Inspirator dari Pulau Lombok

Jualan Alat Dapur di Sulawesi,  Bantu Rekan dan Keluarga

Pendidikan tinggi tak selamanya menjamin mendapatkan kesuksesan, setidaknya pekerjaan layak sesuai latarbelakang pendidikan. Apalagi sejak lama hingga saat ini, krisis keadilan membelenggu mereka-mereka yang terbatas dan termaginal oleh keadaan ekonomi yang serba terbelakang. Namun  kini, Kartono (30) mampu membuktikan bahwa dunia tak selebar daun kelor. Berikut catatan Fachrunnas.

Hawa dingin seolah mengalir dan menyergap badan, siap menghapus peluh yang ingin menghampiri, meski jarum jam menunjukkan pukul 08.40 Wita dan sinar matahari kian mencarak. Tiga pekan terakhir cuaca pagi hari di Kota Bima cukup dingin, termasuk di lingkungan sekitar jalan Soekarno-Hatta. Namun tidak demikian bagi mereka yang selalu berusaha di setiap pusaran waktu.

Puluhan kendaraan roda dua dan roda empat tampak beradu hilir mudik memenuhi tiap senti ruas jalan, siap mengantar pengemudi ke segala penjuru yang diinginkan. Pekik deru mesinnya seolah beradu dengan detak waktu. Seorang pria muda ditemani laki-laki berperawakan gemuk dan berganggut tampak serius melayani sejumlah siswa yang antri membeli dagangannya. “Adik manis beli berapa? Yang cantik belinya jangan satu yah,” katanya, merayu siswa untuk membeli sosis dagangannya.

Baru dua hari Kartono dan rekannya menjual sosis keliling menggunakan rombong mini yang menempel di jok motor. Namun dagangannya sudah laris manis diminati puluhan siswa di Kota Bima. Keuntungan bersih yang ia  dapatkan setiap hari mencapai Rp300 ribu. Itu pun hanya menjual setengah hari, hingga siang. “Alhamdulillah setiap usaha pasti ada hasil. Hidup itu yang penting kita mau berusaha saja,” katanya saat ditemui di Penatoi, Sabtu lalu.

Sebelum merambah Kota Bima, pria asal Ampenan Kota Mataram ini, cukup sukses berdagang di Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Namun setelah terjadi PHK besar-besaran karyawan PT Newmon Nusa Tenggara ditambah keinginan kuat istrinya kembali ke kampung halaman, ia memutuskan berdagang dan memulai bisnis baru di Kota Bima. Maklum saja istrinya berasal dari Bima, sehingga ingin kembali ke kampung.

Meskipun bukan penduduk asli, Kartono sudah akrab dengan warga Kota Bima. maka tak heran ia fasih bahasa Sasak dan Mbojo. Sejak kecil ia dibesarkan  dan sekolah di Kota Bima. Puluhan tahun silam, ia diboyong orangtuanya tinggal di lingkungan Sumbawa Kelurahan Tanjung. Darah bisnis dan berdagang mengalir dari orangtuanya yang saat itu biasa menjual gado-gado di lingkungan sekitar pasar raya Bima.

Kartono mengaku, sejak  di bangku sekolah sudah terbiasa hidup susah dan selalu berkerja membantu mencari tambahan nafkah. Saat duduk di bangku kuliah semester VI, ia memutuskan menikah dengan Neneng Nurhasanah, warga Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima yang sekaligus teman kuliahnya di Prodi Bahasa Inggris STKIP Hamzanwadi Lombok Timur. “Saya nikah dengan cara sederhana. Waktu itu saya nggak punya pekerjaan tetap atau gambaran penghasilan yang jelas. Tapi saya bismillah saja dan alhamdulillah sambil  menyelesaikan kuliah bersama istri, saya bisnis tiket bus, ternyata untungnya jutaan rupiah,” ujarnya.

Tahun 2010 ia kemudian menyelesaikan Pendidikan Strata Satu Bahasa Inggris disusul istrinya tahun 2012. Selama tinggal di pulau Lombok, sambil bisnis tiket bus ia juga menjadi guide di gili Terawangan. Namun itu tak lama, karena istrinya tidak betah tinggal di Lombok, ia kemudian memboyong keluarganya di Soromandi, tinggal di rumah mertua.

Kesulitan dirasakan sejak awal kembali ke Bima, meskipun bersama istrinya mengabdi menjadi guru sukarela pada salahsatu Pondok dan Sekolah Negeri. Namun gaji sukerela yang hanya ratusan ribu tak mampu menutupi kebutuhan rumah tangganya. “Saya dan istri ngajar, saya juga sambil ngojek di Kota Bima, hasilnya Cuma kadang dapat 20ribu, kadang 30ribu, paling tinggi 50ribu. Banyakan capeknya, karena pulang pergi Kota Bima dengan Soromandii, jauhnya lumayan capek, belum untuk bensin dan oli. Itu pun saya pakai motor sewaan,” katanya.

Setelah setahun tinggal di Bima tanpa ada perubahan yang signifikan, ia kemudian mencoba nasib dengan menjadi pedagang alat dapur di Makasar hingga Palu, Sulawesi Tengah. Namun  tak lama, karena saat itu  Sulawesi sedang dilanda isu teroris, istirnya kuatir dan menyuruh pulang kembali ke Soromandi. “Saya kembali ke Soromandi menjadi pengojek. Kalau untuk ngajar sudah nggak betah dengan hasil yang nihil. Karena tidak ada perubahan, terus saya kasih pilihan ke istri, milih kami Kalimantan atau usaha di Taliwang? Akhirnya dia lebih milih di KSB,” ceritanya.

Sejak pindah di KSB perubahan yang lebih baik mulai dirasakan Kartono dan keluarganya, meskipun awalnya hanya  nekat, nyaris tanpa modal. Setelah mendapatkan kos,  kemudian mencoba menjual salome. Hasilnya lumayan kadang mencapai ratusan ribu. Namun tidak lama, setelah memantapkan hati, ia kemudian berjualan sosis. Hasilnya mencapai ratusan ribu, paling sedikit per hari mampu mendapatkan Rp300 ribu, kadang maksimal keuntungan bersih Rp500 ribu.

Saat beberapa pekan pertama karena modal terbatas, pernah menumpang menyimpan sosis di dalam freezer kulkas milik tetangga kamar kos. “Awalnya tanpa modal, kalau saya ingat-ingat luar biasa perjuangan hidup ini. Dengan uang yang terbatas, saya harus cari kos dan nafkasi istri dan anak saya,” kenangnya.

Dari hari ke hari, usaha Kartono menjual sosis terus berkembang. Hasil dagangan yang mencapai Rp7 juta per bulan kemudian ditabung. Sebagian ia gunakan untuk membeli tanah, sepeda motor, dan sejumlah perlengkapan rumah tanggal seperti kulkas, mesin cuci, televisi. Melihat peluang bisnis lain, awal tahun 2014 lalu ia kemudian membeli odong-odong, hingga akhirnya memantapkan hati kembali ke kampung istrinya di Bima. sebagian pendapatan dari hasil dagangannya dikirim untuk orangtuanya di Lombok, sebagian untuk membantu kebutuhan mertua.

Kini, sejak usaha odong-odong beroperasi di Kota Bima, Kartono mampu memperkerjakan tenaga lain yang merupakan kerabat dari istrinya, sama-sama sarjana.  Saat bulan suci Ramadan lalu, usaha odong-odong miliknya mampu meraup keuntungan bersih yang maksimal Rp700 ribu hingga Rp1 juta per hari.

Namun saat hari-hari normal pasca lebaran biasanya antara Rp200 ribu-Rp400 ribu. “Kemarin saya sarjana, tapi sekarang orang yang menggeluti usaha kecil, bergelut dengan oli. Kerja serabutan, tapi saya bangga. Bagi saya pendidikan formal agar kita pintar, tidak mudah ditipu oleh orang di tengah jalan,” ujarnya.

Selain mempekerjakan sejumlah tenaga pada usaha odong-odong, Kartono juga menjadi insiprator bagi sejumlah keluarga dan sahabatnya. Kini ia membantu rekan dan keluarganya merintis dagangan sosis di Kota Bima. Baru beberapa hari jualan namun sudah meraih hasil yang menggiurkan, mencapai Rp300 ribu per hari. “Alhamdulillah ini mungkin berkah juga karena membantu teman-teman dan para sahabat. Kalau odong-odong baru yang saya pesan sudah datang, Insya Allah bisa semakin tenan memetik hasil,” kata alumnus MTs Padolo dan MAN 1 Kota Bima ini .

Dalam keluarganya, sejumlah saudara kandung Kartono juga cukup sukses dalam usaha. Kakaknya yang menetap di Lombok memiliki sejumlah usaha yang cukup sukses, seperti resto di Gili Terawangan, mini market dan kos-kosan. Kini tidak hanya sahabatnya yang tertarik, kruw Kampung Media Wadupa’a Soromandi, Abdul Hamid, juga tertarik mulai menggeluti usaha sosis. (*) - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru