Merubah Hidup Dari Kawat dan Besi

Km. Sanggicu; Selaparang slah satu desa yang terletak dikecamatan Woja kabupaten Dompu, disanalah tempat yang ditinggali oleh Muhtar beserta keluarganya.

Muhtar kepala keluarga yang hidupnya bergantung dengan usaha menganyam besi, semula muhtar hanya bermodalkan catok penganyam untuk membuat anyaman jendela, namun semakin banyaknya permintaan dan majunya tekhnologi, Muhtar mampu mengerjakan enam karyawan untuk membantunya dalam usaha tersebut.

Selain dengan kepandaian menganyam Muhtar juga memiliki kepandaian dengan menggunakan alat bantu seperti mesin las untuk membuat grawang jendela yang lebih menarik.

Keukarangannya akan mengenal huruh bukanlah suatu masalah, karena Muhtar yakin dengan kekurangannya tersebut akan mampu ditutupi oleh kepandaian buah hati serta karyawannya yang akan membantunya dalam membaca.

Sejak kecil, muhtar hanya menjalani hidupnya dengan oierang tua sebagai buruh tani, lemahnya perekonomian keluarga yang mengakibatkan dirinya tidak mampu menduduki bangku sekolah. Namun dengan kepandaiannya dengan berbisnis, Muhtar mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, serta dengan usahanya membuat gerawang jendela serta besi pagar, ia mampu membuktikan bahwa jika ada jalan mengapa tidak. Muhtar dibantu oleh karyawan sejumlah enam orang, yang diupahnya tiap bulan.

Jika usahanya lancar, karyawannya diupah dengan hara tinggi mencapai 3 (tiga) jutaan tiap bulannya, namun jika usahanya kurang lancar, karyawannya akan memaklumi dan menerima upah yang kurang dari 3 jutaan tersebut. Dalam sehari Muhtar mampu mengantongi keuntungan sampai  2 jutaan.

Keenam karyawannya Muhtar latih dengan baik, karena bermdalkan tekad yang kuat serta menegaskan kerja dengan penuh kreasi yang membuat banyak masukan akan hasil kerjanya yang sangat rapi dan banyak yang memujinya.

Hasil polesan tangannya tidak hanya diakui oleh warga Dompu yang pernah menggunakan jasanya, bahkan di kabupaten lain seperti Bima dan Sumbawa pernah memintainya untuk membuatkan berbagai macam ukuran jendela, pagar dan lainnya.

Setiap harinya Muhtar hanya mengandalkan alat Meteran kecil , karena tugas ukur menguklur serta pasan-memasang adalah tuigasnya, dan anyam menganyam serta perakitan kini bukan lagi tugasnya.

Sudah banyak yang memintai bergabung agar bisa dipekerjakannya, namun karena terbatsnya alat serta minimnya pengetahuan pelamar yang membatasi jumlah pekerjanya. Untuk kedepan muhtar bercita-cita ingin menambah peralatan kerja dan penambahan tempat agar semua yang berkeinginan bergabung mampu terpenuhi. Azis red [] - (01)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru