logoblog

Cari

Tutup Iklan

Inovator Serbuk Anti Siput Bagi Petani

Inovator Serbuk Anti Siput Bagi Petani

KM. Pohgading Timur - Berangkat dari keinginan untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan mendasar yang dihadapi oleh para petani yang ada

Sosok Inspiratif

KM Pohgading Timur
Oleh KM Pohgading Timur
24 September, 2018 14:37:01
Sosok Inspiratif
Komentar: 2
Dibaca: 9027 Kali

KM. Pohgading Timur - Berangkat dari keinginan untuk mencari solusi atas berbagai permasalahan mendasar yang dihadapi oleh para petani yang ada di sekitar kampung halamannya, terutama menyangkut keseimbangan biaya produksi dengan hasil yang produksi, tingginya biaya produksi pertanian yang dialami oleh petani sekitar dan sulitnya mereka mendapatkan pupuk. Hal itu membuat Badri merasa terpanggil untuk membuat alternatif guna mengatasi berbagai permasalahan yang kerap dihadapi oleh petani sekitar. Karena rasa peduli dan memiliki sedikit pengetahuan dalam bidang biologi, maka Badri pun mencoba untuk memberi solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh para petani tersebut.

Badri anak ketiga dari enam bersaudara yang terlahir dari pasangan Sahrim (ibu) dan Sa’it (ayah) kelahiran tahun 1989 di daerah Sukamulia, Nusa Tenggara Barat. Awalnya  memulai pembuatan Serbuk Anti Siput ASA saat ia masih duduk di bangku kuliah semester IV pada Jurusan MIPA program Studi Pendidikan Biologi STKIP Hamzanwadi Selong.

Permasalahan mendasar lainnya yang dihadapi oleh petani yang ada di sekitaran kampung halaman Badri adalah masalah penangan penyakit dan hama pengganggu tanaman. Tidak jarang para petani gagal panen lantaran mahalnya harga insektisida dan pestisida kimia. Namun demikian, para petani tidak segan-segan untuk membeli barang tersebut dengan harapan supaya tanaman yang mereka budidayakan dapat mereka panen dengan hasil yang maksimal. Tetapi, pestisida dan insektisida tersebut tidak dapat mengalahkan hama yang menyerang tanaman mereka sehingga gagal panen terus mereka dapatkan yang artinya bahwa petani mengelurakan biaya yang cukup besar dengan hasil yang tidak maksimal atau dengan bahasa sederhananya para petani sering mengalami kerugian dalam bertani.

Sukses memproduksi ASA GREEN yang sejak tahun 2016 digunakan oleh para petani di berbagai wilayah nusantara, Badri-pun terus mengembangkan kreatifitasnya untuk melakukan eksperimen guna menemukan inovasi sederhana yang dapat membantu petani sekitarnya untuk mengatasi masalah hama, terutama hama ulat dan siput.

Badri melakukan ekperimen untuk menemukan solusi pada permasalah hama siput yang kerap mengganggu tanaman budidaya petani sekitarnya. Hama siput memang cukup merepotkan bagi petani, terutama petani tembakau, cabai dan sayur.Hama siput tidak jarang membuat petani yang ada di kampung halaman Badri mengalami kerugian sebab tanaman mereka banyak yang mati sebab pangkal batang tanamannya terpotong oleh hama siput.

Tanaman yang paling sering diserang oleh hama siput adalah tanaman tembakau dan cabai, sedangkan kedua jenis tanaman tersebut adalah komoditi utama pertanian masyarakat petani di kampung halamannya Badri (Desa Pohgading Timur). Permasalahan tersebut cukup merepotkan petani setempat, bahkan mereka sudah mencoba berbagai jenis insektisida dan pestisida kimia untuk membasmi hama siput yang menyerang tanaman mereka, namun mereka tidak juga menemukan obat jitu sebagai solusi atas permasalahan tersebut.

Melihat kenyataan itu, Badri mulai memutar otak untuk membantu masyarakat sekitarnya untuk mengatasi permasalahan hama siput yang menyerang tanaman budidaya mereka. Untuk mencari solusi itu, Badri mulai bereksperimen sejak bulan April 2016.Pemuda kampung yang terlahir di tengah-tengah keluarga petani itu melakukan eksperiman di sawah milik keluarganya.Awalnya ia melakukan eksperimennya pada tanaman cabe dan tembakau. Ia melakukan eksperimen pada dua jenis tanaman tersebut sebab kedua jenis tanaman itu biasanya ditanam secara bersamaan (tumpeng sari) oleh petani sekitar.

Eksperimen yang dilakukan Badri tetap pada konteks back to natural, dimana ia mencoba mengembangkan bahan-bahan alami untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi para petani. Pada awalnya, bahan alami yang coba digunakan oleh Badri untuk mengatasi hama siput adalah daun tembakau. Setelah melakukan eksperimen selama satu bulan (saat tanaman tembakau dan cabai berumur satu sampai tiga minggu setelah tanam) maka ia dapat melihat hasilnya. Ternyata serbuk daun tembakau yang digunakannya cukup efektif mengusir hama siput. Namun, kelemahannya, daun tembakau memang tidak sulit didapatkan, hanya saja diperlukan biaya besar untuk mendapatkan daun tembakau yang dibutuhkan sebagai bahan dasar pestisida anti siput yang dibuatnya.

Perlu diketahui bahwa hama siput paling senang menyerang tanaman tembakau dan cabai yang masing berumur satu hingga empat minggi setelah hari tanam. Oleh sebab itu, Badri melakukan eksperimen pada usia tembakau dan cabe sejak satu hingga empat minggu setelah hari tanam. Sekali lagi, hasil ekperimennya menggunakan serbuk daun tembakau cukup efektif mengatasi hama siput. Dengan menggunakan serbuk daun tembakau, hama siput yang menyerang tanamannya tidak mati, namun serbuk itu bisa membuat hama siput pingsan dan tidak berani lagi mengganggu tanaman yang sudah ditaaburi serbuk tembakau pada bagian pangkalnya.

Berangkat dari hasil ekperimennya tadi, Badri berpikir supaya mendapatkan bahan dasar yang merupakan sampah atau bahan yang sudah dibuang dan kerap menjadi permasalahan di lingkungannya.Ahirnya, pada buklan Juli 2016 Badri mendapatkan ide untuk mengembangkan Serbuk Anti Siput yang telah ditemukannya, yakni dengan menggunakan bahan dasar pelepah daun tembakau.

Perlu diketahui bahwa di sekitaran kampung halaman Badri (Desa Pohgading Timur) terdapat beberapa tempat pengolahan daun tembakau secara tradisional.Tempat pengolahan daun tembakau itu disebut SETAN TEMBAKAU. Di SETAN TEMBAKAU, para pengusaha tembakau beserta para pekerjanya mengolah tembakau secara tradisional, yakni dengan sistem cacah atau di dalam bahasa setempat disebut dengan namaBegecok(bahasa Sasak).

Pengolahan daun tembakau secara tradisional di kampung halaman Badri dan sekitarnya kerap menimbulkan permasalahan lingkungan sebab sebelum tembakau dicecah, daun tembakau tersebut terlebih dahulu dipisahkan dengan pelepahnya.Pelebahnya itu kemudian dibuang.Pelepah tembakau itulah yang kemudian menjadi sampah yang semakin hari semakin menumpuk selama musim panen tembakau hingga musim pengolahan daun tembakau berahir dan bahkan hingga beberapa bulan setelah musim produksi, pelepah tembakau itu menjadi tumpukan sampah yang mengeluarkan aroma tidak sedap.Aroma tidak sedapnya itulah yang kemudian menjadi permasalahan bagi lingkungan sekitaranya, belum lagi tumpukan pelepah tembakau tersebut juga menjadi tempat beremberionya lalat sehingga pada musim produksi tembakau, kampung halaman Badri dan sekitaranya dipenuhi oleh lalat yang kemudian sering menyebabkan warga sekitar sakit masal.Misalnya sakit diare dan demam atau bau pesing pelepah daun tembakau yang kerap membuat warga terserang penyakit batuk filek dan cukup berbahaya bagi warga yang mengidap asma.

Untuk mengatasi permasalahan hama siput yang jadi permasalahan dalam bidang pertnaian dan tumpukan pelepah daun tembakau yang menjadi permasalahan lingkungan maka Badri berinisitif membuat Serbuk Anti Siput dari bahan dasar pelepah tembakau. Ada beberapa keuntungan yang diperoleh Badri ketika membuat Serbuk Anti Siput dengan menggunakan pelepah daun tembakau, yakni: 1) Biaya produksi murah sebab pelepah daun tembakau tidak perlu dibelinya, 2) Mengurangi timbunan pelepah daun tembakau yang merupakan sampah pengolahan daun tembakau yang menjadi permasalahan di lingkungan sekitaranya dan 3) Membantu masyarakat sekitaranya untuk mengatasi masalah hama siput dan mengurangi danpak sampah pelepah daun tembakau.

Ahir Juli 2016, Badri kembali melakukan eksperimen di lahan pertanian keluarganya dengan memanfaatkan sepetak sawah dengan luas 4 are sebagai tempat bertanam tembakau dan cabai. Kini Badri mengatasi siput yang menyerang tanaman tembakau dan cabe-nya dengan menggunakan Serbuk Anti Siput yang dibuatnya dari pelepah daun tembakau yang telah ditubuk hingga halus. Serbuk Anti Siput itu ditabur di setiap pangkal batang tanaman tembakau dan cabai dan alhasil, tamannya terbebas dari serangan hama siput.

Mengacu dari hasil eksperimen tersebut, pada musim tanam tembakau di tahun 2017 (Februari – April 2017), Badri mengajak para pemuda yang tergabung dalam ASA Community untuk mengumpulkan sampah pelepah daun tembakau dan mengolahnya menjadi Serbuk Anti Siput kemudian mensosialisasikan kegunaannya kepada warga sekitar.Pada tahap awal pensosialisasian Serbuk Anti Siput buatannya, Badri tidak jarang mendengarkan cemoohan dari warga sekitarnya, namun demikian ia terus mensosialisasikan hasil temuannya dan menggunakannya pada lahan-lahan pertanian keluarganya.

Melihat hasil aplikasi Serbuk Anti Siput yang digunakan oleh Badri pada lahan-lahan pertanian keluarganya dan keluarga warga ASA Community yang cukup bagus yang dimana tanaman tembakau dan cabai mereka tidak rusak akibat serangaan hama siput maka petani sekitar ahirnya penasaran dan ingin mencoba Serbu Anti Siput buatan Badri. Di awal-awal, Badri memberi siapa saja yang mau menggunakan Serbuk Anti Siputnya secara geratis dan kini Serbuk Anti Siput tersebut telah banyak digunakan oleh petani sekitar bahkan petani tembakau dan cabai dari luar Kecamatan Pringgabaya.

Serbuk Anti Siput yang juga merupakan serbuk tanpa bahan kimia temuan Badri itu diterima baik oleh petani sekitar dan sejak bulan April 2017, petani Desa Pohgading Timur dan sekitarnya mulai menggunakan Serbuk Anti Siput temuannya Badri sebagai solusi dalam mengatasi masalah hama siput yang selama ini mereka hadapi dan terbukti bahwa Serbuk Anti Siput tersebut dapat mengatasi hama siput dan petani penggunanya pun tidak perlu mencari obat kimia dengan harga yang mahal untuk mengatasi hama siput yang menyerang tanaman cabe dan tembakau yang mereka budidayakan.

Semakin hari, Serbuk Anti Siput temuan Badri semakin banyak digunakan oleh petani sekitar bahkan petani dari luar Kecamatan Pringgabaya-pun banyak yang mencobanya.Mereka mengetahui produk tersebut dari cerita para petani tembakau dan cabai yang ada di Desa Pohgading Timur.dari mulut ke mulut, ahirnya Serbuk Anti Siput dikenal dan digunakan oleh banyak petani.

 

Baca Juga :


Setelah banyak digunakan oleh petani sekitar, Badri dan pemuda ASA Community mengemas Serbuk Angti Siput yang mereka buat dengan menggunakan bungkus plastik ukuran 200 gr yang dijual dengan harga Rp. 10.000,- untuk petani yang berasal dari luar Dusun Sukamulia Desa pohgading Timur dan diberikan geratis kepada petani yang berasal dari Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur. Serbuk Anti Siput ini kemudian mereka namakan Serbuk Anti Suput ASA (SASA).

Sampai saat ini masyarakat setempat(Dusun Sukamulia) yang menginginkan untuk menggunakan Serbuk Anti Siput ASA (SASA)diberikan secara cuma-cuma. Semua ini ia lakukan hanyalah untuk mengubah kebiasaan masyarakat khususnya para petani untuk kembali menggunakan bahan alami dalam merawat tanamanya karena penggunaan pupuk, inseksida, pestisida dan herbisida kimia sanagat berpengaruh terhadap kesuburan tanah sehingga tanah tidak bisa produktif lagi inilah yang mengakibatkan banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh para petani yang tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.

Penggunaan Serbuk Anti Siput ASA (SASA) diharapkan dapat merubah pola piker petani supaya tidak terlalu bergantung pada insketisida dan pestisida dalam pengolahan tanag pertaanian mereka agar petani dan siapa saja yang mengonsumsi hasil pertanian mereka terbebas dari racun yang terkandung pada tanaman akibat penggunaan insektisida dan pestisidi kimia.Selain itu, diproduksinya Serbuk Anti Siput ASA (SASA) secara tidak langsung dapat membantu masyarakat sekitar dalam mengatasi masalah lingkungan, yakni limbah/sampah sisa pengloahan daun tembakau yang kerap menyebabkan penyakit bagi warga sekitarnya.

Rendahnya produksi tani dan mahalnya harga insektisida dan pestisida kimia serta obat-obatan pertanin lainnya menyebabkan masyarakat petani disekitar lingkungan Badri mengeluhkan profesi mereka sebagai petani. Pada sekitaran tahun 2007 hingga pertengahan tahun 2010, petani sekitar Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya terus-terusan mengalami gagal panen akibat serangan hama dan insektisida. Namun demikian, petani sekitar tidak pernah berhenti untuk mengolah tanah pertaniannya yang meskipun pada ahirnya mereka selalu mendapatkan hasil panen yang sangat rendah dan jika dihitung-hitung antara biaya dan hasil maka mereka selalu mengalami kerugian.

Berangkat dari rasa keperihatinan dan didasari oleh keinginan membangun ekonomi masyarakat khususnya para petanidan mengatasi masalah lingkungan yang ada di sekitar wilayah Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgabaya, maka Badri mencoba untuk menjadi inisiator dalam melakukan langkah yang kreatif dan inovatif dengan perbuatan nyata guna melakukan terobosan-terobosan sebagai salah satu sumbangsih dalam usaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapi para petani dimaksud.

Untuk merealisasikan inisiatif (rencana) itu, Badri mencoba menggunakanbahan organik dan mengolahnya secara alami.Bahan organik yang digunakan dan diolah oleh Badri dan ASA Community itu adalah pelepah daun tembakau yang merupakan limbah pengolahan daun tembakau di sekitaran kampung halamannya dan itu dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan Serbuk Anti Siput yang kemudian dinamakan Serbuk Anti Siput ASA (SASA).

Pada awal kegiatan yang dilakukan ini, tampak masyarakat kurang yakin dengan kegiatan yang saya lakukan. Bahkan, kegiatan ini sering kali dipandang sebagai usaha yang sia-sia dan sepele, bahkan ada beberapa orang warga yang mencemooh usaha kreatif Badri tersebut. Mengubah pola pikir para petani untuk meyakini hasil inovasi yang berupa Serbuk Anti Siput ASA ini merupakan permasalahan awal yang berat yang dihadapi oleh Badri. Disamping itu, rasa pesimis dan tidak yakin masyarakat terhadap ajakan Badrimenggunakan Serbuk Anti Siput ASA merupakan kendala awal dalam mengembangan kegiatan tersebut.

Sehingga, langkah yang Badri lakukan untuk dapat meyakinkan masyarakat petani di desanya adalah dengan cara : Melakukan percobaan pada lahannya pertanian milik keluarganya dengan kemungkinan gagal. Percobaan ini dilakukakan beberapa kali dengan biaya sendiri hingga menghasilkan produk Serbuk Anti Siput yang baik. Hasil pembuatan Serbuk Anti Siput ia gunakan sendiri pada tanamannya dan tanaman warga comunitasnya (ASA Community) sehingga hasil tanaman dapat dilihat oleh para petani. Mengajak kawan-kawan yang tergabung dalam ASA Community untuk membuat Serbuk Anti Siput dan meyakinkan masyarakat petani sekitar akan hasil yang didapatkan dengan penggunaan Serbuk Anti Siput yang ia buat. Mengajarkan cara pembuatan Serbuk Anti Siput yang ia buat kepada siswa-siswi Program Studi Agrobisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura SMK NW Kokok Putik dan mengajak mereka untuk mengaplikasikannya pada tanaman yang di budidayakan di lahan peraktik sekolah. Membuat produk Serbuk Anti Siput dalam jumlah yang banyak pada awal musim tanam padi yang kemudian saya bagikan secara cuma-cuma kepada para petani untuk digunakan.

Dampak dari kegiatan yang dilakukan ini mulai dari awal hingga saat ini adalah: Teratasinya masalah yang dihadapi petani pemakai Serbuk Anti Siput ASA (SASA), terutama masalah hama siput; Meningkatnya produksi tanaman budidaya masyarakat petani penggun Serbuk Anti Siput ASA (SASA); Masyarakat petani pengguna Serbuk Anti Siput ASA (SASA) banyak mendapatkan pengetahuan mengenai cara herbal menangani berbagai jenis penyakit tanaman; Pendapatan petani pengguna Serbuk Anti Siput ASA (SASA) semakin meningkat sehingga taraf ekonomi mereka juga mengalami peningkatan; Pemuda ASA Community memiliki kratifitas dalam membuat Serbuk Anti Siput sebab mereka dilibatkan dalam proses pembuatan Serbuk Anti Siput ASA (SASA).

Pada musim tanam tembakau dan cabai tahun 2017 pengguna Serbuk Anti Siput ASA (SASA) sebanyak 12 orang yang berasal dari keluarga Badri sendiri. Dari 12 orang pengguna berkembang menjadi satu kampung pada dari satu kampung mulai menyebar kedesa-desa yang ada di kecamatan Pringgabay Kabupaten Lombok Timur.Patra pengguna Serbuk Anti Siput ASA (SASA) dari Kecamatan Pringgabayapara petani bercerita dari mulut kemulut dan sampai akhirnya pada musim tanam tembakau dan cabai tahun 2018 ini (Februari-April) pengguna Serbuk Anti Siput ASA (SASA) semakin bertambah dan banyak yang berasal dari lura Kecamatan Pringgabaya.

Setelah melihat keberhasilan para pengguna Serbuk Anti Siput ASA (SASA) yang dibuat oleh Badri maka para petani yang di kampung halamannya banyak menggunakan pupuk organik tersebut. Seiring berjalannya waktu dari tahun ketahun para pengguna semakin meningkat dan Badri beserta ASA Community semakin giat membuat Serbuk Anti Siput ASA (SASA) dan saat ini Serbuk Anti Siput ASA (SASA) tetap diproduksi di markas ASA Community (Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecmamatan Pringggabaya) dan di tempat kerjanya di SMK NW KOKOK PUTIK Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun.

Awalnya, Badri hanya membuat 500 gr Serbuk Anti Siput yang kemudian digunakan pada lahan percobaannya. Pada musim tanam tembakau dan cabe tahun 2017, Badri membuat Serbuk Anti Siput sebanyak 50 kg dan pada musim tanam tahun 2018 ini Badri membuat Serbuk Anti Siput ASA (SASA)sebanyak 210 kg yang digunakan oleh petani dari wilayah Kecamatan Pringgabaya, Kecamatan Sembalun dan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara.

Harapan kedepan dari Badri yang membuat Serbuk Anti Siput ASA (SASA) adalah: Pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap kegiatan kratif yang dilaksanakan putra daerah; Memberikan kemudahan dalam pengurusan izin usaha, izin penjualan dan legalitas berupa hak paten; Adanya dukungan moril dan materil dari pihak pemerintah dan ataupun pihak swasta untuk membantu kami mengembangkan usaha kreatif pembuatan Serbuk Anti Siput ASA (SASA), terutama dalam pengadaan alat dan mesin produksi sehingga kami bias membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.

By: Badri_asa

 



 

Artikel Terkait

2 KOMENTAR

  1. KM. Sukamulia

    KM. Sukamulia

    24 September, 2018

    Terus berjuang. Terus Berinovasi demi pengabdian kepada bangsa dan negara. Semoga Serbuk Anti SIpur ASA segera meramaikan kios-kios dan toko yang menjual Saprodi Tani. Semoga pula SAS ASA menjadi juara SIA 2018. Jangan bosan menyampaikan informasi bermanfaat dan Salam dari Kampung.


    1. KM Pohgading Timur

      KM Pohgading Timur

      12 Oktober, 2018

      siap kanda, terimaksih atas motivasi dan dukunganya kanda sehingga adk bisa melakukan ini semua.


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan