logoblog

Cari

100 Tahun Bersama Lo'I Sabia

100 Tahun Bersama Lo'I Sabia

Terbukti memang kehidupan yang bergandengan, menjaga dan melestraikan hutan, maka hutan akan memberikan isinya yang bermanfaat serta menghasilkan ramuan-ramuan mujarab. Hutan

Sosok Inspiratif

Fahrurizki
Oleh Fahrurizki
26 April, 2019 06:58:23
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 2057 Kali

Terbukti memang kehidupan yang bergandengan, menjaga dan melestraikan hutan, maka hutan akan memberikan isinya yang bermanfaat serta menghasilkan ramuan-ramuan mujarab. Hutan adalah apotik terbesar dan terlengkap di dalam hutan berbagai tumbuhan yang tumbuh untuk berbagai macam obat-obatan.

Namanya Wa'i Kaliso atau biasa disapa Ina Safa, berasal di Kalemba, Desa kawuwu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima. Umurnya sudah akan mencapai seratus tahun. Kaget juga saya mendengarnya. Depan halaman rumah kayunya yang sudah mulai usang namun semangat Wa`i Safa untuk membuat ramuan dan obat herbal tidak tampak usang seperti kayu pada dinding rumahnya.

Desa Kawuwu sebuah desa yang terpencil berada di bagian utara kaki gunung Langgudu, desa yang sangat asri hutan-hutan masih terjaga, sumber air tetap ada untuk memenuhi keperluan seluruh penduduk Desa.

Menakjubkan memang melihat Wa`i Kaliso, di usianya yang mencapai satu abad masih sering keluar masuk hutan hanya untuk mencari ramuan-ramuan untuk dibuatkan minuman atau obat yang dikonsumsinya setiap hari. Biasanya Wa`I pergi kehutan saat pagi hari hingga menjelang siang. Kemudian segala macam tumbuhan yang didapatnya diolah didepan rumahnya dengan menggunakan peralatan seadanya.

 

Baca Juga :


Kebiasaan Wa`I ini mulai dilakukannya sejak kecil, kisahnya. Diajarkan oleh orang tuanya dahulu dan juga kini Wa`I mewariskannya cara pembuatan minuman tradisional ini kepada anak cucunya. Wa`i minum dengan rutin minuman dengan ramuan tradisional namanya Lo'i Sabia, adapun Lo`i Sabia terbuat dari bahan dasar Kunyit, kulit pohon Konca, dan Sabia. Setiap harinya Lo`I Sabia harus tetap diminum dan ada disamping, kata Wa`i.

Wa`i Kaliso sudah hidup dari zaman ke zaman, waktu zaman Hindia Belanda hingga kependudukan dai Nippon. Kini yang menjadi kenangannya pada masa lampau adalah satu peluru meriam yg dijadikan ulekan untuk menumbuk ramuannya. Peluru tersebut didapatnya di Rompo ketika pasukan Jepang meninggalkan pertahanan mereka di pesisir Langgudu, kisahnya.

Kini Wa`i hidup seorang diri dirumahnya, anak-anaknya sudah tinggal di rumah lain namun tetap pada satu desa. Kegiatan mencari ramuan di hutan tetap dilakukannya setiap pagi, kadang Wa`i menghimbau kepada anak muda yang ada didesanya untuk tetap melestarikan hutan.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan