Pengabdi Tenaga Kesehatan di Kampung Terpencil

*Abdul Rahim

Untuk sebuah pengabdian tidak perlu memperhitungkan untung rugi, kepuasan bathin ketika bisa bermanfaat lebih banyak untuk orang lain, itu adalah sebuah pencapaian yang lebih bernilai dari pada bayaran yang diharapkan.

Kebiasaan setiap ada yang sakit, seseorang langsung datang ke rumahnya, memanggilnya untuk datang mengobati ke rumah si sakit. Dengan kotak peralatan yang dimasukkan ke dalam tas selempang, dia siap dan tanggap ketika ada orang sakit yang membutuhkan pertolongan. Tak jarang pak Syukrul Hamdi juga memberikan infus kepada si sakit jika kondisinya sudah sangat melemah. Bapak satu anak ini tampak cekatan ketika memberikan pengobatan kepada pasiennya, bahkan gantungan infus di Puskesmas atau Rumah Sakit yang biasa menggunakan tiang besi, ketika menginfus orang sakit di rumahnya dia selalu punya ide kreatif, seperti digantungkan di jeruji jendela, atau memasang paku di tembok untuk menggantung kantong infus.

Pria kelahiran 1988 ini menjadi orang pertama di kampung terpencil Dusun Lengkok Lendang, Kec. Wanasaba Lombok Timur yang sempat menikmati pendidikan dalam bidang Ilmu kesehatan, khususnya keperawatan. Setelah menyelesaikan studi dan Pendidikan Profesi Ners di Sekolah Tinggi Kesehatan di Mataram, dia langsung kembali ke kampung halaman untuk mengabdi, dan memulai karirnya mendapat tempat mengabdi di Puskesmas Wanasaba. Dia adalah satu-satunya perawat di kampung terpencil tersebut, sehingga kebutuhan tenaga medis ketika ada yang sakit beliau selalu dicari orang, baik yang didatangi langsung olehnya atau si sakit sendiri yang berkunjung ke kediamannya.

Pengabdian di masyarakat dengan memberikan pelayanan pengobatan telah dilakoni Syukrul Hamdi sejak masih di bangku kuliah. Barulah sejak tahun 2012 setelah menamatkan studi, beliau benar-benar intensif dibutuhkan di masyarakat ketika ada yang membutuhkan pelayanan pengobatan. Tentang tarif pengobatan beliau tidak pernah memasang tarif, seikhlasnya yang diberikan orang yang berobat sebagai ganti biaya pembelian obat yang diberikan kepada si sakit.

Sebab untuk obat-obatan belum ada suplai khusus, sehingga beliau memesan obat-obatan dari Mataram untuk sakit-sakit ringan yang biasa diderita orang-orang kampung. Stok obat-obatan itu pun kadang ada yang kurang ketika si sakit membutuhkan obat yang khusus dan tidak ada stok obat yang disimpan di rumahnya. Beliaupun menuliskan resep obat yang dibutuhkan lalu diminta untuk mencarikannya di apotek.

Beliau cukup paham juga dengan obat-obatan yang dibutuhkan orang sakit, sebab 1 tahun pertama sebenarnya beliau mengambil jurusan Apoteker, lalu pindah jurusan ke keperawatan. Bisa dikatakan seorang Pengabdi yang multitalenta, di samping keseharian sebagai Perawat di Puskesmas Wanasaba, beliau juga mengajar di salah satu SMK Kesehatan Swasta milik sebuah Yayasan. Beliau sering pula diterjunkan sebagai Tim Penyuluh kesehatan, baik itu yang langsung ke masyarakat atau ke sekolah-sekolah untuk pembinaan pola hidup sehat dan perawatan ketika sakit.


Selain itu beliau juga dipercaya sebagai Ketua Remaja Masjid Badrul Islam Lengkok Lendang, dengan beberapa program baru yang diusung salah satunya diskusi tentang pola hidup sehat di kalangan remaja, menghidupkan kembali tradisi-tradisi perayaan hari besar islam yang diisi dengan kajian-kajian bermanfaat, seperti maulid, Isra' Mi'raj dan lainnya. Lalu malam harinya beliau juga tetap sebagai pembimbing untuk anak-anak mengaji di salah satu Mushalla warisan, yang temboknya menyatu dengan rumahnya.


Klinik Kompak dan Solusi Pengobatan untuk Masyarakat

Sejak tahun 2014 lalu di kampung terpencil Lengkok Lendang tersebut telah berdiri sebuah forum komunikasi pemuda yang dinamakan Komunitas Pemuda Kreatif (Kompak). Pak Syukrul Hamdi juga ambil peran di dalamnya, dan salah satu program yang dicanangkan oleh komunitas tersebut namun belum tercapai sampai saat ini yaitu Klinik Kompak, yang bertujuan untuk memberikan pelayanan pengobatan kepada orang sakit di kampung. Mengingat kapasitas beliau sebagai satu-satunya tenaga kesehatan di kampung tersebut, sehingga cukup banyak yang membutuhkan tenaga beliau di sela waktunya yang cukup sedikit untuk stand by di rumah. Sebab kadang beliau juga mendapat jadwal piket dan begadang di Puskesmas, lalu paginya mengajar juga di sekolah. Maka klinik Kompak ini menjadi representasi untuk ketersediaan pelayanan pengobatan bagi yang membutuhkan tenaga beliau sebagai ahli medis.


Selayaknya pengobatan tradisional ala dukun Sasak (Tabib, ahli pengobatan, Dukun bukan dalam artian ahli ilmu magis atau gaib) yang biasanya mendapat panggilan ketika ada orang sakit, begitu pula halnya dengan beliau, panggilan untuk mengobati orang sakit dengan Ilmu medis modern yang beliau dalami, tak lupa juga menyarankan untuk menggunakan obat-obatan tradisional dalam penanganannya, di samping itu juga obat-obatan modern selalu beliau siapkan. Ini bukan berarti beliau menggeser peran dukun Sasak untuk pengobatan di masyarakat, seiring perkembangan zaman masyarakat pula yang sudah pandai memilih pengobatan yang cepat untuk penanganannya melalui medis modern, walau ada beberapa juga pengobatan yang harus membutuhkan penanganan pengobatan tradisional.

Adapun rancangan klinik Kompak yang akan dikembangkan terbentur masalah perizinan dan ketersediaan obat yang memadai. Beliau juga pernah mencoba membuat klinik bersama kawan-kawan perawatnya di sekitaran Kecamatan Wanasaba, akan tetapi tidak mendapat Izin juga dari Dinas Kesehatan. Namun beda halnya dengan klinik Kompak yang diusung tersebut, Klinik Kompak berafiliasi untuk pelayanan kesehatan untuk Masyarakat kampung terpencil yang susah untuk mendapat akses ke pelayanan kesehatan yang lebih besar. Untuk itu dukungan pengadaan pos pelayanan kesehatan di masyarakat sebenarnya cukup efektif untuk membantu masyarakat ketika membutuhkan pengobatan. Seperti halnya puskesmas pembantu, maka klinik Kompak ini benar-benar niat pengabdian untuk masyarakat. Hanya saja membutuhkan ketersediaan obat-obatan yang memadai ketika tenaga kesehatan yang ada di kampung terpencil tersebut memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Dukungan dari Dinas Kesehatan untuk bantuan obat-obatan sangat dibutuhkan untuk kelancaran pelayanan kesehatan di Masyarakat. Beliau yang sempat memesan stok obat-obatan dari Mataram, sebenarnya sangat perlu mendapatkan koordinasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten mengingat sangat dibutuhkannya stok obat-obatan ketika ada yang membutuhkan pelayanan, dan beliau selalu tanggap dan cepat untuk memberikan pelayanannya.

Di samping itu sugesti masyarakat yang datang berobat kepadanya selalu menyatakan 'Rasi" (manjur) setiap beliau memberikan pengobatan. Ini juga berdampak bahwa pelayanan kesehatan untuk masyarakat bisa didapatkan dengan mudah sebab adanya tenaga kesehatan yang mau mendedikasikan diri untuk pelayanan di masyarakat. Maka sangat disayangkan ketika tidak adanya dukungan untuk terus dilanjutkannya pengabdian tersebut, dan tidak didapatkannya sokongan obat-obatan untuk massifnya pelayanan kesehatan di masyarakat.

Keikhlasan beliau mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan masyarakat dan memberikan pelayanan kesehatan bagi yang membutuhkan, senada dengan konsep yang dipahami bahwa sebaik-baik manusia yaitu yang paling banyak memberi manfaat untuk orang lain. Dan kebermanfaatan beliau untuk terus berproses di masyarakat senantiasa dibutuhkan untuk mengkampanyekan masyarakat sehat tidak hanya lahirnya, namun sehat bathiniah juga penting. Sehingga ketika masyarakat kita sudah sehat, kebahagiaan yang sederhana dengan dapat menikmati hidup sehat, makan nikmat, tidur nyenyak walaupun hidup pas-pasan sudah cukup terpenuhi sebagai sebuah kesejahteraan.

Dukungan dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk terus istiqomahnya pengabdian yang beliau jalankan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di kampung terpencil tersebut. Melalui koordinasi dengan pihak Pemda maka sudah sewajarnya mendapat lirikan untuk terciptanya sebuah perubahan di masyarakat melalui tangan-tangan terampil yang mau mendedikasikan diri membangun masyarakat. Pengabdian melalui pelayanan kesehatan yang beliau lakukan juga semakin menyambung banyaknya tali silaturahmi dengan masyarakat, sehingga beliau bisa dikatakan orang yang mendapat posisi dan cukup disegani di masyarakat. Tak jarang juga warga dari kampung tetangga meminta bantuannya untuk memberikan pengobatan, maka beliau tidak hanya dikenal di kampung di sendiri, selama itu untuk kebermanfaatan, beliau akan tunaikan juga untuk datang ke kampung tetangga.

Anak keenam dari tujuh bersaudara ini juga merupakan pribadi bersahaja, dengan rumah sederhana warisan almarhum sang Bapak, salah satu ruangan depan yang dulunya kamar tamu, beliau sulap menjadi tempat periksa orang yang membutuhkan pengobatan dan datang berobat ke kediamannya. Saat ini penghasilan beliau sebagai tenaga kesehatan (Belum PNS) di Puskesmas Wanasaba, dan istri sebagai Guru SD dengan satu anak, meski tidak berlebih namun cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Harapan ke depan semoga ada lagi anak kampung yang mendapat didikan bidang Ilmu Kesehatan yang mau mendedikasikan diri untuk pengabdian di masyarakat. Dan potensi pak Syukrul Hamdi sebagai pengabdi di masyarakat sebenarnya cukup mendukung untuk beliau melanjutkan studi lagi dengan dukungan beasiswa yang banyak tersedia bagi pengabdi-pengabdi masyarakat. (Baim Lc)

*Awardee LPDP Afirmasi 3T-Lombok Timur, NTB.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru