Bangun Pesantren dengan Uang Pensiun

KM Nggusuwaru - Abbas Zainudin A.Ma adalah seorang guru agama yang mungkin bisa menjadi contoh bagi yang lain. Meski telah pensiun sebagai PNS, dia tetap melanjutkan perjuangannya memajukan dunia pendidikan di sebuah desa terpencil. Dengan membangun pondok pesanteren Bahrul Ulum di Desa Sai, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima, Provinsi NTB.

GURU dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sebutan tersebut nampaknya tidak berlebihan, apabila dilirik dari semua pengabdian dan pengorbanan mereka untuk daerah dan negeri ini. Melalui perjuangan mereka, masyarakat bebas dari buta huruf dan menjadi manusia-manusia cerdas yang menjadi kebanggaan bangsa dan negara.

 

Pengabdian itu tidak hanya dilakukan hanya dalam sekolah saja, tapi juga pada lingkungan tempat tinggal mereka. Bukan hanya pada saat aktif bertugas, tapi juga setelah mereka pensiun. Selama jiwa pendidikan itu telah terpatri dalam hati dan pribadi sang guru, maka masa akhir jabatan bukanlah sebuah halangan untuk mengabdi.

Seperti halnya seorang pensiunan guru agama sekolah dasar (SD) Abbas Zainudin AMa, warga Desa Kala, Kecamatan Donggo. Bapak kelahiran 1950 ini rela menghabiskan waktu, tenaga dan materialnya, agar bisa terus berbuat dan mengabdi terhadap daerah dan negeri ini. Dengan membangun sarana pendidikan Pondok Pesantren Bahrul Ulum di Desa Sai, Kecamatan Soromandi. 

Sarana pendidikan itu dibangun dengan tunjangan pensiun sebagai PNS dan ditambah dengan pinjaman bank. "Setelah pensiun saya mendirikan Yayasan Al-Abasiyah Bima sebagai wadah untuk membangun pondok pesantren ini," terang Ketua Pondok Pesantren Bahrul Ulum Soromandi, Abbas Zainuddin A.Ma.

Kata dia, untuk membangun ponpes tersebut dia bersama keluarganya harus rela hidup pas-pasan. Karena untuk kebutuhan hidup mereka hanya mengandalkan sisa potongan bank dari gaji pensiun. Bahkan gaji tersebut sebagian besarnya, dimanfaatkan untuk menyokong operasional pondok pesantren. Antara lain, untuk pengadaan seragam siswa dan kebutuhan sehari-hari santri. Termasuk biaya bensin para guru, meski itu sealakadarnya. 

Dia mengaku, sekolah yang dia bangun itu belum mendapat kucuran dana BOS dari pemerintah. Sehingga semua kebutuhan ditanggung sendiri. Tidak hanya itu lanjut dia, selama membangun sekolah dia banyak belajar tentang kesabaran. Terutama mengahadapi masyarakat yang memiliki kesadaran terhadap pendidikan yang rendah.

Selama pondok pesantren itu didirikan 2010 silam, banyak rintangan yang dihadapi. Seperti dimusuhi, diteror, difitnah oleh oknum-oknum tertentu. Akibatnya, selama dua kali tahun ajaran, siswa MTS Ponpes selalu keluar meninggalkan tanpa sebab. Bukan hanya siswa yang ada di desa setempat, tapi juga siswa yang datang dari flores NTT pun pergi tanpa sebab. 

Meski mengalami sejumlah cobaan dan kegagalan itu, dirinya mengaku tetap tegar dan selalu berusaha. Terutama memberikan pemahaman kepada masyarakat, terkait pentingnya pendidikan agama. Dia mengaku, semua rintangan itu merupakan motivasi tersendiri untuk dirinya. Sehingga terus berjuang dijalan Allah dan mengabdi kepada nusa dan bangsa.

Alhasil pada tahun 2014 lanjut dia, MTs ponpes setempat miliki beberapa orang siswa. Meski siswa itu bukan warga Sai, tapi mereka tetap bertahan sampai sekarang. Begitupun Ponpes dan MTs yang dirintisnya itu, kini telah mengantongi izin operasional. 

Sehingga dalam tahun ajaran baru ini, sekolah setempat mendapat belasan siswa baru. Dia berharap dengan legalitas yang dikantongi itu, dapat memacu keinginan dan kesadaran masyarakat setempat. Sehingga mereka dapat menyekolahkan anak-anaknya di tempat itu. "Lagipula ponpes ini merupakan satu-satunya sekolah agama di Desa Sai. Mari kita majukan pendidikan agama, demi masa depan generasi bangsa," ajaknya. (AL) - 05

sumber:

SEBAIKNYA TIDAK MENGUTIP DARI WEBSITE LAIN. Terimakasih

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru