logoblog

Cari

Dari Kadus Hingga Seniman Miniatur Klasik

Dari Kadus Hingga Seniman Miniatur Klasik

“Time is Money”. Ini semboyan hidup Gian Alimudin. Kepala Dusun (Kadus) Gubug Beleka, Desa Jembatan Gantung - Lembar ini pun, tengah

Sosok Inspiratif

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
01 Februari, 2019 09:31:00
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 12138 Kali

“Time is Money”. Ini semboyan hidup Gian Alimudin. Kepala Dusun (Kadus) Gubug Beleka, Desa Jembatan Gantung - Lembar ini pun, tengah menekuni sebagai seniman miniatur klasik. Seperti apa perjalanannya?

Selepas SMA tahun 2009 silam, saya tak pernah bercita-cita menjadi seorang Kepala Dusun (Kadus). Yang terbersit adalah, bagai mana hidup dan kehidupan berjalan normal. Layaknya seorang pemuda yang memiliki tekad dan keberanian. Tekad, agar berhasil positif, berani menghadapi resiko, dalam kondisi yang serba sulit sekalipun…..

Saya tidak mau kalah sama orang “kowok aiq” (orang asing) yang mengatakan, time is money. Maksudnya, waktu itu sangat berharga. Justru kata itu yang memotivasi saya untuk berkiprah positif. Mendorong saya, agar benar benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena sejatinya, manusia sama-sama memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Kenapa tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat?

Saya mulai merenung. Dan satu pertanyaan akhirnya muncul. Haruskah saya membuang percuma waktu yang demikian berharga? Menjawab pertanyaan itu, di tengah kekalutan, akhirnya samar samar saya temukan jawaban. Saya harus hijran, keluar meninggalkan kampung halaman. Kampung yang telah membesarkan jiwa dan raga saya. Maka, Kalimantan Timur pilihan bagi saya. Kepergianku dibarengi dengan tekad dan keberanian. Tekad dan keberanian ini, tak lupa saya tunjukkan kepada Allah SAW, karerna kepadaNya, saya harus berserah diri, memohon agar diberi ketabahan, kesehatan dan kesempatan.

Setelah semua saya anggap matang, saya pun menemui Amaq dan Inaq. Ba’da sholat Magrib, saya singkap sedikit tirai gorden pintu kamarnya. Saya temukan Inaq sedang berdoa, menengadahkan tangan. Dia terlihat kaget dengan kehadiranku. Selain kaget dengan suara pintu yang terbuat dari anyaman bambu itu terkuat. “Inaq….saya pamit, besok pagi pagi sekali saya berangkat ke Kalimantan. Mohon doa agar saya berhasil membawa hasil yang halal,” saya gapai tangan Inaq dan menciumnya penuh kasih. Inaq sesaat terdiam, tetapi kemudian melempar senyum. Senyum yang seperti dipaksakan tampaknya.

Sesaat saya memandang wajah Inaq. Kerut-kerut yang malang melintang di wajahnya, menandakan perjalanan sejarah. Pahit getir dan hitam putih kehidupan, telah lama dikenyamnya. “Iya Nak pergilah, tapi setelah berhasil pulanglah, karena saya sudah tua, saya khawatir saja….,” kata Inaq haru.

Mendengar ucapan Inaq, saya kian mengerti. Kata khawatir yang diucapkannya, saya bisa simpulkan bahwa, Inaq tidak ingin kalau sewaktu-waktu dipanggil Tuhan, lalu saya tidak hadir dalam pemakamamnya. “In syha Allah Inaq, semoga Allah memberkati umur yang panjang,” kata saya menghibur, lalu menghampiri Amaq. Mereka berdua ikhlas melepas kepergianku ke Kalimantan.

Singkat cerita, selama empat tahun di Kalimantan, saya membawa hasil yang cukup. Gaji sebagai buruh kelapa sawit, cukup untuk biaya pernikahan dengan seorang gadis tambatan hati. Dia adalah istri saya yang sekarang, Lia Kusumawati, sampai akhirnya dikaruniai seorang putra, Alvino Giantara Aprilio.

Tahun pertama pernikahan, pendapatan keluarga masih belum stabil. Dalam situasi itu, keluarga dan sahabat menawarkan, agar saya ikut mencalon diri sebagai Kepala Dusun (Kadus). Alasan mereka, selain saya memiliki potensi jiwa seni, kata mereka, saya bergaulnya supel. Tidak sombong, selalu menghargai pendapat orang lain. Memang kalau dipikir, seni adalah bagian dari hobi saya. Sementara dalam bergaul selalu dibatasi. Artinya, membatasi siapa mereka, baik atau burukkah? Jika mereka ada yang suka memusuhi, memfitnah atau mungkin bertempramental, saya harus menjauhinya. Bukan berarti harus melepas tali silaturahmi.

Setelah lulus sebagai kadus, kesibukan kian menumpuk. Urusan pemerintah di tingkat dusun datang silih berganti. Ada warga yang meminta bantuan membuatkan KTP, KK, urusan nikah, sampai berhadapan dengan percekcokan warga. Semua harus selesai dan damai.

Di luar urusan kadus, saya terus berimajinasi dengan karya-karya yang bernilai seni tinggi. Tetapi secara khusus, saat ini saya tengah menggeluti seni miniatur klasik. Karena dia klasik, saya fokus pada tema kehidupan masyarakat sebagai petani, tukang sapu, penarik becak, penggembala sapi, atraksi perisaian, dan banyak aktifitas warga yang ditampilkan dalam bentuk miniatur.

 

Baca Juga :


Awalnya saya tidak mengira, menggeluti seni miniatur klasik ternyata banyak yang suka, banyak peminatnya. Padahal, menggeluti seni miniatur klasik ini tergolong baru. Belum berjalan setengah tahun, tapi sudah ada pembeli dari Bali. Ada juga peminat personal dengan cara mendatangi galeri saya di Dusun Gubug Beleka, Jembatan Kembar kecamatan Lembar. Lokasinya tidak jauh dari SPBU.

Sejak masih di SMA dulu, guru kesenian sering mengajarkan seni miniatur ini. Seni yang diam-diam menginspirasi saya agar terus berkarya mendalaminya. Seni miniatur ini, merupakan seni membuat duplikat dari suatu objek yang ukurannya lebih kecil dari ukuran dan bentuk aslinya. Karena ukurannya kecil, jadi banyak yang suka untuk dipajang di atas meja tamu, buppet atau tempat-tempat interior lainnya. Satu jenis miniatur, jika dikolaborasi dengan sentuhan lighting remang-remang, pencahyaan khusus, maka akan menambah kekayaan seni yang berpadu. Perpaduan antara lighting, objek miniatur serta interior yang saling mendukung.

Karena seni ini klasik, maka sarana yang digunakan adalah karung goni, lem U (lem China), kawat, dan tang. Galeri yang berukuran 3 x 3 meter, cukup untuk menampung inspirasi, menciptakan kreasi dan inovasi dalam bentuk seni miniatur. Sekarang sudah tertampung puluhan hasil seni miniatur. Namun selama ini, masih terbentur marketing yang belum maksimal, termasuk dukungan modal. Bahkan bahan karung goni semakin hari semakin sulit didapat. Langkanya karung goni ini, saya sudah menemukan ide untuk menggantinya. Ya, kulit jagung yang saya kira tak kalah klasiknya dengan karung goni.

Selain kulit jagung, ada juga benang kasur. Kedua bahan ini berpotensi jika karung goni sudah langka, tidak bisa ditemukan lagi. Sementara bahan-bahan lain seperti lem U, kawat dan lainnya, semua mudah didapat. Tetapi yang lebih sulit didapat adalah soal inspirasi. Inspirasi itu datang tiba-tiba dan tidak mengenal waktu. Inspirasi hadir kadang tengah malam, pagi hari, saat siang, dalam perjalanan bahkan saat BAB pun inspirasi itu datang. Untuk itu, inspirasi sangat mahal harganya. Inspirasi inilah yang selalu dinantikan oleh seniman perupa, penyair ataupun seniman miniatur yang tengah saya geluti ini.

Karena mahalnya soal inspirasi, terkadang peminat tidak peduli dengan sulitnya mendapatkan inspirasi. Mereka hanya meminta karya saya sebagai kenang-kenangan. Tidak pernah terlitas, karya seni itu dihargai dan bentuk nominal. Mereka belum mengerti kalau Inspirasi itu mahal. Tantangan dan keluhan ini yang segera saya netralisir. Saat ini, soal marketing masih menggunakan jasa Online (OL) di media sosial (medsos). Selebihnya, peminat datang langsung ke galeri saya, membeli 1-2 buah miniatur.

Yang sangat menyenangkan, setelah memposting karya seni miniatur saya di YouTube, Alhamdulillah, ada telfon dari warga Denpasar - Bali. Mereka memesan karya saya dan memborongnya seharga Rp.800 ribu. Untuk sementara, saat ini saya off dulu berkarya. Karena saya sedang membantu warga yang membutuhkan bantuan urusan KTP, KK dan semua terkait data kepemilikan lainnya.

Yang penting adalah, saya bisa mengatur ritme waktu. Menggunakannya sebaik mungkin. Saya tidak ingin seperti ada orang yang kadang berkata pesimistis. “Ah, saya tidak ada waktu….Ah saya kehilangan waktu, Aduh, waktu saya tidak cukup.” Sebenarnya, orang seperti ini yang belum punya target dalam hidupnya. Dia tidak berfikir kalau sebenarnya waktu itu sangat berharga. Setiap orang memiliki waktu 24 jam dalam sehari.

Sekarang, saya ingin kembali menekuni seni miniatur. Namun dengan segala keterbatasan modal, saya tetap jalani kecintaan saya sebagai seniman miniatur klasik. Tentu, di balik keterbatasan itu, semoga ada lembaga, pemerintah, swasta, individual, dermawan pemilik modal……berkenan membantu dalam hal pengembangan seni miniatur klasik.

Jika ini bisa berkembang, omzet meningkat, produksi berlipat ganda, maka tak bisa dipungkiri lagi, pendapatan pun bisa diperhitungan. Kesejahteraan di kampung Gubug Beleka, Desa Jembatan Gantung, bisa terealisasi, sehingga kesejahteraan melalui perekrutan tenaga kerja pun tak bisa ditawar-tawar lagi. L.Pangkat Ali



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan