Kisah Sukses Pemulung Tua Asal Yogyakarta

Pilihan pekerjaan tak jarang membuat orang untuk berpikir pajang, alasannya beragam, mulai dari gengsi, hasil yang tidak sesuai, mengancam kesehatan dan keselamatan dalam bekerja dan lain lainnya. Namun, pilihan untuk pekerjaan juga tak jarang disesuaikan dengan kondisi tubuh atau umur. Seperti yang dilakoni oleh laki-laki paruh baya asal Kota Yogyakarta ini. namanya Kakek Jamal, 67 tahun. Pekerjaan yang dilakoninya sesuai dengan umur dan kondisi tubuhnya, yaitu sebagai seorang pemulung sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kabupaten Dompu Desa Bara, Kecamatan Woja.

Bertahun-tahun menjalani pekerjaan sebagai pemulung di tanah orang, ternyata membuat dirinya bisa meraih kesuksesan dalam mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan dan membangun rumah yang layak untuk anak-anaknya tempati. Saat ini, satu orang anak laki-laki nya bekerja di salah satu Pelabuhan di Kota Surabaya.

Kehadiran Jamal di Bumi Nggahi Rawi Pahu, berawal dari ajakan temannya untuk bekerja sebagai buruh bangunan. Saat itu, dia bekerja sebagai buruh di pembangunan Lapas Kelas II B Kabupaten Dompu. Tak lama dia bekerja sebagai buruh bangunan, ia pun mulai berpikir untuk melakukan pekerjaan lain yang sesuai kondisi tubuhnya. Ditambahkan lagi dengan tuntutan kebutuhan ekonomi yang mendesak. Menjadi pemulung, merupakan salah satu alternatifnya untuk meraih pundi-pundi rejeki Allah, bertahun-tahun ia geluti dengan penghasilan yang tak seberapa.

Namun atas kegigihannya dalam bekerja dan sikapnya yang rajin menabung, ia pun mampu mengumpulkan uang dalam jumlah yang banyak. Saat ini, Jamal bisa meraup uang hingga jutaan rupiah dalam kurung waktu sebulan dari hasil dirinya memungut sampah yang layak pakai (daur ulang) seperti, botol plastik air mineral, kotak kardus, plastik tenteng dan jenis lainnya. Meskipun pekerjaan yang ia geluti tergolong cukup mudah untuk dilakukan oleh setiap orang, akan tetapi ada tantangan dan konsekuensi tersendiri yang harus dihadapi. Diantaranya, harga jual barang bekas yang dikumpulkan yang cukup mengiris hati, yaitu berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 1. 500 per kilo nya, itu pun tergantung jenis barang yang dikumpulkannya. Misalkan, kardus bekas, Rp 1.500 per kilo, botol plastik, Rp 1.300 dan plastik tenteng Rp 1.000 per kilo.

Belum lagi, barang yang dia kumpulkan dianggap tidak layak oleh para pengepul. Tidak hanya itu, pekerjaan ini juga rentan mendatangkan berbagai jenis penyakit yang setiap waktu dapat mengancam kesehatan jiwanya. Hanya saja, mampu diobati olehnya berkat hasil kerjanya. Pria kelahiran tahun 1950 itu, cerita banyak tentang kisahnya sebagai pemulung.

Saat memulung, pada setiap harinya dia tidak langsung menjual hasilnya, melainkan dikumpulkan dengan tenggang waktu 15-20 hari, bahkan hingga satu bulan. Dengan begitu, dirinya mampu mengumpulkan barang bekas mencapai 400-800 Kg. Dengan begitu dia mampu mendapatkan uang yang cukup banyak "Inilah pekerjaan yang sehari-hari saya lakukan. Kadang hasilnya pun tak tentu, kadang banyak kadang sedikit. Tapi namanya pekerjaan ya harus dilakukan, demi untuk makan dan kebutuhan lain," begitulah kata Kakek Jamal yang sudah lama ditinggal mati istrinya itu.

Kakek Jamal yang tinggal tidak jauh dari TPA Bara, (lokasi memulung sampah) tidak ingin menyia-nyiakan waktu dalam bekerja. Waktu bekerjanya diatur selayaknya para pekerja kantoran, kakek Jamal datang ke TPS sekitar Pukul 06.00 Wita, kemudian melakukan aktifitasnya. Sementara untuk waktu istrahatnya dia ambil sekitar pukul 10.00 Wita. Setelah itu, memasuki pukul 16.00 Wita, dirinya harus pulang ke rumahnya untuk mempersiapkan makan setelah ia anggap barang yang dikumpulkan cukup banyak. “Alhamdulillah dengan memulung ini saya bisa dapat hasil sampai Rp 6 juta tiap bulannya. Kadang Rp 4 juta juga kalau kurang sehat. Saya datang ke sini (TPS) pagi pulangnya jam 10.00. Kalau sorenya jam 16.00 Wita saya sudah di rumah,” kata Kakek Jamal.

Setiap harinya, kakek Jamal terus melakukan aktivitas rutinitasnya itu. Meskipun dalam keadaan menjalankan ibadah puasa, tidak menjadi alasan dirinya untuk tidak memulung. Meskipun demikian, di usiannya yang sudah memasuki senja, tidak tetap melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, yaitu sholat dalam lima waktu. () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru