Sang Pembaharu dari Lereng Rinjani


Dusun Jeruk Manis yang sering disingkat Jerman adalah sebuah Dusun di pinggir hutan wilayah Desa Pemepek Kecamatan Pringgarata Kabupaten Lombok Tengah. Di dusun inilah dua orang bersaudara yang belakangan kemudian menjadi Pendiri Pondok Pesantren Darul Hikmah dilahirkan dari pasangan suami istri yaitu Ali Darmasih dan Sa’unah.

Kedua bersaudara itu adalah Muhammad Mujahidin, QH., M. Pd. dan Muhsin, M. Pd. Muhammad Mujahidin selaku Kakak menjadi Kepala Madrasah Tsanawiyah sekaligus menjadi ketua Pondok Pesantren, sementara Muhsin, M. Pd selaku adik menjadi Kepala Madrasah Aliayah sekaligus menjadi Sekretaris Pengurus Yayasan.

Jika melihat nama kedua bersaudara ini yang masing-masing punya embel-embel nama dibelakangnya sebagai pertanda keduanya sudah menyelesaikan pendidikan masternya, mungkin tidak ada yang menyangka kalau liku perjuangannya dalam pendidikan begitu besar dan berat, mulai dari pendidikan dasar hingga ke perguruan tinggi bahkan hingga kini ketika sudah menjadi pimpinan di lembaga pendidikan yang mereka dirikan, hanya model kendala dan rintangannya saja yang beda.

Karena usia keduanya hanya beda satu tahun, maka mereka mulai masuk sekolahpun pada tahun yang sama mulai dari SD Repuk Pidendang kemudian melanjutkan ke MTs NW Mertak Paok Batukliang. Begitu tamat di Tsanawiyah, keduanya konfromi siapa yang harus melanjutkan sekolah?  siapa yang cari biaya?. Dari hasil konfromi itu disepakati bahwa si adik melanjutkan sekolah si kakak yang pergi cari biaya, karena kalau keduanya harus sekolah, maka jelas orang tua tidak akan mampu membiayai mulai dari harga pakaian termasuk biaya makan minum selama di pondok.

Akhirnya sang kakak memantabkan hati untuk merantau mencari uang, dan daerah yang dituju adalah kebun kopi yang berada di sekitar gunung tambora, setelah genap enam bulan bekerja di kebun kopi, dana yang dibutuhkan untuk membeli pakaian berdua ditambah biaya adik sekolah dan makan minum dipondok serasa cukup, maka sang kakak pulang. Tapi karena sudah terlambat enam bulan ditambah lagi perhitungan biaya sekolah dan mondok berdua mungkin masih kurang, maka sang kakak tidak bisa masuk sekolah. Akhirnya untuk menambah ilmu pengetahuannya sang kakak ikut takhassus atau ngaji khusus di Yayasan Asy-Syahriah Dasan Baru Jabon Pimpinan TGH Syahruddin. Setelah satu tahun setengah mengaji untuk menggenapkan masa dua tahun, Muja sang kakak berhenti untuk melanjutkan sekolah di MA Mertak Paok, yang mana pada waktu itu sang adik sudah kelas dua di sekolah yang sama.

Satu tahun kemudian sang adik tamat di MA mertak paok, dan supaya adil, maka kini gantian. sang adik yang harus mencari nafkah untuk membiayai sang kakak. Dua tahun berlalu serasa begitu cepat sehingga sang kakak tamat dan sang adik sudah dapat uang yang menurut perhitungan mereka cukup untuk melanjutkan pendidikan lagi, sehingga keduanya bagi jurusan sang adik melanjutkan studyny di universitas mataram dan sang kakak ke MDQH. Empat tahun kemudian sang kakak berhasil menamatkan studynya di Ma’had, tepat di tahun 2001 sama halnya dengan sang adik yang berhasil menamatkan studynya di UNW Mataram.

Penting di ingat, bahwa disaat keduanya sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, keduanya sudah mulai merintis lembaga pendidikan ditempat kelahirannya dengan mendirikan Madrasah Ibtida’iyah tepat di tahun 1996.

Konsentrasi mereka untuk mengembangkan pendidikan  pada lembaga yang sudah dirintisnya lebih ditingkatkan setelah keduanya menyelesaikan study S1. Si kakak yang merasa belum puas karena belum mengenyam pendidikan di perguruan tinggi formal kembali melanjutkan studynya di IAIH NW Lotim tepatnya di Fakultas da’wah, selesai tahun 2007.

Untuk meningkatkan kafasitas diri, maka keduanya kembali bersepakat untuk melanjutkan study ke tingkat pascasarjana. Dan berkat kesabaran keduanya kini mereka sudah sama-sama menyandang gelar master. Dan bersamaan dengan itu lembaga pendidikan yang mereka dirikan dan kembangkan kini sudah menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, hal ini tidak Cuma dilihat dari segi kwalitas saja tapi juga segi kwantitas.

Maju terus buat dua bersaudara yang sangat kompak dalam mengembangkan peningkatan pendidikan untuk diri masing-masing juga buat lembaga pendidikan yang keduanya kembangkan. Ini patut ditiru.[] - 05

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru