Di Rumah Bersama, Di Sawahpun Seiring Bersama

Pada zaman dulu, ketika perempuan telah menikah hanya diperbolehkan untuk tinggal di ranah rumah saja. Mereka hanya berperan untuk bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga. Namun dalam perkembangan zaman, emansispasi kaum perempuan sangat diperhitungkan untuk mengambil posisi di dunia kerja. Peran gender mendudukkan perempuan untuk bisa mencari nafkah di luar, seperti layaknya dengan kaum laki-laki.

Berbagai jenis pekerjaan di luar yang dapat dilakoni oleh kaum perempuan. Bertani, bekerja buruh, sebagai guru, dokter, tentara, polisi, bahkan iapun dapat menjajarkan dirinya dalam hal politik,  sehingga mengahantarkan dirinya sebagai pemimpin di tengah masyarakat, seperti sebagai kepala desa, camat, bahkan jadi pemimpin nomor satu di suatu negara.

Perlu dipahami bahwa setinggi-tingginya pangkat atau jabatan kaum perempuan di tengah masyarakat, namun tetap saja memiliki kedudukan nomor dua dalam rumah tangganya.Merekapun tetap harus menghargai sang suami yang sebagai kepala rumah tangga.

Keberadaan gender di zaman globalisasi ini, perempuan tentu sangat membantu perekonomian keluarga. Selain sang suami yang sibuk bekerja di luar untuk mencari rezeki di luar, ia pun juga dapat bekerja di luar untuk lebih meningkatkan ekonomi keluarga. Bahkan pada kaum lakil-laki yang berprofesi sebagai petani, sang isteri pun turut mendampingi untuk menyelesaikan pekerjaan sawah.

Bicara tentang peran sang isteri untuk membantu sang suami bekerja di sawah, tidak terjadi pada setiap daerah. Kita melihat bahwa di Sulawesi, kaum perempuan di sawah hanya untuk mengantarkan bekal makanan dan minuman pada sang suami. Beda di Jawa dan di Lombok misalnya, kaum perempuan dapat membantu sang suami untuk bekerja di sawah.

Khususnya perempuan sasak di Lombok, walaupun mereka  berperan sebagai ibu rumah tangga, termasuk mengasuh anak, namun banyak ditemukan untuk selalu setia mendampingi sang suami di sawah dalam menyelesaikan pekerjaan. Mereka bersama dengan sang suami menyemai benih padi, menanam padi, memupuk padi, bahkan di saat buah padi sudah menuai mereka pun seiring bersama di musim panen.

Hapisah adalah seorang perempuan sasak yang berdomisili di Bomba Sari, Selong, Lombok Timur. Ia pun kini bekerja seperti layaknya laki-laki dalam membantu suami di sawah. Ia mengakui bahwa keterlibatannya dalam membantu sang suami adalah karena selain irit biaya, dalam arti agar tidak terlalu melibatkan orang lain untuk upah. Namun satu hal yang paling mendasari adalah karena dasar cinta yang sangat kuat.

Hapisah sangat menyayangi dan mencintai suaminya, sehingga selain di rumah selalu bertemu, ia pun dapat menunjukkan rasa kasih sayang dan cintanya pada sang suami, yaitu dengan mencurahkan seluruh tenaganya dalam membantu sang suami bekerja di sawah.

Hapisah juga menuturkan bahwa semenjak ia selalu mendampingi suami bekerja di sawah, semangat kerja dari suaminya selalu tinggi. Begitupun juga hasil panen yang ia selalu peroleh selalu membuahkan hasil yang sangat lumayan. Ia pun dapat menumbuhkan ekonomi kelurganya dengan baik, termasuk menyekolahkan anaknya. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru