logoblog

Cari

Perempuan Tangguh Di Pesisir Balat

Perempuan Tangguh Di Pesisir Balat

Sumbawa Barat. Diskominfo - Pekerjaan mencari nafkah selalu diidentikkan dengan sosok ayah, laki-laki, atau suami sebagai kepala rumah tangga sekaligus tulang

Sosok Inspiratif

Feryal Mukmin Pertama
Oleh Feryal Mukmin Pertama
04 April, 2019 20:30:20
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 918 Kali

Sumbawa Barat. Diskominfo - Pekerjaan mencari nafkah selalu diidentikkan dengan sosok ayah, laki-laki, atau suami sebagai kepala rumah tangga sekaligus tulang punggung keluarga. Hal ini sudah merupakan sunnatullah yang telah digariskan Allah SWT bagi hambaNYA. Namun demikian, perempuan yang kehidupannya tanpa suami harus menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mencari nafkah menghidupi keluarganya.

Sriani salah satunya, wanita berusia 46 Tahun yang menghabiskan hari-harinya untuk mencari pundi-pundi uang demi menafkahi keluarga. Perjuangan dan keikhlasannya dilakoni dengan menjual ikan bakar di lokasi wisata Pantai Balat, Desa Balat Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat.

Kerutan di keningnya jelas terlihat, duduk sambil mengipas-ngipas bara api yang mulai redup, tak lelah mengupas sabut kelapa tua sambil mengisahkan hiruk pikuk kehidupannya. Sriani bercerita bahwa ikan yang dijualnya dibeli dari nelayan yang berada di sekitar pantai. Namun, tak jarang pula Ia bersama cucunya mencari ikan di pantai saat air surut untuk dijual.

Sriani mempunyai 5 orang anak yang harus ditanggung semenjak sang suami meninggal dunia pada 2008 lalu karena sakit. Ketika suaminya meninggal anak terakhirnya masih duduk di bangku Taman kanak-kanak. Tentunya Ia ingin melihat semua anaknya sukses seperti kebanyakan orang. Anak terakhir adalah perempuan yang saat ini masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Susah senang dalam mencari nafkah telah Ia rasakan. Sekali waktu pernah ditawari bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Tetapi, Ia enggan menerima dikarenakan jarak tempuh dari desa ke lokasi kerja yang cukup jauh sementara gaji yang ditawarkan tak cukup jika dihitung dengan transportasinya setiap hari.

“Gaji gak seberapa sementara saya kerja sampai malam meninggalkan anak-anak”, tuturnya di lokasi Ia berjualan, sambil mengusap keringat di dahinya, Rabu (3/4/2019).

Sriani lebih memilih menjual ikan bakar karena lokasi pantai tempat Ia berjualan tidak jauh dari rumah. Pantai Balat juga menjadi salah satu ikon destinasi wisata yang terdekat dengan kota. Kondisi dan  keadaan yang serba kekurangan Sriani tetap semangat untuk menjalani hari menjadi tulang punggung keluarga.

“Jalan hidup saya memang sudah seperti ini, saya selalu bersyukur walaupun pendapatan sedikit yang penting ada buat makan”, Ucapnya bersemangat, dengan senyuman yang khas, tiada nampak lelah di kening.

Sriani mengungkapkan bahwa pasca terjadinya Gempa Bumi yang melanda Nusa Tenggara Barat pada November 2018 lalu pengunjung pantai Balat berangsur sepi dan hampir tak ada kunjungan sama sekali. Ia pernah mendapat penghasilan selama satu minggu hanya Rp25 ribu, sementara Ia harus membayar ikan yang diutangnya dari nelayan seharga Rp2 jutaan.

Tahun baru 2019 lalu, Ia menyetok ikan sebanyak mungkin untuk menghadapi liburan tahun baru. Keadaan berbeda dari tahun baru sebelumnya, Ia hanya mendapat Rp300 ribu. Hingga kini utangnya, Rp2 jutaan belum lunas dibayarkan ke nelayan.

“Sebelum Gempa saya biasa dapat Rp600 ribu kalau hari libur, kalau hari lain biasanya Rp300 ribu dan setelah Gempa pendapatan saya hanya sedikit itupun tak cukup untuk sehari-hari,” Keluhnya, dengan nada sedikit lirih.

Di tengah kesulitan hidup Sriani bersyukur dengan adanya bantuan pemerintah pada warga miskin dan biaya sekolah yang digratiskan. “Dulu tiga anak saya tidak tamat Sekolah Dasar karena keterbatasan biaya dan juga karena membantu orang tua mencari ikan, tetapi saya bersyukur saat ini dua anak saya bisa sekolah gratis.” Tuturnya.

Saat ditanya lebih jauh, apa yang diinginkan dari pemerintah, Ia menjawab cuma butuh bantuan modal sehingga Ia bisa berjualan tanpa berhutang. Ia juga mengeluhkan keadaan pantai Balat yang makin lama semakin kotor tidak tertata, karena jika pantai nya kotor maka wisatawan tidak akan datang ke pantai tersebut.

“Saya berharap pemerintah mempercepat penataan pantai Balat sehingga banyak yang kan berkunjung ke sini dan kami pun bisa mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga kami.” Harapnya sambil tersenyum. (Feryal/tifa/Syaifullah.)

 

Baca Juga :




 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan