Sahlan Coral, Petinju Nasional Asal Lombok Barat

Bajang dan dedare Lombok Barat (Lobar) ternyata memiliki multi talenta. Talenta itu tidak saja dari sisi edukasi, entertaint tapi juga dari sisi olah raga. Di bidang olah raga, lihat saja salah satu bajang asal dusun Peseng, Desa Taman Ayu kecamatan Gerung yang sukses menjadi Petinju peringkat satu nasional. Dia adalah Sahlan Coral. Apa cerita Inaq Inah, ibunda Sahlan Coral tentang suka duka anaknya? Berikut paparannya.

Rencana hari ini bertemu dengan Sahlan sudah mantp. Jalan aspal menuju dusun Peseng memang mulus. Tak ada aral berarti bagi sejumlah alat transportasi, meskipun bis dan kendaraan operasional formal jarang memasukinya. Yang ada hanya cidomo, roda dua, open cup, dan sebagain kecil kendaraan lux yang keluar-masuk dari dan ke kota Mataram. Tetapi yang mendominasi adalah, kendaraan dum truck yang lalu lalang keluar masuk desa setempat. Katanya, dum tuck ini yang mempasilitasi para penambang ilegal maupun legal dalam usaha tambang tanah urug maupu batu gunung.

Mulusnya inprastruktur jalan Ini sebagai bukti bahwa, pembangunan di gumi Patut Patuh Patju ini terus menggeliat. Dampaknya dari sisi ekonomi masyarakat cukup baik pula, karena transportasi keluar-masuk desa Taman Ayu tak terbatas. Namun kondisi topografi dengan pegunungan yang sebagian besar rusak, membuat pemandangan tak elok dipandang mata. Ditambah lagi, bahu jalan kiri-kanan, selalu ditutupi batu gunung dan batu koral. Dengan kondisi ini, kalau tak ingin celaka, pejalan kaki maupun pengendara harus ekstra hati-hati.

Menaikkan batu koral ke atas dum truck, merupakan salah satu sumber mata pencaharian warga setempat, termasuk Sahnan, petinju nasional yang  tidak pernah duduk di bangku SMA itu.  Sekitar 30 menit perjanan dari Gerung, akhirnya aku menemukan rumah Sahlan. Tapi sang petinju yang kami cari ternyata tidak ada di tempat. “Sahlan ada di Bali mau bertanding, baru dua hari yang lalu berangkat dari sini”, sapa seorang lelaki dengan ramah menyambut. Lelaki itu diperkirakan usianya sekitar 30-an tahun. Setelah terjadi dialog dan menceritakan kedatangan kami, lelaki itu bisa mengerti dan ternyata.....,dialah kakak kedua  Sahlan dari tiga bersaudara. “Saya nomer dua dan Sahlan saudara paling bontot” tambah lelaki itu setelah mempersilahkan kami duduk di teras depan. Tak sengaja aku memandang di sekeliling ruang tamu. Di tembok sebelah tergantung potret besar sang petinju dengan otot kekarnya. Didekatnya, di atas dan dalam lemari, terpajang sejumlah piala, medali, tropy serta sabuk juara. Hampir belasan jumlahnya, karena aku tak sempat mengitungnya.

Berselang sekian menit, datang lagi seorang wanita setengah baya. Jilbabnya terurai menutupi kepala. Wanita itu adalah, ibu kandung Sahlan, namanya Inaq sahnan. “Yaok, ape ken araq ne, aku ilaq” (Ada apa ini, saya jadi malu) wanita itu membuka percakapan setelah gabung turut duduk bersama kami. Setelah diceritakan maksud dan tujuan yang sebenarnya, Inaq lalu bercerita masa lalunya bersama keluarga dan anak-anaknya.

Tak ketinggalan pula, cerita tentang Sahlan kecil yang tak suka tempramen, namun penurut dan sabar. “Iye jarang ngeraos dait pelilaan,” (Dia pendiam dan pemalu), cerita Inaq yang kemudian kami menangkap kesan bahwa, betapa harmonisnya keluarga itu, apalagi Sahlan pun turut membantu ekonomi keluarga dengan mengangkut batu koral, sejenis batu pecah ke atas dum truck. Cerita Inaq, Sahlan kecil juga suka mencari ikan dan belut. Tentu saja hasil tangkapan Sahlan menjadi lauk dikala makan siang maupun malam bersama keluarga.

Inaq juga seakan tak pernah habis menceritakan kisannya bersama Sahlan. Sekali waktu, ketika sang suami masih hidup, Sahlan kecil dibuatkan Sansak terbuat dari karung yang berisi pasir. Alat inilah yang digunakan Sahlan untuk latihan tinju. “Memang Sahlan sejak kecil bercita-cita jadi petinju,” cerita kakak tertua Sahlan yang turut bergabung di atas teras.

Setelah tamat SMP, fisik Sahlan kian bagus, apalagi tiap hari ditempa pekerjaan yang mengandalkan fisik. Menaikkan batu koral ke atas dum truck, pekerjaan yang dinilai cepat menghasilkan uang. Akhirnya hari, minggu, bulan dan tahun terus bergelut. Fisik Sahlan kian sehat.

Melihat kondisi pekerjaan sebagai buruh menaikkan batu koral tidak tetap, maka Sahlan memutuskan untuk hijrah ke Bali. Di sini pun bajang kelahiran 12 Desember 1988 ini  menggeluti pekerjaan sebagai buruh menaikkan batu koral ke atas dum truck.

Kronologis Menjadi Petinju.

Suatu ketika, Sahlan mempunyai sahabat seorang supir taxi. Namanya, Nurimah. Melihat fisik Sahlan yang demikian bagus, sang supir menawarkan kalau Sahlan menjadi petinju saja. Tanpa pikir panjang, tawaran itu langsung diterima Sahlan. Keesokan harinya, dia diterima dan berlatih di sasana Mirah Boxing Camp (MBC) Bali. Di sini, Sahlan berlatih bersama Chris Jhon, Daud ‘Chino’ Yordan, Larry Siwu dan sederet petinju lainnya. Pelatihnya seorang warga asal Australia, Craigh Cristian.

Sang peltih melihat ada potensi pada diri Sahlan. Akhirnya oleh Craigh Cristian, Sahlan Coral diboyong ke Perth-Australia untuk bertanding melawan Mike Reid dari Scotlandia. Pertandingan ini berlangsung selama 6 ronde bertaraf Internasional. Pada ronde ke 4 Sahlan Coral, mampu memukul telak Mike pada ronde ke 4. Namun sang lawan mampu bertahan dan faight hingga akhir ronde. Dalam pertandingan ini, Sahlan Coral dinyatakan menang mutlkak dengan skor; 60-53, 59-54, 6—53.

Saat itulah awal berharga bagi Sahlan. Dirinya berterima kasih kepada Dragon Fire World Championship Boxing yang telah memberikan kesempatan bertarung, dimana banyak badan-badan tinju cenderung menjauhi tampilnya petinju-petinju asal Indonesia. Namun berkat dukungan Craigh Cristian, Sahlan Coral bersama pelatihnya Yance mandagi bekerja sama dengan MBC memberikan pendidikan dan pelatihan agar petinju Indonesia menjadi lebih baik.

Yang terakhir, Sahlan bertarung melawan Syamsul Hidayat dari Sasana Sakerah BC Pasuruan-Jatim. Pertarungan kedua petinju ini berlangsung di Kuta-Bali. Even ini menghadirkan faighter pemenang wilayah Asia Pasipik dan pemenang nasional dari Indonesia. Partai utama, mempertemukan Sahlan Coral, juara nasional kelas welter 66,6 Kg. dari MBC-Bali di bawah promotor Zainal Tayeb. Dalam pertandingan ini, Sahlan Coral mampu meng-KO lawannya pada ronde pertama. Dengan kemenangan ini, Sahlan kian naik daun, menjadi petinju paporit nasional, lebih lebih di daerah kelahirannya-Lombok Barat.

Pertarungan yang bertajuk exsibisi kenaikan peringkat ini berlangsung di Singapura. Lawannya dari Uzbekistan. Namun ketika dihubungi via ponselnya, Bajang kelahiran Desa Taman Ayu-Gerung ini, optimis mampu mengalahkan lawannya. “Tetap optimis dan berdoa kepada sang Khalik, agar semuanya bisa berjalan dengan baik”, demikian kata Sahlan mengiyakan pesan ibunya agar, sebelum bertanding dan setelah naik ring berdoa lebih dulu.

Box Record Sahlan Coral :

Menang                       : 15

Kalah                           : 4

Drow                           : 0

Menang KO/TKO         : 8

Gaya                            : Boxer

Rangking                     :151 dari 2.156 dunia

                                      1 dari 18 nasional

Kelas                            : Welter 66,6 Kg.

Kelahiran                     : Lombok Barat, 12 Desember 1988  

 

   

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru