logoblog

Cari

Renita Andriyani, Potret Guru Garis Depan

Renita Andriyani, Potret Guru Garis Depan

“Dari awal kita memang sudah siap” Guru, sering dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ini karena jasa besarnya meski tidak disematkan

Sosok Inspiratif

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
26 November, 2019 18:40:06
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 2890 Kali

“Dari awal kita memang sudah siap”

Guru, sering dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ini karena jasa besarnya meski tidak disematkan tanda jasa khusus. Sebutan ini tidak berlebihan. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Orde Baru, Daoed Joesoef pernah mengatakan; profesi di dunia ini hanya ada dua, yaitu guru dan lain-lain. Profesi lain-lain ini, menurut Daoed Joesoef, ada karena guru.

Oleh karena itu, di seluruh dunia, hari guru diperingati meskipun setiap negara berbeda waktunya. Di Indonesia, Hari Guru diperingati setiap tanggal 25 November. Tahun ini, (25 Nopember 2019), di seluruh Indonesia diperingati Hari Guru Nasional. Termasuk di Lombok Barat, diperingati melalui upacara bendera di Lapangan Kantor Bupati Lombok Barat, Giri Menang, Gerung.

Seusai upacara, KM berhasil mewawancarai satu-satunya guru petugas upacara perempuan. Dia bertugas membawa baki bendera merah putih. Rupanya, dia seorang Guru Garis Depan (GGD) yang ditempatkan di satu sekolah dasar terpencil di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat. Wawancara yang dilakukan bersifat tidak terstruktur untuk menggali lebih dalam dan mengalir suka duka yang dirasakan seorang guru yang ditugaskan di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal).

Renita Andriyani, wanita 30 tahun asal Madiun, JawaTimur, adalah seorang guru dengan formasi khusus GGD. Renita ditempatkan di SDN 15 Buwun Mas, Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong, berjarak sekitar 35 km dari Giri Menang, Gerung, Ibu kota Kabupaten Lombok Barat, atau sekitar 46 km dari Kota Mataram, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Renita bercerita, sewaktu CPNS tahun 2017, dia sedang hamil tujuh bulan, saat itu ditemani suami tercinta, Andik Indra Setiawan, tinggal di sekitar sekolahnya di Buwun Mas, Sekotong. Seusai cuti melahirkan di kampung halamannya, Madiun, dia kembali tinggal di Sekotong. Namun akhirnya, memilih tinggal di sebuah rumah BTN di Gerung.

Diceritakan Renita, jumlah siswa-siswi di sekolahnya 83 anak dengan 11 orang guru. Murid-muridnya sebagian besar Muslim dan yang lainnya Budha. Enam orang guru termasuk kepala sekolahnya adalah guru yang sudah berstaus Aparatur Sipil Negara (ASN, dulunya PNS), dan lima orang merupakan guru honorer. Di antara para guru tersebut, empat di antaranya termasuk Renita adalah GGD. Renita sendiri mengajar di Kelas V yang memiliki 14 orang murid.

Dijelaskan Renita, dia merupakan formasi khusus GGD tahun 2016 untuk ditempatkan di luar pulau Jawa dari ujung barat Aceh hingga pedalaman-pedalaman Papua. Dan dia kebagian ditempatkan di Pulau Seribu Masjid dan Seribu Ponpes, Lombok.

Mengenai akses jalan ke sekolahnya, Renita menyebut relatif sudah cukup bagus karena sejak awal 2019 sudah diaspal sampai Mekaki. Namun, dia harus melanjutkan perjalanan melalui jalan tanah liat yang biasanya licin pada musim hujan karena air yang menggenang pada sebagian jalan yang cekung dan berlobang. Panjang jalan tanah yang harus dilaluinya sekitar 3 km. Untuk sampai ke sekolahnya, Renita yang diantar-jemput suaminya menempuh waktu lebih dari satu jam perjalanan.

Yang menarik, kata Renita, kadang masuk sekolahnya harus menunggu murid. Karena mereka harus jalan kaki yang cukup jauh melalui jalan berbukit atau mengitari bukit sehingga sering terlambat sampai sekolah.

“Kalau di sana masuknya kadang menunggu siswa, karena siswa itu di belakang bukit, banyak yang rumahnya di sana,” ujar alumnus Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Malang (UM) ini. “Kita sesuaikanlah dengan di sana,” sambungnya.

Renita, meskipun mengaku belum pernah ikut pelatihan dan menjadi petugas pengibar bendera (paskibra) sewaktu sekolah dulu, penugasannya sebagai petugas upacara kali ini bukanlah yang pertama. Pada upacara Hari Pendidikan Nasional yang lalu, dia juga ditugaskan menjadi pembaca Undang-undang Dasar 1945. Oleh PGRI, kata Renita, guru GGD seprti dirinya dipanggil untuk ditugaskan kembali sebagai pengibar bendera, pembaca undang-undang, pemimpin barisan dan pemimpin upacara.

Ditanya suka duka jadi guru di daerah terpencil seperti Sekotong, wanita murah senyum ini menyebut, memang sejak awal sudah siap ditempatkan di daerah terpencil dan terluar. Bahkan, sebagai guru GGD, ia telah melalui proses yang cukup panjang, salah satunya mengikuti seleksi program Sarjana Mengajar di daerah 3T – Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T). Untuk SM-3T ini, selama satu tahun (2013-2014), Renita ditugaskan mengajar di Sitaro, perbatasan Sulawesi Utara-Indonesia dengan Filipina.

“Makanya dari awal kita memang sudah siap, waktu ditempatkan di Sekotong, mentalnya sudah siap”, ujar ibu satu anak ini.

Selain itu, Renita mengaku, meskipun berasal dari jauh, ia merasa aman baik di jalan maupun di sekolahnya. “Kalau orang-orang tahu kita guru, kita aman di sana,” ujar Renita.

Pada awal-awal ditugaskan di Sekotong, tantangan bahasa menjadi yang terberat. Tidak semua muridnya bisa berbahasa Indonesia. Mereka umumnya menggunakan bahasa daerah setempat yaitu Bahasa Sasak.

“Itu memang tantangan terberat kami, karena untuk bisa berkomunikasi dengan mereka, itu sangat sulit. Untungnya banyak guru-guru di sana yang banyak membantu, jadi ada translater,” ujarnya bersyukur. Keberadaan para guru yang membantu menerjemahkan maksud murid-muridnya sangat membantu mengingat keempat guru GGD termasuk dirinya tidak bisa berbahasa Sasak. Dia dari Jawa, sedangkan tiga guru lainnya berasal dari Bali.

Meskipun mengalami kendala bahasa, Renita bersyukur karena masyarakat Sekotong pada umumnya ramah. “Masyarakatnya sangat baik, sangat welcome sama kami, kami sering dibantu,” ujarnya bersyukur.

Ada juga tantangan lainnya, yaitu terutama pada musim panen hasil ladang atau sawah. Pada musim-musim panen, banyak dari muridnya yang ijin untuk tidak ke sekolah karena membantu orangtuanya panen.

“Waktu musim bercocok tanam, kadang mereka ijin tidak sekolah untuk membantu orangtuanya, “Bu, besok saya ijin ndak masuk mau membantu orangtua’,” cerita Renita menirukan murid-muridnya yang meminta ijin. Tentu saja, dia tidak akan bisa melarang karena untuk anak-anak di daerah terpencil dengan segala keterbatasan akses terhadap kemajuan, mereka sudah mau sekolah saja harus disyukuri.

Tantangan selanjutnya adalah, kurangnya buku dan alat-alat tulis serta penyampaian materi yang harus disesuaikan. Persoalan buku dan alat tulis, jelas Renita, telah ada saat ini, tapi belum cukup, khususnya buku-buku bacaan untuk murid-muridnya. Sedang untuk materi, harus ekstra sabar, dan tidak bisa seperti di sekolah-sekolah yang murid-muridnya sudah maju dengan akses terhadap pendidikan yang lebih mudah.

“Tidak bisa memaksakan materi-materi yang ada di buku harus tersampaikan semua, masih sangat sulit,” curhat Renita.

Ada lagi yang mengharukan dari sekolah yang baru dibangun tahun 2014 ini. Sekolah ini hanya memiliki 4 ruang kelas. Satu ruang untuk ruang guru. Tiga ruang untuk ruang kelas I sampai VI. Dengan kata lain, satu ruang kelas dipakai oleh dua kelas. Dan hanya satu ruang yang memiliki sekat antara satu kelas dengan kelas lainnya, sisanya terbuka.

KM penasaran, apakah tidak mengganggu kelas lain, mengingat dalam satu ruang kelas ada dua guru yang mengajar kelas yang berbeda pada saat yang bersamaan. Renita menjawab, caranya bergantian antara memberi tugas dan menjelaskan.

“Waktu satu guru menjelaskan, guru yang lain memberi tugas,” ujarnya menuturkan strategi yang disepakati dengan guru lainnya.

Seharusnya, lanjut Renita, ada enam ruang kelas dan satu ruang guru. Namun demikian, dia berharap akan ada penambahan ruang kelas, Renita memaklumi karena sekolahnya baru dibangun lima tahun yang lalu.

Memang, sambungnya, mengingat luasnya Desa Buwun Mas yang sebagiannya bertopografi perbukitan, ada 16 sekolah dasar di sana. Jarak antar sekolah ini bisa hingga 3 km lebih, dengan akses jalan kampung yang di bawah maupun di atas bukit. Dulu, ceritanya, sekolahnya filial dengan SDN 2 Buwun Mas. “Sekarang devinitif, dan belum lama dapat bantuan rehab,” jelasnya.

Mengajar di daerah terpencil, memang penuh tantangan. Bagi yang berjiwa petualang dan pantang menyerah menjadi menantang untuk ‘ditaklukkan’. Itulah yang dirasakan Renita. Pada awal-awal dia mengajar, para guru ‘menjemput bola’ yaitu datang ke rumah-rumah untuk mencari anak yang sudah cukup umur untuk sekolah.

“Awal-awal belajar, kita itu menjemput siswa, dicari satu-satu mana yang sudah cukup umur untuk sekolah kita ajak sekolah semua,” ceritanya yang kemudian menambahkan kesadaran mereka untuk sekolah sudah semakin baik.

“Saya malah suka, rasa tertarik untuk mengajar mereka itu malah tinggi, antusiasme mereka walaupun besoknya lupa lagi atau gimana, tapi mereka mau belajar,” sambung wanita berdarah Jawa ini.

Yang menarik lagi, lanjutnya, dia tidak perlu khawatir dengan murid-muridnya karena sibuk dengan gadget. “Di sana ga ada gadget, karena ga ada sinyal,” ujarnya.

 

Baca Juga :


Selain murid-muridnya ke sekolah dengan berjalan kaki melewati belakang bukit, karena kondisi ekonomi, banyak dari murid-muridnya yang memakai sandal ke sekolah.

“Kita ga bisa memaksa ‘kamu harus pakai sepatu!’, kita bebaskan, kalau ada sepatu dipakai, kalau tidak, tidak usah,” tutur Renita mengingat ketidakmampuan secara ekonomi sebagian muridnya.

KM juga bertanya lebih lanjut tentang statusnya, apakah ASN Pusat karena diseleksi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Kita sudah jadi ASN kabupaten (Lombok Barat), dari awal kita diseleksi di pusat tapi sudah diserahkan ke kabupaten,” cerita Renita yang saat diwawancara ditemani rekan gurunya, Kristina yang juga GGD, ditugaskan di SDN 1 Gili Gede Indah, Sekotong Barat.

Dia mengaku, pada awalnya telah menandatangani kontrak bermatre untuk tidak pindah ke tempat lain selama lima tahun. Keputusan Renita untuk memilih Lombok Barat, juga telah didukung keluarga, termasuk suaminya. Ada tiga alasan utama Renita memilih Lombok Barat. Pertama, sewaktu ikut tes, formasi di Jawa Timur hanya ada di empat kabupaten, itupun tidak ada yang sesuai jurusannya, sementara empat kabupaten di Lombok yaitu Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Utara, ada formasi jurusannya. Kedua, suaminya agak ‘jatuh cinta’ dengan Lombok, karena dulu pernah mendaki Gunung Rinjani. Dan ketiga, pilihan jatuh ke Lombok Barat, karena paling dekat dengan pelabuhan, sehingga gampang kalau ingin pulang kampung lewat laut melalui Surabaya.

Tantangan berikutnya, khususnya di sekolahnya yang posisnya di dataran yang agak tinggi adalah air. Air adalah kebutuhan pokok manusia. Namun, diakui Renita, di sekolahnya, air termasuk susah dan tidak ada toilet. Masyarakat banyak yang mengandalkan air sungai atau bahkan ladang. Sungai yang ada pun sering berfungsi sebagai Mandi Cuci Kakus (MCK). Kabar gembiranya, terang Renita, di masjid sekitar sekolahnya akan dibangun sumur bor yang mungkin bisa menjadi sumber air sekolahnya.

Renita berharap ke depan, pendidikan di Lombok Barat, lebih khusus lagi di sekolahnya, semakin maju dan fasilitas yang kurang termasuk ruang kelas dilengkapi.

“Semoga ke depannya anak-anak semakin rajin belajar, semoga fasilitas di sana juga bisa dilengkapi,” harapnya.

Kepada para guru, diharapkan, bisa lebih leluasa mengajar. “Untuk bersama-sama bisa lebih mengeksplore jati diri kita, cara mengajar kita, biar lebih enjoy mengajarnya,” ujarnya.

Ketika Renita menyebut ‘mengeksplore jati diri’, mengingat Indonesia punya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Nadiem Anwar Makarim yang muda dan smart, mulai terlihat dengan sambutan singkat namun berisi saat peringatan Hari Guru Nasional. KM bertanya tanggapannya dengan menteri baru tersebut. Dan ya, seperti yang mungkin dirasakan oleh banyak guru, Renita setuju dengan pandangan menteri.

“Kemarin waktu saya membaca pidatonya (menteri), terus terang saya sangat tersentuh dan sangat setuju dengan apa yang dikatakan menteri yang baru. Bahwasanya antara guru dan murid itu paling enak memang ada timbal balik. Ndak hanya guru yang ngajar, ndak hanya guru yang menyuarakan, muridnya benar-benar diajak untuk ikut aktif di kelas,” ujarnya bersemangat.

Demikian juga terhadap tugas-tugas administratif guru yang dirasanya kebanyakan, diharapkannya bisa dipadatkan, karena sesuai kata menteri, tidak ada korelasi yang positif dengan kualitas pendidikan. “Semoga ke depan bisa dipadatkan lagi, kita tidak hanya terbuang waktu mengerjakan itu, kita kan yang mengetahui siswa kita seperti apa, tanpa harus mengisi form yang itu pasti kita bisa,” harap Renita.

Dicontohkan Renita, dia memiliki satu murid yang pintar menggambar, harapannya muridnya tersebut lebih fokus pada kemampuannya itu daripada dijejali dengan banyak pelajaran lain yang tidak disukainya. “Kalau saya lebih suka minta dia mengeksplore cara-cara dia menggambar, tanpa harus “kamu harus pintar di sini, di situ,” ujarnya.

Selain suka duka yang sudah disebutkan, Renita menikmati tugasnya di Sekotong. Bahkan meskipun jarak yang cukup jauh, bagi Renita itu merupakan bonus, karena sebagiannya melewati pantai biru yang sangat indah.

“Kalau perjalanannya itu saya anggap bonus ke sekolah, kalau lewat Belongas, di sana pemandangannya memang sangat bagus, apalagi kalau sudah hujan begini, lautnya biru sekali, yang paling biru yang saya lihat sepanjang Lombok,” tuturnya dengan penuh syukur dan gembira.

Cerita Renita Andriyani, tidak akan bisa mewakili secara menyeluruh suka duka guru-guru yang ditempatkan di daerah-daerah terpencil, baik yang sudah berstatus ASN maupun yang honorer. Hal ini, karena banyak cerita yang mungkin lebih ‘menantang’ yang dirasakan guru-guru lainnya, terlebih para guru yang lebih lama lagi mengabdi di daerah-daerah 3T sejenis. Namun cerita Bu Guru Renita, paling tidak merepresentasikan semangat para guru di daerah terpencil untuk mengabdi, demi mencerdaskan generasi bangsa Indonesia.

Profil

Nama : Renita Andriyani

TTL : Madiun, 19 April 1989

Suami : Andik Indra Setiawan

Pekerjaan : Guru Garis Depan SDN 15 Buwun Mas, Desa Buwun Mas, Kec. Sekotong - Lombok Barat

Pendidikan : S1 Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Malang (UM), Malang

SMAN 1 Geger, Madiun

SMPN 1 Dolopo, Madiun

SDN 2 Bangunsari, Madiun

Mulai Mengajar: September 2017

Anak : Khaira Arta Malaika Setiawan (2 tahun)

Hobi : Traveling (jalan-jalan)



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2020 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan