Sosok Wibawa Pemersatu Pemuda

Laki-laki periang dengan janggut yang lebat serta air mukanya yang tenang membuatnya tambah berwibawa, dengan kontur tubuh atletis membuatnya tampak tegas. Pautan jas hitam dengan sorban dan peci putih menjadi hal yang identik dengannya, kebersahajaannya membuatnya mudah dikenang dan dikenal khalayak luas, walaupun begitu ia enggan disebut populer. Keengganannya itu menjadikannya sosok yang benar-benar disayangi masyarakat, serta sikapnya yang egaliter membuatnya menjadi bagian dari masyarakat seutuhnya. Sosok yang tenang ini seringkali tidak bisa dibedakan dengan kekokohan karang sebab sama-sama teguh dan kuat diterjang gelombang. Begitulah sekilas gambaran sosok pribadinya yang menjadi inspirator bagi pemuda di dusun Mesanggok.

Sosok yang menginspirasi ini ialah tokoh remaja di Dusun Mesanggok, H. Sahbandi biasanya Ia dipanggil. Ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, netral, dermawan, serta berwibawa. Hal itu sangat dibenarkan oleh para remaja Dusun Mesanggok, “ H. Sahbandi itu Cool, menurut kami dia sudah berhasil menjadi pemimpin remaja Mesjid. Dia sangat terbuka karena dia selalu mendengarkan dan menampung aspirasi kami yang tidak mampu ditangkap oleh pemimpin remaja Mesjid sebelumnya. Contohnya dulu ketika kami ingin membuat acara pentas seni dalam rangka memperingati hari Maulid Nabi di areal Masjid sering mendapat larangan dari para orang tua, alasannya ialah tidak sesuai dengan waktu dan tempatnya, alhasil rencana tersebut tidak pernah terlaksana. Tapi asyiknya sekarang H. Sahbandi hadir membawa solusi menjadi penengah antara remaja dengan orang tua untuk menemukan titik temu. Akhirnya pentas seni bisa dilaksanakan dengan ditambahkan nuansa Islami yang dirangkai dengan perhelatan seni budaya lokal. Dari situ kami sangat bahagia dan sekaligus bangga dengan sosok H. Sahbandi yang sangat keren”. Begitulah pemaparan panjang para remaja masjid Dusun Mesanggok.

Ditengah carut-marutnya kondisi pergaulan remaja dusun Mesanggok, H.Sahbandi hadir pasang badan sebagai ketua remaja guna mendalami masalah yang ada untuk diatasi. Melihat kerja kerasnya selama kurun waktu 3 tahun ini H. Sahbandi menjabat sebagai ketua remaja mesjid, upaya susah setengah mati dalam membina remaja supaya bisa diarahkan kearah yang positif tentunya bukanlah hal yang mudah baginya, mengingat kondisi remaja waktu itu yang masih labil dimana ego, rasa tinggi hati yang menyulut aksi baku hantam menjadi fenomena yang sering terjadi pada remaja di dusun Mesanggok. Akan tetapi berkat kerja kerasnya yang didasari dengan keikhlasannya menghantarkannya kepada keberhasilan. Adapaun yang menjadi andalan H. Sahbandi ialah penerapan sikap ikhlas menjadi satu-satunya modal utama yang membuat hati terasa ringan dalam berbuat. Hal tersebut tergambar dari perkataanya “sebenarnya hidup itu sederhana saja, tidak usahlah hidup ini terlalu direncanakan. Sama halnya dalam hal membina generasi muda saat ini, saya tidak pernah merencanakan apapun melainkan saya berbuat dengan hati ikhlas disertai dengan niat baik, isyaallah nanti Allah akan membukakan pintu keberhasilan ditengah usaha kita, sebab tugas kita bukan untuk berhasil melainkan untuk berusaha. Dari usaha tersebut akan menciptakan hal yang baik sebab keajaiban Tuhan akan hadir ditengah hati yang ikhlas dalam berusaha”.

Melihat kesuksesannya dalam membina remaja di dusun Mesanggok, tanggapan positif-pun hadir dari tokoh masyarakat lain seperti Kadus dusun Mesanggok “setelah saya melihat aktivitas remaja di dusun kami, saya sangat berterima kasih kepada H. Sahbandi dan sekaligus bangga terhadap remaja di sini. Banyak hal yang dulunya menurut saya sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dilakukan sekarang menjadi mungkin. Contoh kecilnya saja, mereka mengadakan yasinan bersama di masjid maupun di kantor desa pada malam jum’at, yang jadwalnya mereka atur sendiri sesuai kebutuhan. Yasinan tersebut diprakarsai oleh remaja kemudian di inisiasi oleh H. Sahbandi sebagai program mingguan yang nantinya ini bisa menjadi titik tolak kemajuan remaja dusun Mesanggok. Selain untuk menciptakan remaja yang beriman, yasinan ini juga bertujuan untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan antara remaja blok timur dengan blok barat yang selama ini kita ketahui keduanya tidak pernah akur. Yasinan ini juga menjadi ajang menyaring serta menampung apa-apa saja yang menjadi masalah utama di kalangan remaja pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Dari hal tersebut, saya berpendapat bahwa H. Sahbandi sudah berhasil membawa remaja kearah yang lebih baik terutama dalam hal menyatukan persatuan dan kesatuan rema dusun Mesanggok”.

Hadirnya sosok ketua remaja yang baru tentunya telah membawa perubahan yang sangat siginifikan baik dalam pola pikir serta tingkah laku remaja yang semakin mengarah ke hal yang lebih positif, dan bukan hanya itu dengan berubahnya pola pikir serta tingkah laku remaja tersebut berdampak pada sistem keamanan dusun yang menjadi lebih kondusif. Tentunya hal ini sesuai dengan tanggapan dari penjaga keamanan kampung yaitu Hansip, “semenjak H. Sahbandi menjabat sebagai ketua remaja di dusun ini saya merasa ada perubahan besar, mengingat ketika sebelum ia menjabat, banyak warga yang resah dengan aktivitas remaja pada malam hari. Banyak sekali saya jumpai remaja yang nongkrong depan kios-kios di pinggir jalan nyanyi-nyanyi nggak karuan, itu sangat mengganngu sekali. Belum lagi banyak remaja terlibat perkelahian sesama remaja, konsumsi alkohol dan bahkan ada yang kedapatan membawa obat-obatan terlarang. Akan tetapi saat ini, semenjak H. Sahbandi menjadi ketua Remaja, intensitas kenakalan remaja semacam itu sudah berkurang bahkan sudah tidak saya temukan lagi. Mereka sekarang lebih sibuk dengan hal-hal yang bermanfaat seperti, bersih-bersih masjid dan juga lingkungan sekitar.sekali lagi saya sangat berterima kasih kepada H. Sahbandi karena telah membawa perubahan yang baik di dusun Mesanggok ini”. itulah jawaban seorang penjaga keamanan mengenai sosok H. Sahbandi.

Baik, berwibawa, netral dan juga sederhana serta sosok wibawa pemersatu remaja, begitulah sosok H. Sahbandi di mata mereka, dimata masyarakat Mesanggok. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita sematkan gelar kepada H. Sahbandi ini dengan sebutan "penyambung tali yang putus, perekat gelas yang pecah”. Gelar tersebut sangat cocok, mengingat keberhasilannya menumbuhkan rasa solidaritas antar remaja dusun Mesanggok, serta keberhasilannya membawa perubahan bagi dusun Mesanggok.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru