Tikar Pandan Mempertahankan Warisan Nenek Moyang

Teknolgi modern telah menjangkit pada kehidupan masyarakat, namun tidak mengartikan jika kerajinan seni tradisional akan hilang. Di Lombok Timur, yaitu tepatnya  di Dusun Lendang Bunga, Desa Kalijaga, Kecamatan Aikmel, aktifitas masyarakat dalam kerajinan seni pembuatan tikar pandan masih tetap bertahan.


Kerajinan tradisional dalam pembuatan tikar daun pandan di Lendang Bunga banyak ditekuni oleh kalangan ibu rumah tangga. Kebanyakan mereka menjadikan pekerjaan ini sebagai sebagai pengisi waktu luang di rumah untuk membantu sang suami dalam meningkatkatkan perekonomian keluarganya.

Mungkin di daerah lain, kerajinan tikar sudah mengalami kepunahan karena tidak ada regenerasi.  Apalagi banyak tikar yang sudah disentuh oleh teknologi modern,dan memiliki harga murah dan tahan lama. Akan tetapi, pada wilayah Lombok Timur, yaitu khususnya di Dusun Lendang Bunga, bahwa meski harga tikar tidak sebanding dengan proses dan waktu yang digunakan untuk menyelesaikan satu lembar tikar, namun masih ditemukannya beberapa ibu-ibu rumah tangga yang tetap memilih mempertahankan tradisi  tersebut hingga sekarang. 

Inaq Murihin adalah salah satu pengrajin tikar pandan yang masih bertahan. Walaupun berkembangnya teknologi modern di tengah kehidupan masyarakat, ia pun tetap mengisi waktu luang di rumah untuk menganyam tikar yang terbuat dari daun pandan duri. Ia pun mengatakan bahwa selain pekerjaan ini adalah pekerjaan rumahan, melainkan juga adalah warisan dari nenek moyang yang harus dipertahankan sampai sekarang, bahkan sampai kepada anak cucu. Penguasaan keterampilan di bidang kerajinan tikar, tentu merupakan modal diri karena dapat menjadi peluang untuk mencari rezeki.


Inaq Murihin juga mengatakan bahwa beberapa puluh tahun lalu hampir semua gadis-gadis dan ibu rumah tangga  menggeluti kerajinan tikar. Banyaknya kaum perempuan yang tertarik pada bidang pekerjaan ini karena sulitnya mencari pekerjaan pada waktu itu. Selain itu, harga tikar pada saat itu masih lumayan. Hasil kerajinan tikar pun yang diproduksi di tempat ini banyak yang dikirim ke luar daerah, seperti Bali, Jawa, dan di Sumbawa dan sekitarnya. Bahkan karena tikar buatan dari dusun ini banyak diminati oleh pelanggan, sehingga berbagai penduduk dari luar datang ke tempat ini untuk memesan tikar dengan jumlah yang banyak. Tapi kini, harga tikar sama sekali tidak seimbang dengan lamanya waktu produksi. Satu tikar pandan yang berdiameter 1,5 meter hanya dihargai 35.000 rupiah. Begitupun juga waktu pengerjaan tikar cukup menyita waktu yang lama.

Seiring dengan perkembangan teknologi moderen semakin canggih, produksi tikar yang serba canggih dan bermerek bermunculan. Hal inilah mempengaruhi tingkat pemasaran tikar pandan di Lombok Timur mengalami penurunan. Di sisi lain, juga menyebabkan banyaknya pengrajin tikar pandan beralih profesi ke bidang lain. Dari sini pula banyaknya warga atau generasi muda yang mulai tidak memahami proses pembuatan tikar.Tapi bagi seorang Murihin, ia pun tetap bertahan dalam menggeluti profesi ini sebagai pengrajin tikar. Ia mengatakan bahwa walaupun harga tikar pandan telah mengalami penurunan, namun tetap melestarikan budaya dan warisan nenek moyang di bidang kerajinan seni ini. () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru