logoblog

Cari

Tutup Iklan

Dedikasi TGH. Lukman

Dedikasi TGH. Lukman

Majelis Taklim HIDAYATUDDARAIN, Gerung, Lombok Barat mengadakan pengajian umum setiap Minggu pagi. Pengajian ini diikuti oleh puluhan orang jamaah yang berasal

Sosok Inspiratif

KM HIDAYATUDDARAIN
Oleh KM HIDAYATUDDARAIN
03 April, 2018 17:21:50
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 6834 Kali

Majelis Taklim HIDAYATUDDARAIN, Gerung, Lombok Barat mengadakan pengajian umum setiap Minggu pagi. Pengajian ini diikuti oleh puluhan orang jamaah yang berasal dari sekitaran Gerung. Minggu (1/4) yang lalu diisi oleh TGH. Lukmanul Hakim, SH dari Pringgasela, Lombok Timur. Ia menempuh perjalanan selama satu jam lebih dari Lombok Timur ke Lombok Barat bila diundang mengisi pengajian.  

Beliau salah seorang putra dari almarhum TGH.Jamiluddin, salah seorang tuan guru berpengaruh di Lombok Timur. Beliau salah seorang murid dari TGH.Shaleh Hambali atau Tuan Guru Bengkel. Pada masa hidupnya TGH. Jamiluddin tidak mewariskan ponpes atau madrasah. Meski dia rutin mengisi pengajian dari kampong-kekampung di Lombok Timur. Termasuk dengan membuka pengajian khusus dirumah di Pringgasela.

“Bapak tidak mau nanti harta keluarga bercampur dengan harta madrasah atau pondok” kata TGH.Lukman mengungkapkan alasan almarhum bapaknya mengapa tidak membangun pondok pesantren pada masa hidupnya. Apa lagi selama ini biaya pembangunan pondok pesantren dan madrasah sering kali berasal dari sumbangan ummat atau bantuan dari pemerintah.

Pada hal secara kapasitas, keilmuan dan dedikasinya kepada ummat tidak perlu ditanyakan lagi. Beliau pada masa mudanya termasuk aktivis NU yang mempunyai pertemanan dan jaringan yang luas. Kalau hanya mengumpulkan dana untuk mendirikan pondok pesantren tidak akan terlalu sulit baginya. Namun itulah sikap dan prinsip yang ia pegang.  

Itu lah bentuk sikap dan pandangan orang selalu berhati-hati menjaga diri dan keluarganya. Dalam ilmu tasawuf, orang seperti itu disebut pribadi wara'. Pribadi yang sangat teliti, hati-hati dan waspada terhadap sumber makanan, pakain dan harta bendanya. Ia tidak ingin itu akan membawa pada perbuatan haram, subhat bahkan makruh. Ini juga menjawab pertanyaan, kenapa banyak tuan guru di Lombok yang tidak membangun atau mewariskan lembaga pendidikan formal.

Wajar setelah meninggal pun makamnya kerap dikunjungi oleh jamaahnya. Para ziarah akan ramai pada hari raya Iedul Fitri dan Iedul Adha. Ini menunjukkan ummat masih mengingat jasa dan perjuangan beliau. Termasuk peran beliau dalam menghalau dan melawan gerakan partai komunis di Lombok.

 

Baca Juga :


Kini TGH.Lukman menjadi salah seorang penerus dakwah ayahanda. Selain sering diminta mengisi pengajian diberbagai desa. Ia juga memimpin Majelis Taklim Haqqul Yaqien, Pringgasela yang ditinggalkan orang tuanya. TGH.Lukman juga cukup konsen membantu dan membina berbagai madrasah di Lombok Timur yang pengelolanya diberikan kepada orang lain.

Ia juga beberapa kali membimbing orang non muslim untuk membaca kalimah syahadat. Baru-baru ini ia misalnya membimbing seorang perempuan bule dari Inggris dan seorang pria dari Jepang masuk Islam. Selain itu ia juga kerap diminta nasehat dan mengobati jamaah yang tidak bisa sembuh setelah diobati secara medis.    

TGH.Lukman salah seorang tuan guru yang giat mengajak masyarakat rutin membaca Ratibul Hadad. Ia pun membentuk dan membina banyak kelompok pembaca Ratibul Hadad. “Pembacaan Ratibul Hadad tidak boleh berhenti. Itu warisan dan tradisi guru-guru dan orang tua kita yang alim” katanya dalam beberapa kali pertemuan. Ia pun tak lupa menghimpun dan mengajak jamaah membentuk itu di Lombok Barat. []

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan