logoblog

Cari

Tutup Iklan

Harapan Dan Doa Inak Tarwiyah

Harapan Dan Doa Inak Tarwiyah

Hari itu Kamis 26 September 2018 di Dusun Batu Butir, Gunung Sari. Mendung member ruang untuk berisitirhat sejenak dari panasnya matahari,

Sosok Inspiratif

Fahrurizki
Oleh Fahrurizki
16 November, 2018 18:56:00
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 1632 Kali

Hari itu Kamis 26 September 2018 di Dusun Batu Butir, Gunung Sari. Mendung member ruang untuk berisitirhat sejenak dari panasnya matahari, sudah satu minggu dan 30 rumah sementara yang kami bangun di dusun tersebut dari target 50 rumah sementara, haus dan gerah mulai menyerang tenggorokan, tiba-tiba datang seorang nenek sekitar umur 90-an membawa air minum dengan cerek tua warna silver miliknya, ‘silak’ katanya sambil menyodorkan cerek yang berisi air putih tersebut.

Terima kasih inaq, sahut saya untuk membalas kebaikan nenek tersebut. Dalam bahasa sasak (Lombok) inak untuk memanggil seorang wanita yang berumur. Setelah meneguk air putih segar pemberian inak tersebut sayapun bertanya pada warga Batu Butiryang ikur membantu kami membangun rumah sementara. Dia menjelaskan namanya Inak Tarwiyah tingga dibawah pohon kelapa 100 meter dari tempat kami bekerja.

Setelah satu rumah sementara selesai dibangun kemudian pindah ke lahan warga lainnya yang ingin dibangunkan rumah sementara di RT 02 Batu Butir, kebeteulan bersebelahan dengan rumah Inak Tarwiyah. Sesuad membangun rangka rumah dan jam menunjukkan puku 15.00 Wita dan adzan Ashar berkumandang, saya dan tim berisitirahat sejenak. Ketika beristirahat saya melihat Inak tarwiyah sendirian memungut reruntuhan dari rumahnya, lalu sayapun menghampiri dan membantunya.

Assalamualaikum, salam saya kepada Inak yang sedang asik memungut dan merapikan puing-puing rumahnya. Waalaikumsalam, sahut Inak sambil menyambut saya dengan senyumnya yang teduh. Langsung saya meringankan tangan membantu Inak untuk mengambil puing-puing, dengan bahasa sasaknya yang tidak saya mengerti, Inak menarik baju saya dan menyuruh duduk, kemudian tetangganya Ibu Rusmi datang menghampiri dan menjelaskan bahwa Inak Tarwiyah bilang “Bapak duduk istirahat saja, karena dari kemarin saya lihat bapak kecapean bantu bangun rumah warga”, kata tetangga Inak Tarwiyah yang mengartikannya.

  1. memungut puing dan berkeliling di rumah kecil Inak Tarwiyah, kondisinya sangat memprihatinkan, rumah kecil 2x3 meter tersebut retak dan hancur, di rumah kecil tersebut siapa saja yang tinggal tanya saya pada Ibu Rusmi, lalu dia bercerita bahwa Inak Tarwiyah sejak kecil sudah yatim piatu dan tinggal sebatang kara dirumah kecilnya itu hingga kini, rumah kecilnya inipun adalah bantuan dari pemerintah Desa yang kini sudah hancur. Lalu Ibu Rusmi menambahkan bahwa sejak gempa Lombok pertama, dia tidak pernah diberi tenda untuk tidur, biasanya dia tidur di emper rumah warga. Katanya tidak perlu bantuan jika masih ada tempat yang masih bisa untuk bernaung, kisah Ibu Rusmi tentang Inak Tarwiyah.

Pernah suatu ketika ada pembagian bantuan, dia coba-coba untuk meminta kepada seseorang penanggung jawab penyaluran bantuan, namun apa yang didapat oleh Inak Tarwiyah hanya sebuah bentakan kata kasar dari oknum tersebut yang mengatakan bahwa Inak tidak layak untuk mendapat bantuan, padahal bukan bantuan itu yang ingin Inak Tarwiyah, melainkan beliau mencari rasa simpati dan kepedulian sesama warga. Beliau pulang dengan kekecewaan atas ketidak pedulian tersebut. Namun semangatnya untuk bangkit tetap membara untuk tidak lagi dibantu oleh siapapun selama dia masih bisa bekerja, malah dia sangat rajin membantu tetangganya membersihkan puing dan masak, kisah Ibu Rusmi.

 

Baca Juga :


Saudara tirinya pernah mengajak untuk tinggal dulu bersama mereka, namun Inak enggan untuk menyusahkan orang lain, tambah Ibu Rusmi. Mendengar kisah Inak Tarwiyah tersebut membuat hati saya bergetar ternyata pada saat semua orang ingin dimanjakan oleh bantuan lain halnya dengan Inak Tarwiyah yang tetap bertahan hidup seperti biasanya walaupun dia sangat layak sebagai penyintas. Semangat hidup Inak tarwiyah memberikan motivasi kepada kami relawan muda untuk tetap semangat membantu sesama dan membuka hati kepedulian untuk kemanusiaan.

Akhirnya saya mengajukan kepada pimpinan Gerak Bareng, Ahmad Zaki. Untuk merehab rumah Inak Tarwiyah, dan niat baik itu disambut baik juga oleh pimpinan dan rumah Inak disetujui untuk direhab total. Awalnya Inak sempat menolak untuk tidak merehab rumahnya karena takut uang saya habis, katanya. Setelah di beri pengertian bahwa ini adalah bantuan dari orang-orang baik yang ingin Inak segera tinggal di rumahnya dan menjalani kehidupan seperti biasanya, diapun akhirnya setuju. Namanya juga Inak Tarwiyah tetap saja membantu kami membersihkan puing rumahnya. Setelah tiga hari merehab rumah Inak akhirnya rumah beliau selesai dan kini siap untuk dihuni. Yakinlah harapan dan doa pasti akan terkabul bila kita tetap semangat untuk bangkit dari keterpurukkan bencana.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan