Peduli Pendidikan Di Bukit Terpencil

Kasirun Aidi, A.Ma, seorang guru honorer di perbukitan terpencil pada SDN 3 Bukit Tinggi, rela menempuh perjalanan hingga 10 km dari Penimbung Timur tempat tinggalnya demi pengabdian tulus ikhlas bagi anak didik-didiknya yang tetap setia menunggu kehadirannya di daerah perbukitan dengan ketinggian 400 m dpl.

Seorang Kasirun mengaku tak pernah berkeluh kesah meski honornya sebagai guru tidak tetap tak seberapa. Semangat dan tekadnya tak pernah surut untuk tetap berdedikasi guna mencerdaskan anak bangsa, meski alam pegunungan saban hari bersahabat dengannya.

Pengalaman seperti ini, bagi Kasirun Aidi tidak terlepas dari dukungan moril dari keluarganya maupun guru-guru lainnya di sekolah yang sama serta support warga sekitar di Bukit Tinggi. “Mudah-mudahan ini jadi motivasi bagi rekan-rekan guru yg lain terutama anak bangsa lainnya tidak memandang tempat. “Dimanapun pengabdian itu pasti ada jalan. Dan mudah-mudahan ke depannya lagi guru-guru khususnya yg ada di Lobar, makin termotivasi untuk mengabdikan diri pada  bangsa dan negara melalui pendidikai, sehingga bangsa ini menjadi lebih maju,” ungkapnya.

Kasirun sendiri mengabdi sejak Januari 2007 di SDN 3 Bukit Tinggi. Akses jalan menuju ke sekolah ini cukup memperihatinkan jika tidak dikatakan cukup parah. Namun terpanggil akan kewajibannya sebagai seorang guru yang sebelumnya mengajar di Kota Mataram, ia rela melepasnya dan lebih memilih ke daerah terpencil. Disamping di sekolah tersebut gurunya masih sangat-sangat kurang, padahal rombongan belajarnya sudah 6 kelas. “Seluruhnya saat ini 5 orang guru, dua guru PNS dan sisanya masih honorer. Kepala Sekolah saja baru dua tahun di tempatkan di sini,” jelas Kasirun.

Meski demikian Kasirun bangga atas kesadaran orangtua wali murid di Bukit Tinggi dan peserta didik atas partisipasi pendidikan di sekolah ini. Sekalipun jarak rumah terjauh ke sekolah antara 2-3 kilometer. “Namun anak-anak tetap semangat. Ini juga yang memotivasi saya untuk tetap mengabdi di SDN 3 Bukit Tinggi. Selamat Hardiknas 2015,” terang Kasirun. (wardi) -01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru