Dedikasi Tuan Guru Kampung

Di lingkungan madrasah dan pesantren di Lombok, saya sering menemukan ustazd-ustazd dan tuan guru yang hidupnya sangat sederhana. Tidak banyak keinginan dan mimpi. Tapi komitmen keummatan tidak perlu dipertanyakan. Padahal ilmu dan pengalaman hidupnya luar biasa. Saya kadang malu bertemu dengan orang-orang seperti itu.

Salah satunya, TGH.Maliki ini yang berasal dari Dusun Bangle, Desa Dasan Baru, Kecamatan Kediri. Beliau setiap hari bisa ditemui di Madrasah Hidayatuddarain. Di luar itu, siang atau malam ia menerima seabrek undangan pengajian, mengajar anak-anak mengaji di rumahnya, undangan takziah, resepsi dan lain-lain. Oleh pengundang, semuanya berharap untuk di hadiri.

Suatu hari ia ditanya - ditengah seabrek kesibukan aktivitas dan undangan memenuhi undangan pengajian. Apa yang membuat dia bertahan mengajar di Madrasah Hidayatuddarain dengan segala keterbatasan yang ada, " Saya ingat amanat guru saya tuan guru Ahmad Asy'ari" jawabnya. Ya, almarhum TGH.Ahmad Asya'ari merupakan pendiri Ponpes dan Madrsah Hidayatuddarain serta salah seorang murid dari TGH. Saleh Hambali, Bengkel - pendiri Ponpes dan madrsah Daarul Qur'an, Bengkel.

Dan ketika saya berikan buku baiografi TGH. Saleh Hambali dia senang sekali. Ia merasa diingatkan dan disambungkan kembali sanad keilmuan gurunya. Kali ini saya memberikan buku lama saya, "SBY, TGB, BM : Esai-esai Reflektif dari dan tentang NTB".

Pada ustazd dan tuan guru-tuan guru kampung itu, kita sering menemukan kedalaman dan hikmah ilmu yang tidak kita temukan dalam buku, forum-forum seminar dan pengajian-pengajian umum yang seringkali pembahasan hanya sampai permukaan. Itu kadang hanya membuat kita tahu tapi tidak memahami apa lagi mendalami. Mereka inilah benteng dan penjaga tradisi kultural Islam Aswaja di Lombok. []

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru