logoblog

Cari

Relawan Kita: Dari Masyarakat, Untuk Masyarakat

Relawan Kita: Dari Masyarakat, Untuk Masyarakat

“…karena saya penyintas, siapa lagi kalau bukan saya yang selamat yang lebih dulu bergerak? Orang-orang luar saja begitu semangatnya membantu masyarakat

Sosok Inspiratif

Ela Qadr
Oleh Ela Qadr
21 November, 2018 14:55:54
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 4573 Kali

“…karena saya penyintas, siapa lagi kalau bukan saya yang selamat yang lebih dulu bergerak? Orang-orang luar saja begitu semangatnya membantu masyarakat di daerah kita, meninggalkan anak, istri, dan keluarga mereka. Lantas kita hanya akan diam menonton? Tentu tidak.” (Triyatmi Budiarsih, salah satu relawan Yayasan Wahana Visi Indonesia)

Bencana alam gempa bumi yang melanda Lombok sejak 29 Juli 2018 menyematkan duka yang mendalam bagi setiap warga di seluruh penjuru Pulau Lombok. Rentetan gempa bumi yang terjadi pada pagi hari, di siang hari, dan juga di malam-malam gelap nan mencekam, tidak satu pun dapat diprediksi. Begitu banyak korban meninggal dunia dan luka-luka, serta kehilangan tempat tinggal. Berbulan-bulan warga harus tinggal di pengungsian dan bergantung pada bantuan para donator. Tapi, warga tentunya tidak sendiri menghadapi ini. Para relawan datang dari berbagai penjuru, bahkan dari mereka yang juga merupakan korban terdampak gempa. Salah satunya ialah Triyatmi Budiarsih, seorang relawan dari Yayasan Wahana Visi Indonesia.

Remaja yang kini tengah menempuh pendidikan semester tujuh di Universitas Mataram ini tidak tinggal diam ketika bencana alam memporak-porandakan kampung halamannya, Sembalun, Lombok Timur. Meskipun berjarak puluhan kilometer dari tempatnya menuntut ilmu, ia dengan segera kembali pulang ke rumah, menuruti panggilan jiwa dan kegetiran hatinya. Di rumah, tidak banyak yang bisa dilakukan selain membantu mendata para korban yang meninggal dunia, luka-luka, dan kehilangan tempat tinggal. Hatinya semakin rapuh ketika menyaksikan anak-anak yang tidak dapat lagi bersekolah dan bermain seperti biasanya. Pun, menyaksikan para warga yang kehilangan bagian-bagian dalam hidupnya: tempat tinggal, keluarga.

Mimi, sapaan akrabnya, mungkin tidak sehebat relawan- relawan lainnya. Tapi, ia dengan semangat yang terus membara melawan berbagai kendala untuk terus menolong sesamanya. Berkali-kali mendaftarkan diri kepada Non Government Organization (NGO) kemanusiaan, tapi semua sudah terisi penuh oleh relawan yang lebih dulu mendaftar. Namun niat baiknya untuk terus ikut membantu, kemudian mempertemukannya dengan sebuah Yayasan Sosial Kemanusiaan Kristen bernama Yayasan Wahana Visi Indonesia. Yayasan Wahana Visi Indonesia adalah sebuah  yayasan sosial kemanusiaan yang bekerja untuk menciptakan perubahan yang berkesinambungan pada kehidupan anak dan keluarga tanpa membedakan agama, ras, jenis kelamin, dan perbedaan lainnya. Yayasan ini berada  di bawah naungan Kementerian Sosial, bukan Agama.

Membawa label Kristen tidaklah mudah baginya, terlebih ketika harus berhadapan dengan warga yang belum paham betul dengan yayasan ini. Beberapa kali sempat mendapat penolakan dan bahkan diusir dari sebuah Kantor Desa. Tapi ia tetap bertahan dalam yayasan kemanusiaan tersebut, mau tidak mau. Paling tidak, ada wadah untuk melayani masyarakat. “Jika sendiri saja tentu tidak bisa,” katanya. Tapi niat baik tentu akan selalu menemukan jalannya. Kerja keras dan semangatnya menjadi motivasi untuk tetap melakukan aksi kemanusiaan. Hingga kini, ia terus giat membantu sesama. Bahkan Kantor Desa yang dulu mengusirnya kini telah menjadi desa binaan. Dua  lokasi yang menjadi pusat kegiatannya yaitu di Desa Tanjung, Desa Sokong dan Bayan, KLU,  dan Desa Sambelia dan Sembalun, Lombok Timur.

Selain mengalami penolakan beberapa kali, ia juga harus mampu melawan berbagai kendala. Mulai dari membagi waktu untuk kegiatan kampus dan juga membagi waktu untuk menjadi relawan tentunya. Baginya, sulit untuk menentukan salah satu di antara keduanya karena dua hal tersebut sama baiknya dan sama-sama layak untuk diperjuangkan. “Menjadi tenaga kemanusiaan itu bukan hanya tentang menyampaikan amanah dari para donator ke masyarakat yang membutuhkan, tapi juga menjalankan amanah kasih dan sayang dari Tuhan,” jelasnya.

 

Baca Juga :


Melalui kegiatan kemausiaan tersebut, ia mulai paham tentang bagaimana memanusiakan manusia, bahwasanya  tidak ada batasan dalam tolong menolong. Menjadi relawan, baginya, memberikan kelegaan batin. “Menjadi relawan bukan hanya tentang bekerja keras membantu masyarakat kembali ke kondisi normal pasca gempa, tapi juga tentang bagaimana menciptakan hubungan batin yang positif dengan masyarakat. Setidaknya kehadiran kita bisa menghadirkan kembali beberapa bagian hidup mereka yang hilang pasca gempa,” ungkapnya. Mimi kini telah resmi menjadi staff Yayasan Wahana Visi Indonesia  dan dikontrak selama 4-5 tahun. Ke depannya, ia tidak hanya ditempatkan sebagai relawan di Lombok melainkan di berbagai daerah di Indonesia.

Relawan, dari manapun, siapa pun, semoga Allah menguatkan niat-niat baik mereka. Aamiin.

#LombaNtbKita



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan