Mutiara Dari Desa Masmas

Mas-mas adalah sebuah Desa terpencil di Kaki Lereng Gunung Rinjani yang letaknya paling timur wilayah Kecamatan Batukliang Utara sehingga ia sekaligus menjadi batas wilayah Kecamatan Kopang dengan Batukliang Utara. Penduduk Mas-mas yang lebih kurang berjumlah 11.000 jiwa, mayoritasnya berpenghasilan sebagai petani, buruh tani, Peternak dan sebagian kecil pengusaha. Sehingga bisa disimpulkan bahwa kondisi masyarakat secara umum berada dibawah garis kemiskinan.

Di desa inilah seorang Habiburrahman lahir, tumbuh dan berkembang menjadi sosok pemuda yang sepenuh hidupnya ia dedikasikan untuk tanah tumpah tempat kelahirannya. Ia tumbuh sebagai pemuda yang sederhana, pendiam namun penuh semangat dan rajin belajar. Hal ini terlihat dari prestasinya mulai dari SD sampai SLTA selalu Ranking I bahkan tidak jarang menjadi juara umum di sekolahnya.

Salah satu obsesi dari Habiburrahman yang kesehariannya di panggil Habib adalah bagaimana mengubah tatanan sosial masyarakat yang menurut penilaiannya masih sangat kurang, mulai dari tingkat ekonomi yang rendah,  wawasan yang sempit, pola pikir yang picik  sehingga sulit menerima pembaharuan. Semua keadaan ini telah memaksanya untuk berfikir keras bagaimana mengatasi masalah-masalah yang dihadapi masyarakat seperti tergambar di atas.

Sebagai langkah awal untuk mencarikan upaya tersebut, Habib mulai mengajak beberapa kawan yang peduli tentang kondisi masyarakat yang terpuruk tersebut untuk mengidentifikasi potensi-potensi yang dimiliki oleh masyarakat. baik SDA maupun SDMnya.

Dari hasil identifikasi tersebut terlihat bahwa mas-mas memiliki kekayaan alam yang cukup.  seperti air, buah-buahan, kayu maupun hasil-hasil pertanian lainnya. Dan yang tidak kalah pentingnya juga ternyata Mas-mas memiliki view alam yang sesungguhnya sangat indah,  disamping budaya masyarakat yang unik. Selesai itu analisa kemudian dilanjutkan dengan kebutuhan dasar wisatawan. Dimana dari hasil diskusi tersebut diketahui, bahwa wisatawan domistik dan mancanegara yang mengunjungi beberapa obyek-obyek wisata ternyata tidak semata-mata untuk mencari rumah megah, tidak untuk mencari makanan mahal, tidak untuk mencari sesuatu yang serba mewah, tapi mereka sanggup datang jauh-jauh dengan biaya mahal justru untuk mencari sesuatu yang baru yang mereka tidak pernah alami ditempat mereka masing-masing, sesuatu yang unik, serta juga untuk mencari ketenangan dan keindahan yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman.

Dari hasil identifikasi tersebut Habib mencoba mengkolaborasikannya, sehingga tercetus untuk menawarkan sebuah paket wisata, dengan menjadikan keindahan view alam, kerielan gaya hidup masyarakat pedesaan dengan segala keterbatasannya, kekhasan rasa kuliner masyarakat, keamanan dan kefamilieran masyarakat. sebagai paket utamanya yang Ia kemas dalam sebuah program yang Ia namakan “Village Based Tourism” atau “Wisata Berbasis Desa”

Karena program wisata ini adalah hal baru bahkan sangat baru, sehingga masyarakat mulai mempertanyakannya bahkan berusaha menggagalkan dengan segala cara termasuk ancaman dan cacian dengan alasan akan merusak agama, budaya bahkan moral pemuda. Tafi Habib terus memberikan pemahaman melalui majlis pengajian, brosur, diskusi-diskusi kecil pemuda bahwa, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan karena tidak akan ada yang dirubah. kita hanya akan memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan gaya hidup masyarakat setiap hari, seperti : pergi kesawah untuk bertani, pergi kepengajian, dan kebiasaan-kebisaan lainnya. Sementara disisi lain ketika tamu datang, akan dipersiapkan sarung sebagai langkah memproteksi budaya feminin barat disamping menjadi tanda tamu resmi masyarakat, dan kedepan bagi tamu yang mau nginap, tidak  akan perbolehkan dibangunnya hotel atau sejenisnya karena mereka cukup menggunakan rumah warga yang memenuhi standart kebersihan saja, sehingga wisatawan bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat sementara aktifitas masyarakat tidak ada yang terganggu karenanya. Bahkan dengan rutinitas keseharian mereka, mereka akan dapat uang sampingan

Langkah berikut yang Ia lakukan setelah kegiatan ini  di lounching, Ia terus melakukan promosi melalui brosur-brosur, internet, kampung media, rakom dan juga dengan mengajak semua travel dan HPI untuk ikut mempromosikan. Sementara disaat yang bersamaan juga Ia mempersiapkan adik-adik dan masyarakat pada umumnya untuk pendalaman bahasa inggris dan kesiapan mental spritual mereka supaya jangan sampai budaya masyarakat dengan kereligiusannya yang akan kita jual justru terkikis oleh budaya asing yang nota bene hedonis dan liberalis.

Setelah lebih kurang 4 tahunan berjalan ternyata kegiatan ini mempunyai dampak positip yang tidak terkirakan baik secara langsung maupun tidak langsung, diantaranya adalah :

  1. Masyarakat yang dulu malas belajar bahasa inggris sekarang justru sangat antusias terutama anak-anak dan dewasa, sehingga bisa dipastikan anak-anak mulai dari kelas 3 SD akan hafal minimal 300 vocabularies.
  2. Masyakat yang dulu kesulitan dimana mau praktik bahasa inggris justru sekarang ditempat mereka beraktivitas sehari-hari touris datang dan mereka dibayar.
  3. Penganyam ketak yang dulu harus jual kepasar Rp. 15.000/biji, dipotong ongkos ojek PP. Rp 10.000, sekarang jual dirumah masing-masing dengan harga 20.000 bahkan lebih/ biji tidak perlu potong ongkos ojek, dan seberapapun stock akan laku.
  4. Pembuat kerupuk bonggol pisang yang dulu kesulitan menjual,sekarang harus mempersiapkan orderan Rp. 5.000.000/minggu dari travel dan toko oleh-oleh
  5. Sais dokar yang dulu hanya dapat 18.000 perhari itupun harus menempuh perjalanan lebih kurang 8 km, ternyata sekarang hanya dengan beberapa meter saja mereka dibayar Rp. 40.000
  6. Warung-warung makanan siap saji yang dulu sebelum kegiatan ini diinstall sulit didapat justru sekarang sudah berjejer disepanjang jalan menuju mas-mas mulai dari tiga kecamatan sebagai pintu masuk mas-mas yaitu Kecamatan Kopang, Batukliang dan Batukliang Utara.
  7. Mas-mas yang dulu tidak dikenal sekarang sudah sangat terkenal bahkan disepanjang jalan mulai dari BIL, senggigi dan kute sudah ada road sign yang menunjukkan arah ke Desa Mas-mas.
  8. Dll.

Dengan adanya dampak yang sangat signifikan yang diantaranya seperti diatas, barulah masyarakat kemudian sadar dan mau menerima seratus persen, sehingga Habib yang dulu diawal mulai menginstall program wisata diberhentikan jadi imam masjid, jadi khotib dan kegiatan-kegiatan lain yang Habib inisiasi di Masjid, kini di paksa lagi jadi imam dan khatib namun Habib tidak mau dengan alasan sekarang sudah ada banyak orang lain yang lebih bisa dan lebih bagus. Para orang tua yang dulu memberhentikan anak-anak mereka untuk ikut belajar bahasa inggris di rumah Habib kini mereka berbondong-bondong lagi menyerahkan anak mereka, warga yang dulu ketika Habib bikin Aula tempat anak-anak belajar dan diskusi mengatakan, “ Habib mau bikin tempat para turis berbuat mesum dan minum-minum”, kini mereka datang memohon maaf dan memuja muji Habib.

Yang pasti bahwa peningkatan ekonomi masyarakat di Mas-mas sangat signifikan, Bahkan animo masyarakat untuk belajar bahasa inggris sangat luar biasa terutama sekali anak-anak. Sehingga untuk mengakomodir animo tersebut sekaligus menjadi salah satu upaya untuk memprepared kegiatan Wisata tersebut, Habib juga menginstall sebuah program yang ia beri nama Pondok Santri.

Pondok santri adalah sebuah kegiatan penyeimbang kegiatan Wisata, karena menurut Habib, “Kegiatan wisata ini sesungguhnya adalah kegiatan yang penuh dengan ancaman negatif, diantaranya boleh jadi budaya ketimuran akan terkontaminasi dengan budaya barat, gaya hidup sederhana boleh jadi berganti glamour, kebiasaan gotong royong boleh jadi bergeser keindividualisme dll. Sehingga penting dipersiapkan generasi ini supaya mereka punya alat untuk memfilternisasi hal-hal tersebut diatas.

Dipakainya istilah pondok santri adalah untuk menghilangkan kesan persaingan terhadap pondok-pondok pesantren yang sudah ada. Kegiatan-kegiatan dalam pondok santri ini diantaranya adalah setip pagi selama lima hari dalam satu minggu mulai dari jam 06:00 sampai jam 07:00, anak-anak dari semua jenjang pendidikan mulai dari SD/MI, SMPN/MTs, MA, SMK dan SMA dengan memakai seragam sekolah masing-masing datang kesekretariat Pondok Santri Untuk Belajar Bahasa Inggris, sementara setiap malam adik-adik remaja belajar ilmu-ilmu agama dan setiap malam minggu dan senen para ibu-ibu rumah tangga juga datang kesekretariat untuk belajar agama juga diskusi soal-soal sosial lainnya.

Yang pasti, apa yang Habib niatkan ketika mula pertama kepingin punya ruangan yang lebih luas yaitu menjadi tempat yang multi fungsi, terwujud sudah.

Karena orientasi Habib melakukan semua kegiatan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan penghasilan dan menambah sumber penghasilan baru, maka Habib terus berupaya memberikan ketauladanan tentang banyak hal diantaranya :

  1. Beternak sapi

Ditengah jadwalnya yang sangat padat Habib menyempatkan diri untuk memelihara sapi, dengan maksud ingin memberikan ketauladanan kepada masyarakat bahwa memlihara sapi  punya prosfek cukup menjanjikan untuk bisa meningkatkan penghasilan tapi harus mengorbankan pekerjaan lain dengan sistim dan pola yang jelas beda dari pola masyarakat selama ini. Hasilnya warga masyarakat, mahasiswa bahkan para dewan guru yang dulunya sedikit gengsi pergi nyabit justru kini rata-rata ikut melihara sapi.

Mereka saling ajak dengan alasan Habib yang mereka asumsikan banyak uang dan padat kegiatan saja masih menyempatkan diri pelihara sapi, sementara kita yang nyaris tidak ada kegiatan dan penghasilan masih mau santai-santai?, akhirnya satu demi satu masyarakat mulai berternak sehingga nyaris semua lapisan masyarakat mulai beternak sapi.

Setelah semua masyarakat mengikuti jejaknya Habibpun memulai lagi menginisiasi kegiatan lain yaitu memperkenalkan ayam arab

  1. Beternak Ayam Arab


Untuk mengawali tekadnya untuk mengajak masyarakat beternak ayam arab, Habib mulai membeli lima belas butir telur ayam arab untuk dia tetaskan dari lima belas telur tersebut yang ditetaskan 13 butir, dari 13 ekor anak ayam itu yang berhasil sampai bertelur 10 ekor. Dari telur yang 10 ekor itu Habib terus kumpulkan lalu membagi-baginya kewarga yang sanggup menetaskan.

Setelah cukup banyak masyarakat yang berhasil menetaskan bahkan sampai memiliki induk dari telur yang diberikan oleh Habib, maka Habibpun melalui program UP-FMA membelikan mesin tetas sebanyak 5 buah yang di sebar ke 5 dusun untuk diberikan lagi kepada warga yang mau menetaskan telur ayam arab secara bergiliran.

Selama lebih kurang dua tahun Habib terus mengembangkan ayam arab pada setiap warga, maka bisa dipastikan warga masyarakat desa Mas-mas yang dulu sama sekali tidak kenal ayam arab kini bisa dipastikan bahwa di setiap rumah pasti ada ayam arab, sehingga ayam arab berhasil menjadi icon desa Wisata Mas-mas. Atas prestasi ini maka oada tanggal 17 Agustus 2010 Habib dipanggil kejakarta untuk menghadiri apel hari kemerdekaan di kementrian pertanian dan peternakan sebagai UP-FMA pengembang ayam arab terbaik nasional. Tapi karena di Up-FMA ada pengurus lain, Maka Habib yang posisinya sebagai ketua, yang diminta harus berangkat, merasa tidak enak untuk berangkat sendirian, karena itu Dia mengutus pengurus lain yang berangkat menghadiri undangan tersebut, yang walaupun setelah dikonfirmasi Habib mengakui bahwa sebetulnya ia ingin sekali ke Jakarta, tapi demi menjaga perasaan teman, Ia rela mengorbankan keinginannya. Ia bilang ketika itu, “inilah kesempatan saya untuk menguji diri saya, apakah saya harus mengutamakan kepentingan saya ataukah kepentingan orang lain?. Demikian Akunya.


Tidak puas dengan itu, Habiburrahman juga berhasil mengajak masyarakat yang awalnya tidak pernah mengenal yang namanya ayam arab, kemudian secara menyeluruh berhasil mengembangkan ayam arab sehingga ia berhasil di nobatkan jadi nominasi nasional pada tahun 2010 sebagai pengembang ayam arab terbaik nasional. Maka berikutnya Habib mengajak Warga untuk Beternak Kambing.

  1. Panjat Tebing

Untuk mengawali inisiasi untuk mengajak warga melakukan upaya peningkatan ekonomi melalui ternak kambing, yang Habib istilahkan “Panjat Tebing” yang merupakan singkatan dari “Peningkatan Kesejahteraan Melalui Ternak Kambing”. Mula-mula Habib mengajak teman-temannya yang mahir tawar menawar di pasar untuk pergi membeli kambing. Mula pertama Habib membeli dua induk kambing dan dua anaknya, Habibpun mulai pelihara kambing. bersamaan dengan itu cemoohanpun mulai diterimanya, orang banyak mengatakan, “Habib, akan mendatangkan penyakit buat warga, karena pelihara kambing”. Cemoohan itu muncul dari adanya mitos di warga Desa Mas-mas yang berkembang, bahwa kalau sapi berdekatan dengan kambing, maka sapi akan sakit, kedua kalau ada warga yang pelihara kambing, maka orang yang mempunyai anak balita pasti tidak akan bisa tidur karena menangis terus dan akan gatal-gatal akibat dari kuman kambing tersebut.

Tapi bukan Habib namanya, kalau ia cepat terpengaruh oleh cemoohan dan cacian. Ia justru seperti mendapat tambahan stamina untuk bisa menghilangkan mitos yang berkembang dimasyarakat, sekaligus menunjukkan bukti kepada masyarakat bahwa apa yang pernah di analysa diatas kertas so’al prosfek mengembangkan ternak kambing ternyata benar adanya.

Seperti biasa setelah Habib memulai sesuatu, maka pasti akan ada yang mau mengikuti, termasuk memelihara kambing. Satu demi satu warga menyatakan keinginannya untuk ikut memelihara kambing. Habibpun berusaha mencari modal tambahan disamping mencoba melobi orang-orang berduit di mana saja yang mau berinvestasi dengan ketentuan pembagian keuntungan, Investor 35 %, Pemelihara 55 % dan coordinator 10 %.

Sudah menjadi tekad bagi Habib, ketika dia ingin memberikan pengelolaan sesuatu/pengadas ternak maka pembagian keuntungannya harus lebih banyak ke peternak, ketika di Tanya soal itu apa alasannya? Habib menjawab, “supaya keuntungan lebih banyak didapat oleh peternak, sebab kalau sama dengan pola yang dikembangkan oleh masyarakat yang biasanya 50% : 50%, berarti pemberdayaannya kurang”.

Berkat ketekunan, keikhlasan dan kegigihan habib, dalam memberikan contoh kewarga yang oleh habib kategorikan sebagai Da’wah Bil Hal, maka tidak sampai dua tahun hampir sebagian besar masyarakat desa Mas-mas bahkan juga beberapa Desa yang ada di Kecamatan Batukliang Utara yang selama ini berpendapat tidak cocok pelihara kambing baik karena mitos diatas maupun karena cuaca, ternyata satu demi satu mengikuti termasuk warga sekitar habib yang dulu mencaci dan mencemooh.

Masyarakat cukup teransang untuk ikut memelihara kambing adalah disamping karena bukti riel yang ditunjukkan oleh habib juga analysa yang sudah habib buat yang sering habib sampaikan di setiap pertemuan dengan warga baik di forum Roah atau begawe, zikiran dan pertemuan-pertemuan non formal lainnya.

Sebagaimana biasa, setiap kegiatan baru yang habib inisiasi apabila sudah berhasil membawa keuntungan bagi masyarakat dan masyarakat sudah mengikutinya secara masiv, maka habibpun mulai berfikir untuk mencoba memberi ketauladanan yang baru. Itulah Habib, mutiara dari desa masmas, Ia selalu memberikan hal baru bagi masyarakat yang pasti membawa keberuntungan dan harus dia mulai dari dirinya dulu, bila sudah berhasil ia mulai mengajak teman-temannya dan seluruh warga. [By. Najamuddin] - 01

Sumber Hasil pantaoan sendiri terhadaf kehidupan Tokoh dan wawancara

Poto : ambil di facebook dan memory teman yang kebetulan nyimpan poto tokoh ketika berkegiatan dan poto ketika tokoh bagi-bagi anak ayam hasil pelatihan penetasan yang di inisiasinya.

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru