Dari Melarat Menjadi Konglomerat

Ketika saya dibawa berkunjung ke Kalimantan oleh teman saya pada minggu lalu. Saya bertemu dengan orang-orang dari Lombok yang bermukim di Desa Bayan Sari Kecamatan Angsana Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan, termasuk dengan Amak Rian. Ketika saya berkunjung ke Rumah Amaq Rian, saya cukup kaget sebab dirumahnya terdapat banyak kayu yang bentuknya antik. Karena penasaran ahirnya saya menannyakan tentang kayu itu. Ternyata itu adalah kayu Gaharu yang memang sudah lama saya dengar namanya namun belum pernah melihat bentuknya. Dari sanalah Amaq Rian kemudian bercerita mengenai perjalanan hidupnya sehingga ia memiliki banyak koleksi kayu Gaharu dan bagaimana perjalanan usahanya sehingga beliau sukses menjadi pengusaha Gaharu yang tersohor di wilayah Kalimantan. Ternyata ketabahan, keuletan dan kesabaran-lah yang membuat setengah baya ini menjadi seorang konglomerat di rantauan orang.

Supriadi atau yang lebih akrab dipanggil Amaq Rian adalah seorang pengusaha Gaharu yang memiliki pengaruh cukup besar di wilayah Kalimantan Selatan. Laki-laki kelahiran Embung Tiang Kecamatan Sakra Barat Kabupaten Lombok Timur ini merupakan seorang transimigran yang mengikuti program transimigrasi nasional pada tahun 1982. Ia berama kedua orang tua dan 8 orang saudaranya berangkat ke Kalimantan Selatan bersama 108 orang transimigran lainnya yang berasal dari Desa Embungtiang (Sakra Barat), Desa Rempung, dan Terara.

Laki-laki setengah baya ini bercerita bahwa pada tahun pertama ia di Bayan Sari, ia dan keluarganya bingung harus mendapatkan uang dari mana. Ia dan kedua orang tua-nya beserta 8 orang saudara-nya hanya menggarap tanah seluas 1,25 Ha yang diberikan oleh pemerintah.

Hidup kami betul-betul susah. Bagaimana tidak, tanah garapan yang diberikan oleh pemerintah adalah lahan yang berupa hutan. Tidak ada apa-apa yang bisa kami usahakan selain membersihkan lahan tersebut supaya bisa kami tanami tanaman yang dapat menghasilkan uang. Setelah dua tahun menggarap lahan itu, kami-pun dapat menanam sayaur namun hasil kami tidak seberapa. Ahirnya kawan-kawan kami banyak yang pulang ke Lombok, tetapi saya dan keluarga saya coba bertahan untuk terus berusaha mencari penghidupan yang layak di sini. Dan sejak tahun 1986 saya mencoba ikut dengan kawan-kawan yang berusaha mencari kayu Gaharu di wilayah hutan Kalimantan Timur. Kata laki-laki setengah baya itu dengan nada sendu.

Empat tahun telah berlalu, kehidupan kami masih morat-marit. Kami hidup seadanya dan terus menggarap tanah garapan seluas 1,75 Ha yang diberikan oleh pemerintah kepada kami. Pada ahir tahun 1987 orang tua dan saudara-saudara saya merasa sudah tidak bisa untuk melanjutkan hidup di daerah taransimigrasi dan mereka memutuskan untuk kembali ke Lombok. Waktu itu saya sedang mencari kayu Gaharu di hutan dan ketika saya pulang ke Bayan Sari, tidak ada satupun keluarga saya yang tersisa di sana. Kata tetangga, mereka sudah pulang ke Lombok. Saya kebingungan sebab hanya saya sendiri yang ditinggal di Kalimantan dan waktu itu saya masih lajang.

Dua minggu setelah itu saya memutuskan untuk menyusul keluarga ke Lombok. Sesampai di Embung Tiang (Lombok Timur) saya semakin bingung sebab tidak ada pekerjaan yang menjanjikan, ahirnya saya memutuskan untuk merantau ke Malaysia. Dan pada awal tahun 1988 saya-pun berangkat ke Malaysia. Di sana saya mencoba berbagai macam pekerjaan dan tidak ada satu pekerjaan-pun yang bisa membuat saya mendapatkan penghasilan yang besar. 2,5 tahun di Malaysia, saya belum punya apa-apa bahkan saya tidak pernah mengirimkan sepeser rupiah kepada keluarga saya di Lombok (Uangkap Amaq Rian dengan nada putus asa).

Dengan situasi seperti itu ahirnya saya memutuskan untuk kembali ke Lombok dan pada pertengahan tahun 1990 saya-pun pulang ke Embung Tiang. Sesampai di sana, tidak seorang-pun yang saya temui di rumah. Ternyata orang tua dan saudara-saudara saya sudah kembali ke Kalimantan sebab di Embung Tiang mereka sudah merasa tidak punya apa-apa. Saya semakin bingung dengan keadaan itu.

Dua bulan di Lombok, saya kemudian menikah dan setelah itu saya menyusul keluarga ke Kalimantan. Sejak itulah saya serius menggeluti usaha mencari kayu Gaharu sedangkan orang tua dan saudara-saudara saya sudah mendapatkan proyek penanaman Kelapa Sawit.

Menjadi penggaharu ternyata cukup sulit. Bagaimana tidak, berbulan-bulan saya dan kawan-kawan menyusuri hutan belantara untuk medapatkan Gaharu dan itupun belum tentu kami mendapatkan hasil yang besar. Tapi saya tidak berputus asa, saya terus berusaha mencari kayu Gaharu untuk menghidupi istri saya. Singkat cerita, pada tahun 1997 saya dan kawan-kawan mendapatkan Gaharu yang lumayan besar dan jika dijual maka paling tidak kami akan mendapatkan uang sejumlah 60-an juta namun sayang kami ditipu oleh Bos/pembeli Gaharu yang berasal dari Jawa.

Pengealaman itu kemudian membuat saya kesal dan merasa sangat terpukul, namun apa boleh buat saya dank awan-kawan tidak bisa berbuat apa-apa. Pada tahun 1998, saya dan kawan-kawan juga mendapatkan kayu yang lumayan dan kami menjual kayu itu kepada seorang pengusaha Gaharu yang berasal dari Jakarta, namun kali ini kami juga ditipu oleh si pengusaha tersebut. Ahirnya saya berpikir bahwa jika nanti saya mendapatkan kayu yang lumayan maka lebih baik saya menjual hasil saya sendiri kepada Bos Besar yang berasal dari Thaliand atau pengusaha asing lainnya supaya saya tidak kena tipu lagi.

Saya semakin asik mendengarkan Amaq Rian menceritakan pengalaman hidupnya sehingga ia menjadi seorang Pengusaha Gaharu yang sukses.

Lebih lanjut beliau bercerita bahwa atas dasar kekecewaannya itu maka ia bersama kawan-kawannya sepakat untuk terus mencari Gaharu dan Amaq Rianlah yang ditunjuk atau dipercayai untuk menjual hasil mereka nantinya. Amaq Rian kemudian berusaha untuk mencari Bos Gaharu dari luar negeri sambil terus mengumpulkan Gaharu yang didapatkan oleh kawan-kawannya dan ahirnya pada tahun 2002 Allah mempertemukannya dengan Bos Gaharu dari Thailand.

Sejak itulah Amaq Rian mulai merangkang menjadi pengusaha Gaharu dan lambat laun beliau dapat mengumpulkan kayu Gaharu yang didapatkan dari kawan-kawannya dan bahkan dari pencari Gaharu lainnya yang berasal dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Dengan modal kesabaran, kejujuran dan keuletan, Amaq Rian berhasil menjadi pengusaha Gaharu yang sukses padahal awalnya ia hidup melarat dan memulai usahanya dengan modal nol Rupiah.

Menurut keterangan kawan-kawannya, Amaq Rian mulai sukses sejak tahun 2008 dan usahanya melonjak tinggi pada tahun 2011. Melonjaknya usaha Amaq Rian itu sebab beliau selalu jujur kepada orang-orang yang menjual Gaharu kepadanya dan beliau juga tidak segan-segan untuk membantu orang-orang yang kesusahan.

Sejak tahun 2011 itu, Amaq Rian menanamkan modal dengan memberikan orang-orang yang ingin mencari Gaharu modal. Setidaknya satu orang pencari Gaharu diberikan modal sejumlah 5 hingga 10 juta Rupiah. Setidaknya saat ini saya sudah menyalurkan modal sebesar 1,5 miliyar kepada ratusan orang pencari Gaharu di wilayah Kaltim dan Kalsel. Uangkapnya.

Sungguh luar biasa perjuangan hidup yang telah dialami oleh Amaq Rian sehingga hal ini perlu kita tauladani. Orang yang berhasil adalah orang-orang yang tekun, sabar, dan jujur dalam menjalani hidup ini sebagaimana Amaq Rian yang awalnya hidup melarat dank arena kesabaran, ketekunan, dan kejujurannya maka kini beliau menjadi orang yang sukses dan bahkan disebut-sebut sebagai pengusaha Gaharu tersohor di Kalimantan. Dan perlu diketahui bahwa pengusaha-pengusaha Gaharu yang tersohor di Kalimantan adalah berasal dari Lombok, termasuk pengusaha Gaharu nomor 1 di Kalimatan.

Warga Kampung Media yang mulia, harapan penulis kiranya sosok Amaq Rian bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menjalani hidup dan usaha yang kita jalani dengan penuh kesabaran, ketekunan, dan kejujuran supaya kita menjadi orang yang sukses pada usaha kita masing-masing. [] - 05

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru