Ibuku Pedagang Ikan Asongan

Ibuku adalah semangatku, ibu jantungku. Ibu mengajariku untuk selalu tegar, kuat, dan sabar. Ibu selalu menyiapkan apa yang aku butuhkan tanpa harus aku beritahu. Ibu mengerti apa yang aku inginkan. Aku tidak pernah tau ibu mendapatkan uang dari mana untuk memenuhi kebutuhanku. Yang aku rasakan Kasih sayang ibuku berbeda dangan kasih sayang ayahku. Ibu mengajariku dengan penuh kelembutan walau terkadang aku tidak mau mendengarkannya, ibu selalu percaya padaku walau terkadang aku berbohong padanya, ibu selalu mendukung apa yang aku lakukan. Sedangkan ayah mengajariku dengan penuh kekerasan, terkadang ayah tidak percaya dengan apa yang aku katakana walau aku berkata jujur dan ayah tidak selalu mendukung apa yang aku lakukan.

Ibuku seorang pedagang ikan asongan, ibu menjual ikan hasil tangkapan nelayan dikampungku dengan berjalan kaki mengelilingi kampung-kampung sebelah. Terik matahari membakar kulit ibuku, haus, lapar yang selalu dirasakan, namun ibu tidak pernah mengeluh dengan semua itu. Ibu membeli buku untukku dan saudaraku, keperluan sekolah anaknya selalu ibu penuhi walau terkadang ibu meminjam uang pada rentenir, untuk ibu itu tidak masalah yang penting anaknya tidak malu.

Walau ibuku seorang pedagang ikan asongan, tapi ibuku tidak pernah takut miskin, tidak mau kalah dengan orang kaya dalam hal pendidikan anaknya. Pesan ibu “harta hanya menerangi hidupmu untuk sesaat, tapi ilmu menerangimu sepanjang hidupmu bahkan saat kamu sudah tiada di dunia ini kamu akan terus dikenang”

Ibu membiayai kakak-kakakku hingga bangku kuliah. Ibu banyak menghabiskan uang dan tenaga agar kakakku bisa mendapat gelar sarjana, namun yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan ibu. Kakakku menikah dan putus kuliah. Betapa hancur hati ibuku, namun ibu selalu menerima dengan lapang dada. Ibu selalu berdoa untuk kebahagiaan anak-anaknya.

Bagaimana aku harus membalas jasa ibuku, bagaimana caranya agar ibuku bisa tersenyum bangga padaku??? Ibu gadis kecilmu sekarang sudah tumbuh dewasa, mungkin kakakku membuatmu kecewa tapi aku dan adikku InsyaAllah tidak akan membuatmu kecewa karna kami menyayangimu ibu. Ibu gadis kecilmu yang dulu, sekarang telah mengetahui dan merasakan apa yang ibu lakukan dulu untukku.

Ibu, hidup ini sebuah pilihan, klise bagai fatamorgana . aku tidak pernah tau apa yang aku pilih bahkan baik dan buruknya aku tidak pernah tau. Apa yang aku inginkan tidak selalu aku dapatkan, kadang aku merasa tersakiti karna pilihanku sendiri. Menyesal????? Dengan tegas aku katakan Tidak !!!!!!! rasa penyesalan itu tidak ada gunanya, hanya akan membuatku putus asa dan kapok.  aku selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk pilihan yang sudah aku tetapkan.

Disaat aku duduk di kelas tiga SMA aku punya cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti kakakku, namun apa yang aku inginkan tidak bisa langsung aku dapatkan, ibuku hanya seorang pedagang ikan asongan bagaimana aku bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, siapa yang akan membiayaiku sedang kakakku masih membutuhkan biaya yang banyak untuk studinya. Saat itu aku mulai bermimpi untuk melanjutkan studi tanpa biaya, Aku mengukir mimpi-mimpiku di langit yang luas dan di dinding kamarku. Kenapa?????? Itu agar aku bisa selalu melihat mimpi-mimpi yang sudah aku ukir.

satu tahun aku berkerja sebagai buruh dipesisir. Banyak yang tertawa bahkan mengejek dan menghina pekerjaanku. Setelah setahun berlalu aku bertekad untuk melanjutkan studi memberanikan diri untuk mendaftar disalah satu perguruan tinggi negri di mataram, seminggu kuliah aku mendaftar beasiswa bidik misi dan Alhamdulillah aku diterima. Mimpi yang sudah aku ukir sekarang tinggal coretan-coretan yang membuatku kuat dan tegar. Kemarin adalah jejakku, hari ini langkahku dan esok adalah tujuanku”. Ibu karna dukunganmu aku bisa seperti sekarang ini.

Bersama bidik misi aku bisa. bersama sahabat-sahabatku, aku kuat. Bidik misi merubah pola pikir, cara pandang dan hidupku. Bidik misi mempertemukan aku dengan orang-orang yang luar biasa. Man jadda wajada. Baca, pikir dan kerja. Motto ku “gengsi tidak akan membuat hidupku sukses, tapi sukses yang akan membuat hidupku bergengsi”.  Keikhlasan kita  akan memudahkan langkah kita.

Hari ini aku mengukir mimpi lagi untuk menjadi seorang penulis yang akan dikenal oleh banyak orang, mimpi untuk melanjutkan pendidikan di negeri Sakura, mimpi untuk berkeliling Indonesia sebagai mahasiswa yang berprestasi, mimpi untuk memajukan pertanian khususnya di NTB. Aku yakin jika pertanian kuat Indonesia yang katanya tanah surga akan sejahtera.

Banyak orang yang tertawa bahkan mencemohku, aku kecewa dan merasakan sakit yang begitu sakit, karna orang terdekatku juga ikut bahkan melarangku untuk bermimpi. Tapi semua itu aku jadikan motivasi untuk terus menggapai apa yang aku inginkan. Ibu yang selalu ada disampingku, ibu yang selalu memberi dukunganku. Ibu terkadang anakmu jenuh, bosan dan letih karna kerasnya hidup yang ku alami, aku tidak bisa meniru ketabahan dan ketegaranmu. Namun saat aku terjatuh, bayanganmu selalu membangunkanku dan memberikanku kekuatan. Ibuku pernah bilang “hidup itu memang sulit, namun sesulit apapun itu tetaplah bersabar dan yakinlah bahwa disetiap langkahmu ibu dan ayah selalu ada disampingmu, jadi jangan pernah takut dengan apa yang akan dan sedang terjadi”. Dan hari ini aku mulai untuk membuat sebuah jejak  yang akan diikuti oleh banyak orang.

Betapa besar jasa ibu pada anaknya, sadarkah kita, sudahkah kita dan sanggupkah kita sebagai anak membalas jasanya. Ibu pencetak generasi unggul, Kasih sayang yang tulus dan berlimpah datang dari seorang ibu. Ibu punya tanggung jawab besar di pundaknya untuk masa depan bangsa. Maka, tidak salah kalau dikatakan perempuan adalah tiang negara. Bila tiang itu roboh, maka tunggulah waktu keruntuhan negara. [] - 05

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru