Belajar Kejujuran dan Kesabaran

Penampilannya sama sekali tidak mengesankan bahwa ia adalah seorang yang penting. Tubuh tinggi, agak kurus dengan muka oval. Wajah yang setiap hari di hiasi senyum dalam menghadapi setiap urusan, baik urusan duniawi ataupaun ukhrawi. H. Munawar (78) adalah salah seorang tokoh agama terkemuka di dusun Tampih, sebuah perkampungan yang berada di bagian selatan pulau Lombok.

Dusun tampih berada sekitar 12 KM dari Selong,  pusat kota di lombok timur, yaitu dibagian Sakra Barat, tepatnya di desa Rensing. Keseharian almarhum disibukkan oleh berbagai aktifitas, terutama menjadi ketua RW, ketua pengurus masjid nurul yaqin tampih, bahkan ia juga kerap dipercayakan menjadi ketua panitia amil zakat menjelang hari raya idul fitri. Selain karena pengetahuan ilmu agama yang tinggi, ayah tujuh anak ini juga mendapat kepercayaan yang sangat tinggi dari masyarakat. Selain kejujurannya beliau juga terkenal sebagai orang yang penyabar. Berkat  kejujuran dan kesabarannya, sosok H. Munawar (alm) pernah diangkat menjadi pengurus sekaligus ketua panitia pendiri madrasah Diniah Islamiah tahun 1980. Namun, setelah menginjak umur 70 tahun almarhum mulai jarang aktif di tingkat desa, karena sering sakit-sakitan. Walaupun demikian, kepercayaan terhadap almarhum masih berlanjut, beliau masih dipercayakan sebagai panitia utama pembangunan masjid nurul yaqin tampih.

Sore itu suasana pemakaman cukup panas, matahari seakan-akan enggan terbenam  mendengarkan kata demi kata yang disampaikan Maskum H. Zainul Hadi salah seorang kerabat dekat yang sekaligus menjabat sebagai kepala desa Rensing. Ia menyatakan bahwa almarhum adalah sosok yang tidak pernah marah selama hidupnya.

“kalau dilihat selama hidupnya, almarhum itu bisa di nobatkan sebagai orang tersabar di NTB. Dan kesabaran almarhum ini sangat pantas untuk jadi pelajaran” ungkapnya ketika memberikan kata ta’ziah di hari pemakaman H. Munawar (29/05).

Dengan girangnya pak kades menceritakan perihal kejujuran beliau ketika ia meminta almarhum untuk memilihnya pada pemilu kepala desa tahun 2008. Karena sudah merasa saudara H. Zainul hadi meminta do’a dan dukungan kepadanya, namun dijawab dengan jawaban yang tiada pernah terkira dalam pikirannya.

Dengan senyum khasnya, kades mengungkapkan “ almarhum Cuma jawab maaf dek walaupun kita saudara tapi saya Cuma bisa kasih do’a karena dukungan sudah ada duluan yang dapat”.

Ketika tidak ada pekerjaan di desa almarhum lebih banyak beraktifitas di ladang. Pagi yang dingin, rerumputan masih berselimut embun pagi. Matahari baru menampakkan diri dari ufuk timur. Sebelum berangkat, ia menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi dan sebatang rokok. Keseharian almarhum disibukkan dengan bekerja disawah yang letaknya sangat jauh, apalagi di usia yang sudah mencapai lansia. Namun aktifitas itu almarhum jalankan dengan penuh kesabaran dan ulet. Sesampainya di ladang, ia disambut hamparan permadani hijau yang menyejukkan mata. Suara burung saling bersahutan menambah damai suasana di ladang yang tidak terlalu luas, hanya berukuran beberapa meter saja. Ladang sederhana itu di tanami berbagai macam tanaman musiman, salah satunya adalah tanaman padi dan beberapa tanaman lainnya.

Dengan mata berkaca-kaca opik menceritakan perihal riwayat kehidupan H. Munawar (alm) yang sabar. Opik adalah salah satu diantara dua putra terakhir  H. Munawar (alm) yang belum berkeluarga. Ia menceritakan bahwa almarhum adalah sosok yang tidak mudah marah, dan menjaga tutur kata dalam berbicara dengan orang lain. Ia juga membeberkan perihal almarhum pernah menerima ilmu khusus yang setiap penerimanya diwajibkan memilki kesabaran yang tinggi.

“kalo sudah pernah menerima ilmu wirid itu memang harus di imbangi kesabaran yang tinggi” tutur taufik.  

Kini tokoh agama yang selalu menjadi panutan telah hilang. Tubuh yang setiap hari tegar menjalani aktifitas dan selalu siap, kini telah terbaring lemas dibalik gundukan butiran-butiran berwarna coklat kemerahan. Masih terlihat sepasang bambu muda berwarna hijau tua menancap diatas gundukan tanah tersebut, sebagai tanda gundukan tanah itu baru berumur beberapa hari.

Almarhum menghadap sang ilahi dengan meninggalkan kenangan-kenangan manis yang sudah terpatri dengan kuat dan tidak akan  terlupakan, pergi denga jasa-jasa yang tiada terkira bentuknya.  Mulai dari pengabdian kepada masyarakat, negara, pendidikan dan masih banyak lagi. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru