logoblog

Cari

Dalang Cilik Lombok Barat Akan Tampil di Jakarta

Dalang Cilik Lombok Barat Akan Tampil di Jakarta

Giri Menang, KM. Rahardian Reno Wardana (12 tahun), akrab disapa Reno. Dalang cilik asal Desa Gerung Kecamatan Gerung-Lombok Barat ini, akan

Sosok Inspiratif

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
28 Agustus, 2019 08:10:21
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 2142 Kali

Giri Menang, KM. Rahardian Reno Wardana (12 tahun), akrab disapa Reno. Dalang cilik asal Desa Gerung Kecamatan Gerung-Lombok Barat ini, akan tampil dalam gelaran Fetival Pewayangan tingkat nasional di Jakarta 19-21 September mendatang. Reno, satu-satunya wakil dari NTB untuk mengikuti festival pewayangan. Di Jakarta nanti, Reno akan bersaing dengan 23 dalang daerah se Indonesia.

Ditemui usai latihan, siswa kelas satu SMPN 1 Gerung ini mengatakan, kegiatan festifal bukan hal baru. Bagi anak pertama dari pasangan Dani Eko Nurbuwono dan Baiq Anjar Sri Katon ini, darah seni dalangnya tentu merupakan titah dan aliran seni yang mengalir dari sang kakek H.Lalu Nasip AR, dalang kondang yang kesoho seantero Lombok ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Reno sering mewakili NTB dalam kegiatan yang diprakarsai oleh Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi). Sementara di dalam daerah, Reno sering tampil di beberapa tempat seperti di Udayana-Mataram, Dompu, Sumbawa, Pantai Kuranji-Labuapi, Gedung Seni Budaya-Narmada dan di Lombok Tengah.

“Saya mulai dilatih jadi dalang sama ninik (kakek) sejak masih duduk dibangku TK sampai sekarang,” cerita Reno kepada KM usai latihan malam lalu. Kata Reno, kegiatan dalangnya berawal dari sang kakek yang sering membawa Reno ikut kemana saja jika di tanggep (tampil). Sejak usia dini itulah, Reno jadi mulai tertarik dan mengenal dunia wayang.

“Saya ingin meneruskan jejak Ninik (kakek) sebagai dalang terkenal seperti Ninik," kata Reno yang didampingi sang kakek sekaligus pelatihnya Minggu malam (26/8/2019).

Diiringi alunan musik gamelan, tangan Reno terlihat lincah memainkan wayang kulit. Kelincahan dan kepiawaian tangan yang dalam bahasa wayang disebut ‘sabetan’, bagi Reno sudah menampakkan keahliannya. Diringi dialog dengan suara khas masing-masing tokoh. Baik Locong, Amaq Keseq, Inaq Litet, Amaq Amet sudah dihapal sesuai dengan karakter dan aksen suara masing-masing tokoh rakyat biasa ini. Demikian juga dengan bahasa pewayangan, dari dialog raja-raja seperti Wong Menak (Jayengrane), Putri Munigarim, Umar Maye, Umar Madi, Raden Maktal dan Selandir. Tokoh-tokoh ini, dari sisi bahasa, aksen suara serta watak tokoh spiritual ini, bagi Reno sudah hafal semuanya. Demikian juga tokoh-tokoh antagonis lain seperti Bala-Bala, tokoh raksasa dan lannya.

Sabetan itu yang menjadi tontonan seru saat Reno berlatih. Ditemani sang kakek, Reno nampak serius mengikuti beberapa instruksi. Sesekali Reno ditegur jika dialog tokoh disampaikan telalu cepat.

Terpisah, Dewan Kesenian Bidang Karya dan Budaya Lombok Barat H. Sapoan mengatakan, festival pealangan ini diselenggarakan untuk merangsang minat dalang cilik agar terus mengasah teknik pedalangannya. Melalui festival ini kata Sapan, generasi pedalang akan tetap terjaga dan tidak punah.

"Festival ini juga sebagai ajang silaturahim antar dalang cilik se-Indonesia serta menjaring bibit-bibit agar tetap mencintai seni dalang,” harap Sapoan.

Sapoan berharap, fungsi wayang salah satunya sebagai sarana edukasi dan budi pekerti bagi anak bangsa khususnya di Lombok. Diharapka dalam festival ini, semua Kabupaten/Kota bisa mengirimkan utusanya setelah diseleksi di Pepadi NTB.

 

Baca Juga :


Menurut Sapoan, tahun ini setelah Pepadi NTB melakukan seleksi di semua Kabupaten/Kota, pihaknya telah memutuskan untuk memilih Reno, dalang cilik yang telah memenuhi kriteria untuk mewakili NTB di Jakarta.

Ditemui di rumahnya di Gerung, Pedalang senior H. Lalu Nasip, AR menjelaskan, kriteria penilaian di ajang ini mulai dari Sabetan (Peran), Sastra dan penyuluhan atau sosialisasi serta pesan pemerintah. Baik wayang Jawa, wayang Sasak dan wayang Bali itu beda. Wayang Jawa, tokoh seta alur cerita yang ditampilkan mengacu dalm peran Ramayana, Sementara wayang Bali diambil dari cerita Maha Barata. Sedangkan wayang Sasak, sumber cerita mengangkat hikayat Amir Hamzah yang sarat nuansa Islam dengan dakwah-dakwahnya.

Wayang Sasak lebih kepada dakwah pengembangan agama Islam sesuai platpon cerita yang sudah memiliki pakem. Dengan mengambil cerita negara Malandapura, tokoh Jayangrane berperan sebagai Amirulmukminin di bumi Mekkah.

Menurut lalu Nasip, dalam rangka mengikuti festival, Reno sejak sebulan lalu sudah mulai dilatih. Tujuannya agar lebih siap dan mantap dalam Ajang Festival di Jakarta nanti.

"Mudah-mudahan besok wayang Sasak masuk nominasi dan bersaing dengan 23 Provinsi dari seluruh indonesia," harap Lalu Nasip.

Dalam mengikuti festival nanti, Reno akan diorbitkan sebagai Pedalang wayang millennial. Artinya, dalam penyampian dialog bisa menggunakan bahasa Indonesia dikolaborai dengan bahasa Sasak. Namun tidak mengurangi keasrian wayang itu sendiri.

“Saya berharap, semoga ada dalang lain yang terus termotipasi untuk mengikuti jejak Reno, sehingga wayang Sasak tidak terus punah,” harap Mamiq Nasip.



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan