logoblog

Cari

Pengembala Kambing Ke Negeri Sakura

Pengembala Kambing Ke Negeri Sakura

Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya.orang tua mana yang tidak sedih jika himpitan ekonomi menghalangi cita-citanya.orang tua

Sosok Inspiratif

HAERUL UMAM
Oleh HAERUL UMAM
06 Oktober, 2019 18:50:31
Sosok Inspiratif
Komentar: 1
Dibaca: 4284 Kali

Orang tua mana yang tidak menginginkan anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya.orang tua mana yang tidak sedih jika himpitan ekonomi menghalangi cita-citanya.orang tua mana yang tidak bangga anakanya bisa kuliah ,bahkan bisa ke luar negeri tanpa biaya.keadaan inilah yang di rasakan MUHAMMAD SALEH SOFYAN santri asal pedalaman NTB.Dan program beasiswa santri berprestasi (PBSB) kemenag RI memenuhi harapan itu,memberikan kesempatan bagi para santri untuk kuliah di perguruan tinggi ternama tanpa memikirkan uang kuliah,bahkan kebutuhan sehari-hari selama perkuliahan.

 

Dan sofyan adalah salah satu dari penerima Beasiswa program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB).Ia akhirnya bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi islam yang menjadi tujuan para santri,UIN Walisongo Semarang,Bersama santri dari penjuru nusantara,sofyan menempa ilmu yang tergolong langka,ilmu falaq.Awalnya sofyan ini tidak pernah membayangkan bisa menikmati pendidikan hingga perguruan tinggi,mengingat ekonomi keluarga yang serba kekurangan,bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun masih sulit.informasi tentang PBSB,Sofan pun mencoba mencari keberuntungan dengan menjadi salah satu dari lima teman se pesantrennya yang mendftar seleksi PBSB.

 

Pucuk di cinta ulam pun tiba.sofyan menjadi salah dari sekian ratus santri yang lulus dalam seleksi PBSB.dengan beasiswa itu,sofyan tak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun sejak mulai menginjakkan kaki keluar rumah sampai selesai kuliah dan menyandang gelar serjana di perguruan tinggi pilihannya,karena semuanya sudah ditanggung oleh kementerian Agama.

Sofyan lahir 22 tahun silam,27 oktober 1992,di sebuah dusun yang jauh dari keramaian,desa Dakung,kecamatan praya tengah,kabupaten lombok tengah,Nus Tenggara Barat.untuk menuju desa kelahiran sofyan,siapapun harus melewati medan yang cukup terjal.jalan yang dilewati untuk mencapai desa dakung,hanya bisa di lalui pada musim panas.bungsu dari 10 bersaudara anak pasangan amaq nurmini (akmar) dsn johariyah ini lahir dan tumbuh dalam kondisi ekonomi keluarga menengah ke bawah.

 

Pendidikanya dimulai di sekolah Dasar Negeri Jorong pada tahun 1999.berjarak satu setengah kilometer dari rumah,perjalanan itu di tempuh bocah berumur 7 tahun itu dengan berjalan kaki menyusuri pematanng sawah.sudah tentu melawan medan yang berlumpur untuk bisa tiba di sekolah.Dengan segala keterbatasannya sebagai anak seorang petani yang berpenghasilan tidak menentu,sofyan kecil baru memakai sepatu ke sekolah saat duduk di kelas empat SD itu pun sepatu bekas pemberian saaudaranya yang sudah tak terpakai.Bocah itu gembira,setidaknya sepatu itu cukup untk melawan dinginnya embun pagi yang bagai air es di atas pematang sawah.Aturan sekolah yang melarang muridnya memakai sandal,membuat sofyan sebelumnya harus pergi ke sekolah tanpa alas kaki.

 

Tidak seperti anak anak zaman sekarang yang sepulang sekolah bebas bermain dengan teman sebaya,walaupun usianya masih belia,sofyan sudah harus mengembala dan memberi makan kambing-kambing peliharaanya,sudah menjadi rutinitasnya sepulang sekolah,ia harus mengumpulkan rumput untuk memenuhi kebutuhan kambing hingga hari esoknya.Harapanya,anak-anak kambing itu nanti bisa dijual untuk meringankan beban kebutuhan sekolah nya.meskipun harus berjuang sedemikian berat,namun itu tak pernah membuat sofyan bermalas-malasan.tak pernah sehari pun,di luar hari libur,ia tidak masuk sekolah,Entah apa yang memotivasi dirinya hingga ia menjadi rajin belajar.

 

 

Baca Juga :


Lahir dan tumbuh dengan kondisi alam yang berat dan ekonomi yang serba pas-pasan serba kekurangan,sofyan tidak pernah patah semangat.kesulitan hidup itu justru memacunya untuk terus berprestasi,Alhasil,selama enam tahun duduk di bangku SD,hampir setiap caturwulan/semester ia selalu menempati peringkat pertama.

Selepas SD,pencarian ilmunya berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Praya Tengah (2005).perjuangan di jalan ini tidak kalah menantang.tiap hari,ia harus kuat berjalan sejauh lima kilometer menyusuri pematang sawah dan semak-semak liar,melawan sengatan matahari pada musim kemarau dan medan berlumpur pada musim hujan.Dengan medan seperti itu tak heran jika sepatu merk apapun hanya bisa bertahan setahun.sementara membelinya,butuh perjuangan yang lain lagi.karena itu agar bisa bertahan dan tetap bersih,maka sofyan dan teman-temannya seringkali memilih menenteng sepatunya dan baru dikenakan setelah tiba di sekolah.ia masih ingat betul ledekan tetangga melihat kelakuan sofyan yang kerap kali meneteng sepatu ke sekolah.Dengan nada sedikit mencibir salah seorang ibu mengatakan pada anaknya,”lihat itu nak,sofyan nenteng sepatu ke sekolah,”kenangnya.

 

Perjuangan dan pengorbanan orang tuanya kian terasa ketika sofyaan melanjutkan pendidikannya di pondok Pesantren Al—Ishlahuddiny,Kediri,Lombok Barat (2008).meski tinggal di rumah berlantai tanah,tapi selalu saja ada jalan yang mereka lakukan untuk dapat membuat anaknya melanjutkan sekolah.keinginan sofyan untuk membuat kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya senyum bangga pun makin menggebu.

Dari pesantren sofyan belajar banyak hal,kesederhanaan,ketulusan,dan keikhlasan,juga akhlakul karimah yang merupakan khas pesantren.di samping pemahaman mendalam tentang agama.tak hanya nilai kognitif,nilai afektif bahkan menjadi prioritas materi pengajaran pesantren.

Berkat doa dan restu kedua orang tua serta para gurunya di pesantren,sofyan kemudian menjadi salah satu dari empat santri dari NTB yang lulus seleksi PBSB.Beasaiswa dari kementerian agama ini telah mengantarkan anak petani dari kampung di pelosok lombok tengah,berkesempatan menghirup udara perguruan tinggi,beban orang tua untuk menanggung biaya kuliah dn kebutuhan hidup selama belajar,di tanggung sepenuhnya oleh program ini.kabar gembira lulus tes seleksi PBSB di UIN Walisomgo,membuat orang tuanya tersenyum bangga dan tentu saja lega.

 

Siapa yang menyangka,bocah yang tadinya pengembala kambing di pedalaman NTB bisa menginjakkan kaki di Jepang,yang merupakan program pertukaran mahasiswa dan pemuda jepang-Asia Timur.program ini dibiayai oleh japan international cooperation center (JICE) dan kedutaan besar Jepang di Indonesia bekerja sama dengan pusat pengkajian islam dan masyarakat (PPIM) UIN Jakarta.dengan menyingkirkan lebih dari dua ribu mahasiswa pesaing.Sofyan sang pengembala kambing menjadi salah satu dari 96 mahasiswa dan menjadi satu satunya yang berasal dari almamaternya,UIN Walisongo Yang beruntung berkunjung selama sepuluh hari di negeri Sakura.

Apa yang di dapat oleh sofyan,tentu tidak serta merta hasil usahanya sendiri.Harapan dan usahanya yang gigih serta niatnya yang tulus membanggakan orang tua bertemu dengan kesempatan emas program Beasiswa Santri Berprestasi,”saya berharap,semua santri bisa ikut merasakan Beasiswa PBSB Kemenag,”tutur sofyan mengakhiri.



 
HAERUL UMAM

HAERUL UMAM

Haerul umam, lahir di desa Dakung kec. Praya tengah. Kab. Lombok Tengah. Provinsi NTB.. Kuliah di UIN MATARAM jurusan KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) No HP/WA: 087879183533 "Menulis merupakan cara agar karya kita tidak di lupakan"

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. HAERUL UMAM

    HAERUL UMAM

    08 Oktober, 2019

    Terus berkarya


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan