Kue Serabi di Hari Minggu

Kue serabi merupakan salah satu jenis makanan khas tradisional di daerah Lombok. Jenis makanan ini biasa dijumpai di berbagai pasar tradisional atau di pinggir jalan, seperti di kawasan Lombok Timur.

Salah seorang pedagang serabi yang berdomisili di Kelayu-Selong, yang sudah puluhan tahun menekuni aktifitasnya sebagai pedagang serabi adalah Ibu Fatimah (55 tahun). Ia memulai kariernya di usaha makanan tradisional ini semenjak ia masih gadis. Usaha dagang serabi yang dirintisnya ini pertama-tama didirikan di depan rumahnya, yaitu di Gang Mimbar Desa Kelayu Selatan. Ia pun membuka dagangannya  dari jam 7 pagi sampai menjelang siang.

Selain  Ibu Fatimah melayani pesanan pelanggan yang rela menunggu di depannya sampai serabi itu matang dari cetakannya, iapun juga membuat sejumalah serabi yang akan dijual dengan cara berkeliling di kampungnya sendiri. Olehnya itu, disaat menjelang  siang, Ibu fatimah menjinjing barang dagangannya dengan mengelilingi kampung sekitarnya untuk menjual barang dagangannya.

Kue serabi yang dijual ibu Fatimah ada dua jenis, yaitu serabi santan dan serabi gula merah. Serabi santan yaitu kue serabi yang pada permukaannya ditutupi dengan santan yang sangat kental dan biasanya terasa asin. Sedangkan kue serabi gula merah yaitu pada permukaan serabi itu ditaburi dengan kelapa campur gula merah.

Pada hari minggu pagi, Ibu Fatimah tidak berjualan di depan rumahnya (pinggir jalan), tapi iapun mencari lokasi lain yang dianggapnya sangat satrategi untuk menarik perhatian pelanggan. Lokasi yang sering menjadi tempat mangkalnya dalam menjalankan usaha dagang serabi adalah di pinggir jalan raya Kelayu, yaitu di jalan TGH. Umar Urbani. lokasi ini sengaja dipilih karena pada minggu pagi, sangat ramai orang-orang yang pada  pulang dari pantai labuhan haji untuk menikmati matahari pagi (sun rise). Dari kenyataannya bahwa sekitar jam 7 pagi sampai jam 9 pagi, pengunjung yang banyak meluangkan waktunya untuk mampir membeli barang dagangannya adalah kebanyakan orang-orang yang baru pulang dari pantai labuhan haji yang baru saja menikamati indahanya mata hari pagi ( sunrise).   

Bicara soal penghasilan, Ibu Fatimah mengatakan kalau pemasukan kotor tiap harinya yaitu antara 100.000 rupiah  sampai dengan 150.000 rupiah. Hasilnya ini telah dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan pendidikan anak-anaknya. Namun Ibu Fatimah menyayangkan bahawa dari semua anaknya yang  ketiga itu, tidak ada satupun yang mau sekolah tinggi-tinggi. Anak pertama dan keduanya adalah perempuan, semua menikah setelah tamamat SMA. Anaknya yang ketiga adalah seorang laki-laki dan sampai sekarang masih  bekerja di Malaaysia. Tapi ia tetap bersyukur bahwa walaupun suaminya telah menikah dengan gadis lain disaat anaknya yang ketiga berusia 3 tahun, iapun  mampu membiayai kebutuhan rumah tangganya, termasuk membiayai kebutuhan pendidikan anak-anaknya sampai tammat dari SMA dengan usaha jual serabi ini.

Mengenai cara membuat serabi, itu mudah sekali. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah dengan memanaskan cetakan serabi di atas api. Kalau Ibu Fatimah, iapun memanaskan cetakan serabi yang terbuat dari tanah di atas tungku api.

Sambil menunggu cetakan serabi panas, silahkan mengaduk-aduk adonan serabi yang terbuat dari tepung beras yang telah dicampur air sampai kental itu. Disaat cetakan serabi sudah panas, tuankan adonan satu sendok dengan mempergunakan sendok sayur ke masing-masing lubang cetakan.

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pencermatan pada bagian permukaan serabi itu. Kalau sudah terbentuk lubang-lubang kecil di atas permukaan serabi, silahkan diberikan satu sendok santan di atas permukaan serabi itu. Selain itu, kalau anda suka rasa manis, anda bisa menaburkan kelapa gula di atas permukaan serabi ini. Cara seperti inilah yang dilakukan Ibu Fatimah disaat ia melakukan proses pembuatan serabi di pinggir jalan raya Kelayu Selong, Lombok Timur. [] - 05

 

 

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru