logoblog

Cari

Sang Penggagas Minat Baca Warga Kampung

Sang Penggagas Minat Baca Warga Kampung

Kata ‘Roah’ (Rowah) bagi kebanyakan warga kampung, identik dengan ‘begawe’ atau kenduri. Namun bagi Husnul Khotimah, rowah dikolaborasikannya dengan kegiatan bermanfaat.

Sosok Inspiratif

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
01 Agustus, 2019 20:37:06
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 2669 Kali

Kata ‘Roah’ (Rowah) bagi kebanyakan warga kampung, identik dengan ‘begawe’ atau kenduri. Namun bagi Husnul Khotimah, rowah dikolaborasikannya dengan kegiatan bermanfaat. Rowah gagasan Husnul ini, tidak lagi berbentuk dulang sesaji layaknya tradisi begawe. Namun bagi perempuan warga dusun Jelateng, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar-Lombok Barat ini, mampu mengajak seluruh warganya untuk sama-sama memberantas buta huruf. Melalui kegiatan Roah Literasi, Husnul merekrut sejumlah teman warga setempat. Mereka adalah sebagai teman berbagi sekaligus relawan. Layaknya seorang relawan, Husnul dkk. akhirnya mencetuskan sebuah ide. Ide dan gagasan ini akhirnya bermuara pada pengembangan edukatif yang fokus pada kegiatan gemar membaca. Tidak sampai di situ, tapi melebar sampai kegiatan-kegiatan melatih mental seperti bercerita, mengambar, menulis dan kempuan skil. Sasarannya adalah, anak-anak usia sekolah. Mulai dari usia PAUD, TK, SD dan SMP sederajat.

Hari, minggu, bulan dan tahun terus berlalu. Waktu terus terus berjalan. Manis dan getir kehidupan kala itu silih berganti. Kehidupan itu bagai gelombang di lautan. Gelombang dan laut memang punya manfaat, tapi hati-hati, jangan sampai hanyut oleh riak dan gelombang lautan. Ternyata sebuah petuah sarat makna yang dilontarkan Husnul, wanita kelahiran 31 Desember 1987 ini.

Ketika Husnul berbincang-bincng dengan Penulis KM, banyak hal yang bisa dipetik dari pertemuan singkat ini. Terutama dalam hal realitas keseharian. Kata Husnul, semua mengenal presiden, direktur, jenderal, bintang pelajar, wirausahawan, petani, peternak, penerbang, pemimpin organisasi besar dan berbagai atribut sukses lainnya. Siapa mereka? Mereka adalah manusia-manusia yang ketika lahir tak membawa sehelai kain setipis apapun. Selain tak berdaya, merekapun tahu sipa dirinya. Siapa mereka? Mereka adalah yang tertidur terpejam, makanan pokoknya nasi, berjalan dengan dua kaki, memiliki waktu 24 jam sehari, pernah dan sering lelah dan sakit, memiliki sifat marah, lupa dan kadang stress. Alhasil, mereka adalah mahluk yang sebenarnya sama dengan kita yaitu, manusia.

Tapi mengapa mereka berbeda dengan yang lainnya? Mereka berbeda karena memiliki cita-cita yang jelas, motivasi yang tinggi dan tak pernah menyerah. Hidup bagi Husnul, layaknya seleksi alam, sarat kompetisi. Siapa yang berhasil menuju garis final, merekalah yang bertahan hidup. Hidup yang bukan sekedar hidup. Garis final sudah jelas, sarana dan prasarana telah tersedia. Namun ada dua syarat lagi menuju garis itu; cita-cita yang jelas dan motivasi.

“Cita-cita adalah jalan, motivasi adalah bensin, kendaraannya adalah diri kita dan waktu 24 jm,” ungkapan yang sarat inspirasi bagi Penulis yang akhirnya lebih memilih bengong dan kagum.

Semua yang tercatat dalam otak Husnul, ingin dituangkan kepada anak-anak penghuni Bale Baca Kerajaan Dongeng. Sebuah tempat yang sengaja digagas untuk anak didik menjadi seorang manusia. Manusia yang mampu meraih garis finalnya yaitu, cita-cita yang jelas dan motivasi.

Selintas ada pertanyaan bagi diri Husnul dan dijawab pula olehnya. Cita-cita dan motivasi ini apakah mampu diraih? Kenapa tidak? Mereka sama dengan kita. Ciptakan karya nyata, hadang tantangan, teruskan berjuang menuju garis final. Jangan menyerah, karena sukses bukan fatamorgana, tetapi realita.

Realita itu nyata. Realita ini dibuktkan dengan suksesnya kegiatan Roah Literasi. Sebuah kegiatan sarat makna bagi orang tua, anak didik dan semua pihak. Ini semua berkat cita-cita yang jelas dan motivasi.

Semula, Husnul bukanlah siapa-siapa, hanya sekedar gabugan dari sejumlah guru TK yang pernah ikut pelatihan bercerita. Mereka kemudian berdiri sebagai relawan pada Bale Baca Kerajaan Dongeng di negeri Jelateng, Desa Gegerung,Kecamatan Lingsar-Lombok Barat ini. Mereka para motivator ini bergotong royong, menguruk, menimbun dan memersihkan lahan seluas tidak lebih dari 2 Are ini. Di tempat inilah, berdiri sebuah bangunan konstruksi tradisional. Hanya beratap anyaman alang-alang, berdinding dari anyaman bambo dan pentilasi secukupnya. Namun bangunan berukuran 4x6 meter ini dimanfaatkan untuk proses aktivitas anak didik. Tidak saja aktivitas edukatif, tetapi juga mengarah pada pelajaran religi yaitu membaca al-quran dan tahfidz.

 

Baca Juga :


Masih dalam aktifitas penghuni Bale Baca Kerajaan Dongeng. Para relawan membentuk sebuah agenda bernama ‘Keraro Literasi’. Sebuah aktifitas yang menyasar tujuh kampung yang ada di Desa Gegerung. Para relawan ini membawa ‘keraro’ (bakul) berisi buku bacaan dengan cara menjinjing di atas kepala. Jika kampung yang disasar dirasa terlalu jauh, ya harus menggunakan kendaraan roda tiga berupa Tosa yang dipasilitasi pemerintah desa setempat.

Sekarang, Bale Baca Kerajaan Dongeng tidak lagi menjadi pemandangan dan aktifitas yang asing. Setiap sore, anak-anak didik dan orang tua yang berstus buta huruf, selalu mendapat bimbingan terutama bimbingn membaca.

“Saya senang sebagai relawan di Bale Baca Negeri Dongeng ini. Selain bisa berinteraksi dengan anak-anak didik dan orang tua serta warga, saya juga bisa sekaligus praktek mengajar,” kata Rismayani, salah satu relawan yang masih berstatus mahasiswi PGSD Unram ini.

Brkat ketekunan seluruh relawan, akhirnya pemerintah provinsi melalui TP PKK dan Kantor Bahasa NTB, memberikan penghargaan berharga. Sebuah kendaraan roda empat yang digagas untuk mobil cerita operasional.

“Kami tidak ingin banyak hal, tapi ingin bermimpi menjadi kenyataan untuk memiliki pasiltas membaca seperti buku. Dan pasilitas ini Alhamdulillah didapat dari Kota Mataram, Lombok Barat dan para donator,” kata Husnul Kotimah yang telah merasa mampu berjuang menuju garis final. Cita cita dan motivasi sudah ada di depan mata. Bale Baca yang digagas oleh Komunitas Kerajaan Dongeng, Yayasan Sahabat Anak dan Orang Tua, Kini para rlawan, perlu proses untuk berkomunikasi tentang gerakan positif ini. Dalam penggagasan, seluruh relawan menjadi kekuatn dalam gerakan ini, sehingga di Lombok, ada lima lokasi yang mampu digagas

“Ingat jangan menyerah, karena sukses itu bukanlah fatamorgana, tetapi sebuah realita,” kembali Husnul mengumbar kalimat yang kaya makna dan sarat inspirasi.

 



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan