Pelopor Pendidikan dari Jebuk


KM. Sukamulia – Muhammad Nasir, demikianlah nama seorang pemuda sederhana dengan kisah hidup yang sangat memperihatinkan itu. Tuhan menitipkannya pada keluarga yang penuh dengan kekurangan dan ia hanya dibesarkan oleh seorang ayah yang sudah renta sebab ibunya meninggal beberapa saat setelah ia dilahirkan. Dalam kondisi serba kekurangan, Nasir dapat menyelesaikan pendidikannya hingga bangku SMA dan dengan modal pengetahuan yang didapatkan di bangku SMA, pada tahun 2014 ia membangun Bimbel Bahasa Inggris (Bimbel Bawak Bageq) di Dusun Jebuk Desa Surabaya Utara Kecamatan Sakra Timur Kabupaten Lombok Timur yang kemudian membuatnya dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor Nasional Bidang Pendidikan pada tanggal 14 Oktober 2016.

Jika anda membaca sejarah hidup pemuda yang dilahirkan di Surabaya Lepak pada tanggal 31 Desember 1994 ini maka anda akan terharu biru sebab betapa sedih kisah hidup yang dijalani oleh pemuda tersebut. Muhammad Nasir bercerita, “saya dilahirkan oleh seorang ibu yang bernama Nurilah, saya tiga bersaudara,  yang hidup tiga orang dan belasan meninggal dan saya anak terakhir, ketika saya dilahirkan, ibu saya langsung meninggal dunia, kemudian saya dibesarkan, dirawat, diasuh oleh seorang ayah (Kesim) yang sudah tua.

Saya sangat terharu mendengarkan penuturan saudara Nasir, ia bertutur: “ibu dan ayah saya tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali, mereka berasal dari keluarga yang sumber daya pendidikan dan ekonomi. Dengan kondisi keluaraga seperti ini, saya sangat tidak mungkin  untuk bisa kuliah. Niat/keinginan saya untuk kuliah sempat terkubur, ketika saya  tamat SMA saya minta izin untuk kuliah tapi tidak diizinkan. Saat itu ayah saya bilang “Kalau kamu kuliah itu sama artinya dengan kamu membunuhku”. Ungkapan ini membuat saya terpukul dan menguburkan impian saya untuk kuliah dan ahirnya saya pergi ke Malaysia dengan tujuan untuk mencari penghidupan bagi keluarga saya”.

Muhamad Nasir melanjutkan ceritanya, “Bercerita pengalaman masa lalu, terkait dengan dusun Jebuk pengalaman mulai ketika saya di SD. Masih kuat di ingatan, ketika guru-guru kami mengolok-olok anak Jebuk, guru saya mengatakan bahwa anak Jebukadalah anak  kampungan, kolot, gak ada listrik, dan repok. Kalimat itu diucapkan pada saat kami sedang berbaris/kumpul di lapangan. Kalimat seperti itu tidak satu dua kali kami dengarkan. Begitu pula ketika saya SMP, waktu saya mendaftar di SMP guru saya bertanya, “dari mana kamu ? ketika saya jawab, saya dari Jebuk, dia ketawa sambil geleng-geleng kepala, dia bilang Jebuk, sambil ketawa, hahaha dan sambil mengolok-ngolok saya. Ketika kami datang terlambat, kami di permalukan di depan orang/teman-teman yang sedang berkumpul di lapangan, di umumkan ini anak Jebuk, Jebuk kampungan, kolot, gak ada listrik datang tealat, Jebuk itu tempat perjudian, tempat perkumpulan maling, tempat orang jual miras dsb”. Saya hanya tertunduk malu. Olok-olokan yang sama juga keraf saya dapatkan pada waktu duduk di bangku SMA, kami sering di olok-olok seperti itu, bahkan kami seperti di anak tirikan oleh para guru”, tutur Pendiri Bimbel Bawak Bageq itu dengan nada haru.

Berangkat dari pengalaman masa lalu dan kondisi saat ini, pemuda sederhana itu bersi keras untuk mengubah kehidupan masyarakat sekitarnya melalui bidang pendidikan, terutama yang ada di Dusun Jebuk. Selesai SMA, ia pergi ke Malaysia dan satu tahun di sana, pemuda yang akrab disapa Acing ini kembali ke kampung halaman. Hasilnya selama satu tahun di tanah rantauan dijadikan biaya untuk melanjutkan pendidikan. ahirnya Acing diterima sebagai mahasiswa Bahasa Inggris di UniversitasHamzanwadi Selong dan sekarang ia sudah duduk di bangku semester tujuh.

Keperihatinan melihat kondisi lingkungan masyarakat Jebuk yang hanyut dalam kebiasaan minum-minuman keras, perjudian dan tindakan-tindakan negative, terutama anak-anak SD, SMP, SMA, pemuda maka saudara Acing merasa terpanggil untuk merubah situasi tersebut melalui dunia pendidikan. Berbekal cita-cita luhur dan modal bahasa Inggris yang dimilikinya sejak duduk di bangku SMA, pada tanggal 14 Desember 2014, saudara Acing merintis Bimbel Bahasa Inggris. Pada awalnya, Acing mengajak anak-anak Jebuk  yang kesana kemari mengadu jangkrik. Ia mengajaknya untuk belajar Bhasa Inggris sambil bermain di bawah pohon asam (Bawak Bagek: bahasa Sasak) yang ada di samping rumahnya. Di bawah asam itulah anak-anak Jebuk biasa berkumpul bermain Gansing, Kelereng dan bahkan pemuda dan orang tua mengadu jangkrik dan mengadu ayam.


Di tempat itulah Muhamad Nasir mengajak 11 orang anak Jebuk untuk belajar bahasa Inggris. Kegiatan yang dilakukannya itu menimbulkan cemoohan dari para pemuda dan tokoh masyarakat Jebuk namun demikian, saudara Nasir tidak berputus asa bahkan ia semakin termotivasi untuk mengembangkan BIMBEL yang dirintisnya. Seiring berjalannya waktu, peserta BIMBIL yang berjumlah 11 orang itu mengajak teman-temannya untuk ikut bermain sambil belajar bahasa Inggris bersama saudara Nasir. Pemuda lugu it uterus bergerilia mencari dan mengajak anak-anak serta pemuda Jebuk untuk belajar bahasa Inggris di Bawah Pohon Asam samping rumahnya. Pergerakannya itu, terus mendapatkan cemoohan dari masyarakat dan para pemuda Jebuk namun demikian pemuda tersebut tidak malu dan terus bergerak untuk menwujudkan cita-citanya merubah kondisi masyarakat Jebuk ke arah yang lebih baik.


Lambat laun, kesabaran saudara Nasir dibalas jua oleh Allah. Program Bimbel Bahasa Inggris yang diselenggarakannya mendapatkan respon positif dari warga setempat. Sekitar pertengahan tahun 2015, anggota Bimbelnya mencapai 90-an orang yang berasal dari kalangan anak-anak hingga pemuda Jebuk dan sekitarnya. Untuk mebiayai kegiatan Bimbelnya, saudara Nasir menggunakan uang sakunya yang didapatkan dari hasil beternak kambing. Ia membuat dan mengcopy-kan peseta Bimbel-nya buku materi Bimbel dan bahkan uang priadinya digunakan untuk membelikan peserta Bimbel alat tulis berupa buku tulis, bolpoin, whiteboard, spidol dan kelengkapan pembelajaran.

Bertambahnya jumlah peserta Bimbel membuat saudara Nasir merasa kewalahan untuk memberikan materi sehingga ia mengajak teman-teman UKM ESC Universitas Hamzanwadi Selong dan teman kelasnya (Prodi Bahasa Inggris) untuk membantunya memberikan materi kepada peseta Bimbel. Dengan sukarela, teman-temannya membantunya mengembangkan BIMBEL sehingga peserta BIMBEL mendapatkan materi yang lumayan.