logoblog

Cari

Ada Rezeki di Sepatu Pegawai

Ada Rezeki di Sepatu Pegawai

Di tengah hingar bingar aktivitas pegawai dengan seragam yang menyilaukan mata. Sepatu pantofel menjadi icon menarik, menemani langkah Aparatur Sipil Negara

Sosok Inspiratif

Suparman
Oleh Suparman
16 Juli, 2018 15:26:16
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 7038 Kali

Di tengah hingar bingar aktivitas pegawai dengan seragam yang menyilaukan mata. Sepatu pantofel menjadi icon menarik, menemani langkah Aparatur Sipil Negara dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab bangsa ini. Atribut maupun logo menyatu dalam balutan jahit, menambah kelengkapan identitas pemakai seragam keki berwarna coklat.

Sepatu pantofel mempunyai model yang bersifat formal. Artinya bahwa model dari sepatu tersebut sangat cocok dan pas untuk digunakan sebagai pelengkap sebuah penampilan dari busana formal, seperti misalnya busana untuk ke kantor.

Namun, ada yang selalu ditunggu-tunggu oleh tukang Semir sepatu, mereka selalu mengharapkan debu-debu yang berterbangan menyelimuti sepatu kantoran tersebut. Debu dapat memberikan harapan bagi profesi mereka.

Adalah Muhammad Azis asal Lombok Tengah, selama dua tahun ia melakoni profesi ini. Melayani dengan sepenuh hati kepada pegawai yang menginginkan tenaganya. Upah yang didapat hanya lima ribu rupiah untuk sepasang sepatu berwarna hitam itu.

"Kadang-kadang dikasih lima ribu rupiah, ada juga yg kasih lebih dari itu, saya tidak pernah nentuin upahnya,"ungkap pria berjenggot itu, di halaman kantor Diskominfotik NTB, Senin (16/07)

Dengan bermodalkan kotak papan persegi, sekaligus menjadi kursi baginya, dengan tampilan yang tak tersentuh oleh arsitektur. Ia terus berusaha membuat  kilatan sepatu yang menyilaukan mata pemiliknya. Agar hasil kerjanya dapat dipercaya oleh langganannya.

Di tengah keramaian jalan yang dilintasi oleh mobil dan kendaraan mewah. Dengan entengnya, ia naik turun melewati trotoar dengan berjalan kaki "saya tidak memiliki motor, setiap hari saya hanya jalan kaki, dan sudah terbiasa bagi saya,"keluhnya sembari menggosok sepatu langgananya.

 

Baca Juga :


Pria beralamatkan Marong Kota Mataram tersebut, hanya mendapatkan tiga puluh ribu per-hari, dan itu hanya sekedar biaya makan sehari-hari. Kalaupun ada yang lebih, ia gunakan untuk membeli perlengkapan alatnya seperti, semir, sikat dan lain-lain.

Bukan hanya itu, diumurnya yang semakin tua, ia belum memiliki sang pujaan hati sebagai tempat pelepas lelah dan rindu. 

Disaat hari libur mulai tiba, bukan menjadi alasan baginya untuk tidak mencari rezeki yang Tuhan titipkan pada alam ini. Ia beralih profesi sebagai pemulung sampah, mengumpulkan botol-botol bekas untuk menambah penghasilannya. Sepertinya ia tidak pernah mengenal hari libur.

"Dari pada saya nganggur, lebih baik saya kumpulin botol-botol bekas, bagi saya yang penting halal,"tuturnya.



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah. No HP 085337689025

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan