logoblog

Cari

Akhi Dirman: Anak Kampung Yang Menasional Dengan Sastra

Akhi Dirman: Anak Kampung Yang Menasional Dengan Sastra

Terlahir dari keluarga serba kekurangan, tak membuat mental Akhi Dirman kecil melempeng. Penulis 50-an buku solo dan antologi yang telah

Sosok Inspiratif

KM. Abiantubuh
Oleh KM. Abiantubuh
24 April, 2018 18:31:41
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 12155 Kali

Terlahir dari keluarga serba kekurangan, tak membuat mental Akhi Dirman kecil melempeng. Penulis yang sudah menerbitkan lebih kurang 50-an buku solo dan antologi dengan penerbit ternama seperti Gramedia Pustaka Utama, Mizan, Pro-U Media, Asma Nadia Publishing, dan beberapa penerbit lainnya ini merupakan anak yang lahir dari kampung, yakni di desa Rato kecamatan Bolo kabupaten Bima. Ia terus mencetak namanya di percaturan kepenulisan nasional, dan belakangan ini merambat dunia sinematografi.

Kecintaannya pada membaca dan menulis dimulai sejak Akhi Dirman kanak-kanan. Setiap malam, sebelum tidur, kakak keduanya yang dipanggilnya Dae Nau, selalu menceritakan dongeng Bima ataupun Nusantara ke Akhi Dirman dan saudara-saudaranya. Besoknya, di sekolah, akan ada banyak teman sekelas, maupun kakak kelas dan adik kelasnya yang ‘menagih’ untuk diceritakan ulang olehnya tentang dongeng- dongeng itu. Ya, sejak kecil, penulis yang sudah mulai menulis puisi di Bobo sejak SD ini, selalu dipanggil ‘juru dongeng’ oleh teman-temannya. Kadang, karena ketiduran, cerita dari Dae Nau tidak didengarkan sampai selesai. Dan ending-nya biasanya dia karang-karang sendiri.

Pada saat remaja dan menduduki bangku SMA, Akhi Dirman mulai menemukan passion-nya dalam dunia tulis menulis. Mulai dari mendirikan majalah dinding di sekolahnya, SMAN 1 Bolo. Beberapa tulisannya dipampangnya di majalah dinding itu, tapi dengan nama samaran. Itu dilakukannya untuk mengetahui komentar jujur orang lain tentang karyanya.

 

Baca Juga :


Sejak SMA itu pula, Akhi Dirman mulai menulis puisi di beberapa koran local, di antaranya Lombok Post, Kilas, Bima Ekspress, dan juga Suara Mandiri. Bahkan buku pertamanya, “Negeri Air Mata,” yang berupa kumpulan cerpen (diterbitkan oleh Mahani Persada, tahun 2005) merupakan sebuah buku fiksi yang ditulisnya pada saat SMA. Namun, jangan disangka, perjuangannya untuk mewujudkan mimpinya semulus jalan tol. Ada banyak tantangan yang dihadapinya, tapi justru hambatan-hambatan itulah yang membuat daya juangnya semakin berkobar.
Pada awal meniatkan menulis waktu kelas III SMA, puisinya, dimuat di sebuah koran lokal, tapi no name. Akhirnya

Akhi Dirman mencoba menghubungi redakturnya (interlokal), namun...
“Kamu masih SMA?!” tanya Redaktur-nya seperti Jaka Sembung bawa golok (Nggak nyambung, bo!).
“Dek, kamu seharusnya bersyukur, karena puisi kamu kami muat, jadi tak usah mengharap lebih. Daripada kami buang ke tong sampah?!”
Justru, hal-hal semacam ini dianggapnya sebagai tantangan untuk bisa menunjukkan diri. Sejak itu, dengan susah payah, meminjam mesin ketik tua milik pamannya, Akhi Dirman remaja mulai memberanikan diri untuk mengirim tulisan ke media-media nasional. Dia mulai jatuh cinta pada Majalah Annida yang digawangi Helvy Tiana Rosa dan juga Majalah Sastra Horison.
Sejak mengenal majalah remaja Muslim “Annida” itu pulalah, arah kepenulisannya berubah. Jika sebelumnya dia mengoleksi puisi cinta picisan, membaca buku itu membuatnya ingin menulis hal-hal yang lebih berguna. Maka dia pun menulis. Terus menulis tanpa kenal lelah meski jari-jari sampai kebal karena seringnya ‘bertarung’ dengan tuts mesin tua itu untuk menghasilkan karya.
Saat itu, tahun 2000, dia telah aktif di Remaja Masjid Al-Amin dan memelopori berdirinya Theater Al-Amin. Naskah teater pertamanya, Aceh Itu, Sunyi Itu, Luka itu, tentang kondisi Aceh yang terpuruk dipentaskan dan ternyata mendapat respons yang cukup bagus dan mendapat banyak support yang positif. Dia pun semakin produktif menulis naskah untuk pementasan- pementasan berikutnya dan semuanya mendapat respons positif.
Sampai akhirnya, di tahun yang sama, beberapa cerpennya dimuat di Majalah Annida, puisi-puisinya juga dimuat di majalah sastra bergengsi, Horison. Hal itu adalah pacuan semangat dan loncatan yang cukup besar baginya, membuat semangat menulisnya semakin terpacu dan berkobar. Selanjutnya, beberapa media nasional: Annida, Sabilli, Deep Smile File, dan Al-Izzah, beberapa kali memuat tulisan-tulisannya.
Mastera, Marewo, Helvy, dan Sebuah Mimpi
Pertemuannya dengan N. Marewo, sastrawan senior Bima, yang saat itu baru saja mengikuti perhelatan Soult East Asia Literary Council, Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) Angkatan 1, di sebuah acara sastra, merupakan sebuah motivasi yang membuat semangat berkaryanya bangkit berkali-kali lipat.
“Kamu harus membuat buku. Saya pikir karyanya harus dibaca lebih banyak orang. Yang penting kamu konsisten dan tetap rendah hati,” Ujar N. Marewo kala itu.
Maka, Akhi Dirman mengumpulkan cerpen-cerpennya yang tersebar di media massa. Mengumpulkannya dalam sebuah kumpulan cerita dengan satu tema. Dan karena kebetulan, lebih banyak cerita tentang konflik Nusantara, mulai dari pembakaran kantor desa di Bima, Tragedi 98, hingga DOM Aceh, maka saat itu, penyusunan buku “Negeri Air Mata” rampung.
Namun, lagi-lagi, tak ada yang semulus jalan tol. Buku “Negeri Air Mata” berkali-kali mendapat penolakan dari penerbit nasional. Ada yang sudah deal, tapi selalu saja ada kendala. Hampir 10 penerbit yang menolak buku itu, hingga akhirnya buku itu berjodoh dengan sebuah penerbit kecil di Mataram. Buku itu dicetak berkali-kali, bahkan dijadikan buku sastra bacaan wajib di beberapa sekolah di NTB. Meskipun secara financial royalty yang diterimanya bahkan lebih kecil dari honor puisinya yang dimuat di Horison, tapi hal itu dianggapnya sebagai batu loncatan untuk meraih kesuksesan yang lebih besar.
Tahun 2006, Akhi Dirman bersama beberapa aktifis literasi di Bima mulai merasa perlu untuk membuat komunitas kepenulisan. Untuk saling men-support dan berbagi. Saat itu, dia telah aktif di sebuah organisasi kepenulisan nasional yang saat itu lagi bergeliat, Forum Lingkar Pena. Maka, satu-satunya cara agar FLP bias mempunyai cabang di NTB pada saat itu adalah dengan mengikuti Musyawarah Nasional (MUNAS I) yang diadakan di Yogya. Berbekal uang gajinya sebagai guru honorer di sebuah SMA, niat itupun dilakukannya.
Di Munas FLP itulah, Akhi Dirman bertemu dengan orang-orang hebat yang selama ini hanya dibaca karyanya. Orang-orang yang sudah dikenal luas karyanya, namun tetap rendah hati. Ada kakak beradik Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, Pipiet Senja, Habiburrahman El Shirazy, Afifah Afra, Intan Savitri, M. Irfan Hidayatullah, Ganjar Widhiyoga, dan aktifis FLP Nusantara serta luar negeri lainnya. Namun sesungguhnya, hal paling besar yang didapatkan di acara itu adalah, diresmikannya FLP NTB!

Sepulang dari Yogya, bersama sahabat-sahabat dekatnya: Fitri Aa, Ihsan, Guntur, Nazer dan Dudi, mereka aktif mengkampanyekan membaca dan menulis lewat kegiatan FLP masuk sekolah dan kampus. Berbondong-bondong, anak-anak SMA mengikuti kegiatan mereka yang diadakan di pendopo Al-Amin, Rato Sila. Meski nyaris tanpa sokongan dana, mereka terus berjalan dengan uang hasil patungan anggota. Beberapa sastrawan seperti N. Marewo dan Pipiet Senja, yang diundang langsung dari Jakarta, mengisi kajian sastra yang mereka adakan.
Hingga akhirnya, dengan dana swadaya, mereka menerbitkan buku kumpulan puisi bersama, “Bima, Cinta Ini Untukmu”, dan Kumpulan cerpen bersama, “Kisah Laut, Jibril dan Presiden”, yang diluncurkan secara sederhana. Mengundang beberapa komunitas kepenulisan dan juga pelajar. Dan acara itu berjalan sukses serta di-publish oleh beberapa surat kabar lokal.
Pada saat yang sama, untuk melatih nafas panjang kepenulisannya, Akhi Dirman mulai menulis novel. Novel pertama yang ditulisnya diberi judul, “Sebab Cinta Tak harus Berkata”. Cerita tentang duka lara perempuan Bima yang menunggu buah hatinya kembali dari tanah Goa. Namun, kapal yang ditumpangi anaknya itu sebenarnya telah tenggelam di laut yang sunyi. Tapi karena cintanya, perempuan itu terus menunggu.
Di dalam novel itu, dia menyisipkan beberapa informasi tentang kebudayaan Bima. Novel itu sebetulnya diinspirasi dari kisah nyata. Ketika Akhi Dirman bertemu dengan seorang perempuan gila di pantai.

Ocehan-ocehan perempuan itulah yang dijadikannya bahan novelnya. “Bima adalah hal yang paling dekat dengan saya, dan itulah yang saya tulis. Sebagai wujud cinta saya pada tanah yang mengasuh saya dari kecil,” ujarnya.
Siapa sangka, Novel yang ditulisnya dari kisah nyata itu, berhasil membawanya untuk mengikuti jejak N. Marewo. Mewakili Indonesia di Angkatan Kedua kelas novel se Asia Tenggara, South East Asia Literary Council, Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA). Itu adalah sebuah loncatan besar dalam karier kepenulisannya, bahkan ketika Pusat Bahasa Republik Indonesia (Sekarang berganti nama menjadi Badan Bahasa) menelponnya, rasanya seperti mimpi, tapi ini nyata!
Saat itulah sejarah baru dicatatnya. Menjadi bagian dari 15 novelis muda Asia Tenggara. Dibimbing langsung oleh Ahmad Tohari, Budi Dharma, Putu Wijaya, Puan Siti Aisyah Murad (Penulis Malaysia). Lelaki dari desa yang bahkan pernah menjadi pedagang asongan untuk menyambung hidup itu, tentu memanfaatkan momen itu dengan baik. Rasa percaya dirinya pun tumbuh. Meski selalu diingatnya nasehat N. Marewo, abang seniornya, tentang rendah hati.
Sepulang dari acara MASTERA, novelnya “Sebab Cinta Tak Harus Berkata” (SCTHB) dipinang oleh Genta Press dan akhirnya terbit. SCTHB dalam beberapa waktu menempati rak buku best seller di Gramedia. Bahkan ada begitu banyak mahasiswa dalam dan luar negeri yang menjadikannya sebagai bahan skripsi dan tesis. Beberapa perpustakaan kampus di luar negeri pun mengoleksinya di perpustakaan mereka.
Warna lokal yang kental dalam novel ini sepertinya menarik minat banyak orang untuk membaca dan mengapresiasinya. Bahkan Universitas Michigan USA, mem-publish novel ini dalam bentuk googlebooks yang bisa diakses secara luas di internet.
Setelah itu, beberapa buku dan novel Akhi Dirman beredar luas di Gramedia dan toko-toko buku lainnya. Beberapa di antaranya mencetak rekor best sellers nasional. Pro-U Media, Mizan, Gramedia, Qibla Press, AsmaNadia Publishing, Pipiet Senja Publishing menjadi partner untuk mem-publish karya- karya itu.
Tahun 2015, buku yang ditulisnya bersama Asma Nadia dkk., serial Catatan Hati Seorang Istri, “Jangan Bercerai Bunda” disinetronkan di RCTI dan diperankan oleh Dewi Sandra.
Film dan Mimpi-mimpi
Sejak tahun 2007, pada dasarnya Akhi Dirman juga membangun komunitas film yang diberi nama “Umahaju Production”. Novelnya “Sebab Cinta Tak Harus Berkata” menjadi debut awalnya dalam dunia film indie. Tak disangka, film itu mendapat penghargaan dari Biro Perencanaan Kerja sama Luar Negeri Depdiknas Pusat. Untuk itu, Akhi Dirman diganjar penghargaan film oleh Depdiknas Pusat.
Namun, keterbatasan alat menjadi kendala yang sangat berat. Sehingga Umahaju Production tak selalu bisa memproduksi film. Tahun 2015, komunitas kecil itu mulai mencoba berkompetisi di festival film nasional. Tak disangka, di Festival Film Bandung, film pendek yang diangkat dari novel Pipiet Senja yang diberi judul “Mimpi-Mimpi Garsini” berhasil menjadi juara umum. Selanjutnya, film-film yang disutradarai Akhi Dirman banyak yang mampu ‘berbicara di even nasional, di antaranya menjadi juara di lomba film pendek Bank Indonesia, BKKBN, FLP Movie Award, Short Film SCTV, bahkan iklan yang diproduksinya ditayangkan di Antv.
Selain itu, filmnya “La Ni Ringu” (Gadis Gila Bernama Ni) diputar di Bima TV dan sudah ditonton ribuan orang di youtube. Dan tahun 2016, ia diundang sebagai salah satu pelaku film indie terbaik yang diseleksi Pusbag Film Depdiknas Pusat dalam workshop film nasional.
Begitulah.... Anak desa yang berani bermimpi itu menjalani aktifitas-aktifitasnya. Kini, dia mengoleksi 26 penghargaan nasional dan internasional di bidang sastra dan film indie. Bahkan ia pernah mendapatkan Penghargaan Aku Bisa Award sebagai “The Most Inspirational Public Figure”, Penulis Terbaik dua tahun berturut-turut oleh UNSA Award dan tahun 2016 dinobatkan sebagai Tokoh Sastra NTB.
Mimpi-mimpi itu digenggamnya dengan erat, dan ditebarkannya untuk memberikan inspirasi pada orang lain. (fendy)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan