Jimat Nahdlatul Ulama (NU)

Beberapa bulan lalu di kantor SOMASI NTB Jalan Rembang saya menemukan Majalah TEMPO, edisi lama. Saya lupa edisi, bulan dan tahun terbitnya. Tapi yang pasti itu bulan dan tahun Gus Dur akan dipinang oleh elit partai yang disebut Poros Tengah dipimpin oleh Amin Rais.

Di majalah TEMPO itu saya menemukan wawancara alamarhum KH. Muhitd Muzadi, kakak kandung almarhum KH. Hasyim Muzadi, mantan ketua PBNU dua periode dan anggota Watimpres Jokowi-JK. Konteks wawancara TEMPO saat itu mengenai wacana mendorong Gus Dur menjadi presiden. Gus Dur pernah bilang bersedia tidaknya dia menjadi calon presiden tergantung restu kyai-kyai khos Nahdlatul Ulama (NU).

"Saya kalau kyai-kyai khos yang perintah, masuk api pun saya siap"katanya mengandaikan kepatuhannya kepada kyai-kyai khos NU.

Dalam wawancara itu Kyai Muhitd memberi warning dan peringatan kepada publik khususnya kepada tokoh-tokoh partai Islam poros tengah yang akan mengusung Gus Dur jadi calon president. Saya ingat beliau menyebut Gus Dur sebagai ajimatnya NU. "Gus Dur itu ajimatnya NU. Yang namanya ajimat, pemiliknya saja kalau salah cara menggunakan bisa berbahaya, apa lagi orang yang bukan pemiliknya" katanya.

Kiasan Kyai Muhitd tentang Gus Dur itu menunjukkan penting dan sangat berpengaruhnya seorang Gus Dur bagi NU. Ia bukan hanya memiliki banyak kelebihan personal yang tak dipunya orang lain tapi juga cucu Hadratus Syekh Kyai Hasyim Asy'ari, pendiri NU dan putra Kyai Wahid Hasyim, perumus konstitusi bangsa Indonesia dan mantan mentri agama RI. Karna itu ia mengingatkan jangan main-main dengan ajimat NU itu bila tidak mau kuwalat dan berhadapan dengan jutaan orang jamaah NU.

Kedekatan Kyai Muhitd dengan Gus Dur pun tergambar ketika Gus Dur menyebut Kyai Muhitd dengan sebutan 'ulama intelektual' - seorang ulama yang memiliki pengetahuan agama yang luas dan pandai membahasakan ajaran agama secara rasional, kontektual dan ilmiah sehingga umat mudah memahami ajaran Islam. Pengetahuan agama kyai Muhitd bahkan terbukti sering membuat kagum para profesor-profesor agama dari dalam dan luar negeri.

Lahul Fatihah...untuk dua ulama cendikia dan tokoh bangsa NU KH.Abdurrahman Wahid dan KH. Muhitd Muzadi Rahima Kumullah.[]


sumber foto : http://news.liputan6.com/read/2942465/kisah-gus-dur-soeharto-dan-teladan-pemimpin

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru