hidup dengan kondisi tubuh cacat permanen tanpa sepasang kaki yang sempurna. Untuk melanjutkan hidup dan meraih cita-cita, dia hanya mengandalkan tongkat agar bisa berjalan, itupun masih sangat sulit dan menghambat aktivitasnya sehari-hari termasuk sekolah. Faktor ekonomi keluarga yang menjadi penghalang ketika dirinya menginginkan kaki palsu. Tak ingin dipencundangi oleh jaman hanya karena tidak mengenyam pendidikan, Syahrul Ramdhan yang masih duduk di bangku Kelas Dua SMPN 7 Dompu itu, memutuskan untuk tetap bersekolah meski kondisi tubuh tidak sempurna seperti teman-temannya yang lain. Keadaan cacat dan ejekan dari orang bukanlah masalah besar yang harus menghancurkan semangatnya.

Sebagai insan manusia, Syahrul Rmadhan tetap membayangkan hidupnya yang dulu ketika memiliki sepasang kaki yang utuh. Terkadang timbul rasa iri hati ketika melihat teman-temannya yang memiliki kaki yang sempurna. Meski tidak mungkin untuk mendapatkan kembali kaki aslinya, dia berharap akan adanya kaki palsu. "Tidak banyak yang saya harapkan, hanya sebelah kaki palsu agar saya bisa berjalan normal seperti teman-teman yang lain," harap Muhammad dengan raut wajahnya yang sedih.

Untuk mendapatkan kaki palsu, tak jarang dia harus membatu kedua orang tuanya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupaih agar dapat membeli kaki palsu. Tak tahu berapa banyak uang yang harus disediakan untuk mendapatkan kaki palsu ditengah kondisi ekonomi keluarga yang sangat buruk, bantuan serta uluran tangan dari para dermawan sangat dia harapkan. Rama hanyalah satu dari sekian juta orang yang bernasib sama dengannya, meski kondisinya sangat memprihatinkan, namun dia tidak ingin memandang ke atas. Karena masih ada banyak orang yang lebih buruk dan lebih mengenaskan dari dirinya.

Kehilangan kaki bukanlan menjadi penghalang dirinya untuk tidak melanjutkan hidup, dia justru termotivasi karena menjadi warna dalam kehidupan.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru