logoblog

Cari

Tutup Iklan

Perintis Yang Gigih

Perintis Yang Gigih

KM. Sukamulia - Hamdan adalah seorang sosok yang ulet dan pekerja keras. Sosok yang satu ini telah merintis karirnya sebagai perintis

Sosok Inspiratif

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
08 Januari, 2018 23:12:29
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 1502 Kali

KM. Sukamulia - Hamdan adalah seorang sosok yang ulet dan pekerja keras. Sosok yang satu ini telah merintis karirnya sebagai perintis sejak ia masih muda. Laki-laki yang dilahirkan di Mamben pada tanggal 31 Desember 1955 ini memang dikenal sebagai seorang perintis yang gigih dan ulet. Hamdan mulai ikut sebagai perintis di Yayasan Maraqitta’limat Mamben sejak tahun 1978.

1. Kiprah dalam Dunia Pendidikan

Hamdan menamatkan Pendidikan Dasarnya di MI Maraqitta’limat Mamben pada tahun 1970. Ia melanjutkan pendidikan menengah pertamanya di MTs Maraqitta’limat Mamben dan tamat pada tahun 1973. Setelah tamat tsanawiyah, Hamdan melanjutkan pendidikannya di Madrasah Aliyah Maraqitta’limat Mamben dan ia tamat pada tahun 1977.

Jiwa merintisnya mulai tumbuh sejak ia selesai Tsanawiyah, dimana sejak kelas I Madrasah Aliyah, ia mulai mengajar di MI Maraqitta’limat Mamben. Pagi hari digunakan untuk mengikuti pendidikan (bersekolah) di Aliyah Maraqitta’limat dan sore harinya ia gunakan untuk kegiatan mengajar di MTs Maraqitta’limat Mamben.

Setelah tamat Madrasah Aliyah, Ketua Yayasan Maraqitta’limat Mamben menugaskan Hamdan untuk merintis pendidikan di wilayah Kabupaten Lombok Barat (sekarang KLU). Tahun 1979, ia ditugaskan untuk membantu masyarakat Sidutan merintis pendirian MI Maraqitta’limat Sidutan Desa Sidutan Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Barat (sekarang KLU). Pada saat yang sama ia juga mengajar di SDN Sidutan. Empat tahun merintis di Sidutan, ia dipindah tugaskan oleh Yayasan ke MTs. Maraqitta’limat Mamben dan Aliyah Maraqitta’limat Mamben.

Setelah kembali ke Pusat Yayasan Maraqitta’limat, Hamdan aktif membantu pihak yayasan untuk melebarkan program sosoail yayasan.  Tahun 1987, Hamdan mulai merintis NJO (sebuah Yayasan Sosial yang didanai oleh bangsa Belanda, Swis, Kuait dan Amerika dan 6 negara lainnya). Di Lembaga NJO itu Hamdan bertugas sebagai manager pengelola NJO di Ponpes Maraqitta’limat Mamben. Lewat lembaga itu, ia menjalin kerjasama dengan Yayasan Swadaya Membangun (YSM) Mataram yang dipinpin oleh Ali Bin Dachlan (Bupati Lotim sekarang).

Lewat lembaga tersebut Hamdan membangun Yayasan Maraqitta’limat yang saat itu masih dalam proses rintisan. Kegigihannya dalam merintis ini tidak selesai sampai di sana. Hamdan dan kawan-kawannya terus berjuang membangun dan mengembangkan Yayasan Pendidikan Maraqitta’limat. Namun, pada tahun 1990 ia dicalonkan sebagai Kepala Desa Mamben Lauq sebab masyarakat melihat sosoknya yang sangat gigih dalam membangun desanya.

Pada dasarnya ia tidak pernah berkeinginan untuk menjadi Kepala Desa ataupun sejenisnya. Namun atas inisiatif masyarakat, ia-pun didaftarkan sebagai salah satu calon Kepala Desa Mamben Lauq tahun 1990 dan pada saat itu ia tidak bisa memenangkan kompetisi dalam ajang pemilihan Kepala Desa tersebut.

Satu bulan setelah pemilihan, Hamdan mingrasi ke Dusun Lenggorong Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Barat (sekarang KLU). Di tempat barunya ini, Hamdan merintis Dusun Lenggorong, termasuk dalam merintis pendirian Masjid Al-Ikhlas Dusun Lenggorong. Selama di Lenggorong, Hamdan merintis hidupnya dengan mengerjakan tanah garapan milik mertuanya. Selain itu, ia bekerja beternak kambing dan hasil ternak kambingnya itulah yang dijadikan modal untuk berjualan pakaian.

Sejak tahun 1995, Hamdan fokus berjualan pakaian. Setiap harinya, ia keliling menjual barang dagangannya dan hasil berjualannya itulah yang dijadikan modal untuk membeli tanah pekarangan dan ia pun menetap sebagai warga Lenggorong Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara hingga saat ini.

Selama tinggal di Lenggorong, Hamdan mengabdikan ilmu agama yang dimilikinya dengan mendrikan Diniah dan di Diniah itulah ia mengajar anak-anak setempat mengaji. Program diniahnya dijalnkan sejak tahun 2000 dan kegiatannya dilaksanakan setiap selesai shlat magrib hingga jam 09.00 malam. Pertengahan tahun 2004 beliau mengajak masyarakat Lenggorong untuk merintis Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dinamakan dengan PAUD Miftahul Qudsi Maraqitt’limat Lenggorong dan lembaga PADU itu masih aktif hingga saat ini.

Perjuangan Hamdan dalam merintis lembaga pendidikan tidak hanya sampai di sana. Pada tahun 2006, ia mengajak masyrakat Dusun Lenggorong untuk merintis pendirian Madrasah Tsanawiyah di Dusun Lenggorong. Setelah beberapa kali bermusyawarah, ahirnya rencana pembanguna madarsah itu terealisasi dan pada pertengahan tahun 2007 (Juni 2017), Hamdan dan masyarakat setempat beserta kawan-kawannya mulai merintis MTs Maraqitta’limat Lenggorong Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Sejak merintis MTs Maraqitta’limat Lenggorong, Hamdan berhenti berjualan keliling namun usahanya itu dilanjutkan oleh istrinya.

Sejak awal berdirinya madrasah tersebut, Hamdan mengemban tugas sebagai Kepala Madrasah dan tugas itu masih ia emban hingga saat ini (2017). Di madrasah itu, Hamdan menghabiskan waktunya untuk berjuang dalam dunia pendidikan. Keuletan dan kegigihannya dalam merintis dunia pendidikan terlihat dari kedisiplinan dan kegigihannya dalam mengelola madrasah.

Setiap paginya, ia datang ke madrsah rintisannya untuk memimpin rekan kerjanya bekerja membangun madrasah itu. Hamdan tidak bosan-bosan mengembangkan madrasah rintisannya, ia terus melayangkan proposal bantuan pembangunan supaya madrasah yang dirintisnya mendapatkan sumbangan dan bantuan dari pihak pemerintah.

Dua tahun setelah didirikan, madrasah yang dirintis oleh Hamdan dan kawan-kawannya itu mendapatkan bantuan pembangunan Ruang Kelas Baru dan ia terus mendapatkan kucuran bantuan dana dari pemerintah sehingga pada tahun 2017 ini madrasarah tersebut memiliki tiga lokal Ruang Belajar (Kelas), satu ruang kantor dan satu ruang jading.

Hamdan memang sosok yang ulet dan terampil dalam bidang pengelolaan madrasah dan bidang usaha tani. Keterampilannya itu ia realisasikan dengan menata halaman madrasah rintisannya dengan mengajak peserta didiknya bertanam di halaman madrasah. Kegigihannya dalam dunia pendidikan juga dibuktikan dengan melanjutkan pendidikannya hingga ia mencapai gelar sarja (S1).

Tahun 2013, Hamdan diwisuda di Universitas Sabili Bandung dengan menyandang gelar Sarjana Pendidikan Islam. Sejak menyandang gelar itu, Hamdan semakin percaya diri mengelola madrasah dan membantu madrasah-madrasah sekitarnya dalam mengelola lembaga pendidikan rintisan mereka.

2. Kiprah dalam Dunia Usaha Budidaya Buah Naga

Selain berkiprah dalam dunia pendidikan, nama Hamdan semakin melejit setelah ia merintis usaha Budidaya Naga di pekarangan rumah-nya. Budiddaya Buah Naga yang dilakukannya itu, menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitarnya untuk mengembangkan usaha budidaya Buah Naga di pekarangan dan tanah perkebunan mereka. sungguh, Hamdan adalah seorang inspirator dalam usaha Budidaya Buah Naga di sekitaran Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan.

Budidaya buah Naga memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan, hanya saja belum banyak petani di pulau Lombok yang mampu mengembangkan usaha tersebut. Hal ini disebabkan oleh persepsi negative masyarakat atas usaha budidaya buah Naga, dimana sebagian besar orang beranggapan bahwa usaha budidaya Naga itu membutuhkan modal yang sangat besar. Persepsi itulah yang kemudian menyebabkan sebagian besar orang malas dan enggan untuk membudidayakan buah Naga. Sangat berbeda dengan Hamdan yang memiliki persepsi bahwa budidaya buah Naga itu gampang dan tidak harus mengeluarkan modal besar. Hal itulah yang kemudian membuat Hamdan sukses melakukan budidaya buah Naga di pekarangan rumahnya.

Di sekitar pulau Lombok belum begitu banyak masyarakat yang menggeluti usaha budidaya buah Naga dan jikapun ada warga yang melakukan usaha tersebut, mereka membudidayakan buah Naga di tanah perkebunan yang mereka miliki. Misalnya saja, perkebunan buah Naga yang ada di sekitar wilayah Gili Lampu Kecamatan Sambelia Lotim, perkebunan buah Naga yang ada di sekitar wilayah Kecamatan Pujut Loteng dan beberapa perkebunan buah Naga yang ada di wilayah Lombok Barat dan Lombok Utara. Pengelola perkebunan dimaksud memang tergolong sukses dalam melakukan usaha budiaya buah Naga di perkebunan yang mereka kelola. Kesuksesan yang mereka peroleh itu disebabkan oleh kepemilikan biaya yang cukup, teknik budidaya yang mereka kembangkan juga secara teknis dan pengelola perkebunan Naga tersebut memiliki teknisi atau tim ahli.

 

Baca Juga :


Berbeda dengan Hamdan yang membudidayakan buah Naga di halaman/pekarangan rumahnya, beliau melakukan budidaya buah Naga tanpa bantuan teknisi/tim ahli dan biaya pengelolaan yang dikeluarkan juga tidak begitu besar, namun dengan kreatifitas dan keuletannya maka Hamdan mendapatkan penghasilan yang besar dari buah Naga yang beliau tanam di sekitar pekarangann rumah-nya.

Hamdan merupakan salah seorang warga Dusun Lenggorong Desa Sambik Elen Kecamatan Bayan Lombok Utara yang sehari-harinya bekerja sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah Maraqitta’limat Lenggorong yang beliau dirikan bersama masyarakat setempat pada tahun 2007. Selain sebagai kepala madrasah, Hamdan juga meluangkan waktunya untuk melakukan berbagai kegiatan lainnya. Hal itu-lah yang membuat rekan kerja dan orang-orang yang mengenal Hamdan terkagum-kagum terhadap-nya.

Laki-laki separuh baya ini memang dikagumi oleh masyarakat sekitarnya dan bahkan nama Hamdan yang juga sering disebut Hattarajasa Bayan sudah tidak asing lagi di telinga Kepala DIKPORA KLU, Kepala Kemenag KLU dan Provinsi NTB. Tidak hanya itu, Bupati Lombok Utara (Haji Najmul Akhyar) juga kagum terhadap kreatifitas Hamdan dan bahkan beliau pernah berkunjung ke pekarangan rumah Hamdan yang dipenuhi oleh Buah Naga.

Laki-laki berambut putih ini memang kreatif, selain dalam bidang pendidikan, Hamdan juga menjadi insfirasi  bidang sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Hal ini disebabkan oleh kepeduliannya terhadap sesama dan beliau juga memberikan contoh cara berusaha yang baik bagi masyarakat sekitarnya. Hamdan tidak segan-segan mengajarkan sistem ekonomi yang ia kembangkan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Nama Hamdan semakin dikenal oleh orang-orang papan atas KLU sebab kesuksesannya dalam melakukan budidaya buah Naga di pekarangan rumah-nya. Kepala Depag KLU dan jajaraannya kerap berkunjung ke rumah Hamdan guna meninjau kegiatan kreatif yang dilakukannya itu, demikian juga dengan kawan-kwan Hamdan yang berasal dari instansi lainnya. Tujuan mereka berkunjung ke rumah Hamdan adalah untuk memetik buah Naga dan menikmatinya di sana. Hal inilah yang menyebabkan Hamdan dikatakan sukses sebagai petani buah Naga, artinya kesusksesan Hamdan bukan hanya didapatkan dari sisi ekonomi saja, namun dari budidaya Naga yang beliau kelola, beliau juga sukses dalam bidang sosial dan pendidikan.

Kurang lengkap rasanya jika tulisan ini tidak memaparkan mengenai latar belakang dan danpak budidaya buah Naga yang dilakukan oleh Hamdan. Untuk itu penulis akan menceritakan mengenai hal tersebut supaya pembaca lebih mengenal Hamdan dan usahanya membudidayakan buah Naga di halaman rumah-nya.

Usaha budidaya buah Naga yang kembangkan oleh Hamdan berawal dari rasa penasara, laki-laki yang berciri hidup sederhana ini menceritakan kepada saya bahwa awalnya ia membaca buku yang berjudul Budidaya Buah Naga. Buku tersebut didapatkan dari program Bansos Yayasan Kesejahteraan Jakarta pada pertengahan tahun 2011. Sejak membaca buku itu, beliau sangat penasaran akan buah Naga dan atas rasa penasaran itu maka beliau mencari informasi tentang buah Naga dan ia mendapatkan 8 batang bibit buah Baga dari temannya yang berasal dari Lombok Tengah. Bibit itu kemudian ia tanam di polibek dan ditaruh sebagai hiasan di halaman rumahnya.

Bibit buah Naga yang saya tanam di polibek itu tidak pernah saya berikan perawatan secara teknis, saya hanya memberinya pupuk organik pada saat saya baru menanamnya dan ketika bibit itu berusia 6 bulan. Ternyata, pada bulan ketujuah (Januari 2012) buah Naga di polibek itu berbunga dan berbuah lebat, itulah yang kemudian membuat saya termotivasi untuk mencari bibit buah Naga dalam jumlah banyak dan dua bulan setelah itu saya dapat membeli bibit buah Naga dari seorang teman saya di Lombok Tengah dan itulah yang kemudian saya budidayakan di sekitar pekarangan saya sebagaimana kita lihat saat ini, papar laki-laki berambut putih itu.

Hamdan memenuhi pekarangan rumahnya yang berukuran 4 are dengan bibit naga yang ia beli dari Lombok Tengah itu. Menurut keterangan beliau, modal awal yang ia gunakan untuk budidaya buah Naga itu berjumlah Rp. 2.500.000. Modal sejumlah itu digunakan untuk membil bibit sebanyak Rp. 500.000 dan Rp. 2.000.000 digunakan sebagai biaya pembuatan tiang hingga pemasangannya. Setidaknya Hamdan memasang 160 tiang sebagai tempat menjalarnya pohon buah Naga yang ia budidayakan. Hal yang membuat warga sekita kagum terhadap Hamdan adalah keuletan dan ketekunannya dalam mengerjakan usaha budidaya buah Naga itu. Hampir semua pekerjaan dia kerjakan sendiri bersama kedua orang putranya (M. Hamdi dan Samsul Hidayat), mulai dari pembuatan tiang, penanaman, pembuatan pupuk, hingga panen.

Untuk proses pembuatan tiang hingga penanaman, Hamdan dan kedua orang puteranya menghabiskan waktu sekitar 2 minggu. Penanaman dilakukan pada bulan Maret 2012 dan atas keuletan serta ketekunannya maka pada ahir bulan Oktober 2012 buah Naga yang bididayakan oleh Hamdan mulai berbunga dan berbuah lebat, setiap tiang berbuah antara 6 hingga 10 butir dan pada ahir bulan November 2012, Hamdan sudah mulai memanen buah Naga-nya. Panen pertamanya ini sebagian besar beliau berikan kepada tetangga, kerabat dekat, dan rekan-rekan kerjanya. Hal ini beliau lakukan dengan tujuan peromosi, supaya warga atau teman-temannya yang lain ikut melakukan usaha budidaya Naga di halaman rumah atau di tanah-tanah perkebunan mereka. Niat Hamdan sungguhlah luar biasa, beliau memangg betul-betul berjiwa sosial, jika dilakukan perhitungan terhadap hasil yang didapatkan pada panen pertama maka paling tidak pada saat itu Hamdan akan mendapatkan hasil sejumlah 1.120-an butir buah Naga atau sekitar 373 kg sebab 3 butir buah Naga bisa menjadi 1 kg atau bahkan lebih. Harga buah Naga pada saat itu adalah Rp. 25.000/kg, dengan demikian maka paling tidak pada panen pertama, Hamdan seharusnya mendapatkan uang sejumlah 9.300.000-an. Namun perinsip sosial yang melekat pada jiwa Hamdan membuat beliau tidak terlalu memperhitungkan hasilnya panennya secara ekonomis namun beliau lebih mengutamakan nilai sosial.

Menurut keterangan dari Hanah (istri Hamdan), pada panen pertama buah Naga ini cukup lebat, buahnya juga cukup besar dan rasanya cukup manis. Jika dihitung-hitung maka pada saat itu kami akan mendapatkan hasil sekitar 9 juta, hanya saja hasil panen pertama itu sebagian besar kami amalkan kepada kerabat, tetangga dan teman-teman sauami saya, kemudian sebagian kecilnya kami jual dan waktu itu kami hanya dapat menjual sekitar 1,5 kwintal (150 kg) dengan harga 25 ribu/kg. Seingat saya, pada hasil panen pertama itu kami dapat mengumpulkan uang sejumlah Rp. 3.750.000.

Untuk meningkatkan hasil panennya maka Hamdan memberikan pupuk kandang/pupuk organik yang beliau racik sendiri dengan bantuan seorang temannya (Badri). Penggunaan pupuk organic itu ternyata dapat meningkatkan produktifitas buah Naga yang beliau budidayakan dan al-hasil pada musim panen berikutnya, produktifitas buah Naga pak Hamdan semakin meningkat dan cabang-cabangnya juga semakin lebat. Pada tahun 2013, Hamdan dapat mengumpulkan uang sekitar 12 juta dari hasil panen buah Naganya. Tahun berikutnya (2014), Hamdan dapat mengumpulkan uang sejumlah 14,5 juta dari hasil panen buah Naga yang beliau budidayakan di sekitar pekarangan rumah-nya. 

Selain budidaya buah Naga, Hamdan juga menanam cabe, tomat, terong dan sayur-sayur lainnya di sekitar pekarangan rumahnya. Hamdan betul-betul menerapkan sistim bertanam tumpang sari di pekarangan rumah-nya dan itu juga memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga beliau. Hasil budidaya buah Naga yang dilakukan-nya juga punya andil yang besar bagi keberlanjutan studi anak pertamanya. Sebagian biaya kuliah anak pertamanya (M. Hamdi) berasal dari hasil budidaya buah Naga yang beliau kelola dan Alhamdulillah pada ahir tahun 2014 lalu, anak pertama beliau dapat menamatkan study S1-nya di Universitas Mataram dengan gelar Sarjana Teknik Pertanian.

Luar biasa, ternyata Budidaya Buah Naga punya prospek ekonomi yang cukup besar. Lihat saja Hamdan, dengan modal awal sejumlah 2,5 juta, beliau menanam pohon buah naga pada 160 tiang dan setelah 8 bulan beliau bisa mendapatkan hasil dari usahanya itu. Setiap tahunnya pak Hamdan bisa mengumpulkan uang belasan juta dari budidaya buah Naga yang dilakukannya dan hasil tersebut digunakan untuk mencukupi biaya kuliah anak pertamanya. Luar biasa kan…!!!!!

Hamdan memang sosok yang luar biasa, di sela-sela waktunya mengurus madrasah, beliau menyempatkan diri untuk memanfaatkan pekarangan rumahnya sebagai tempat budidaya buah Naga. Kreatifitas, keuletan, serta ketekunan yang dimiliki oleh pak Hamdan kiranya dapat kita jadikan sebagai contoh bahwa jika kita ingin berbuat atu berusaha maka insyallah kita akan mendapatkan nikmat berupa hasil yang banyak. Hal yang membuat saya salut terhadap sosok laki-laki berambut putih ini adalah kesuksesan yang telah diperoleh dalam melakukan budidaya buah Naga di pekarangan rumahnya menyebabkan warga sekitar dan teman-teman Hamdan terinsfirasi untuk bertanam/budidaya buah Naga di halaman rumah ataupun di lahan-lahan perkebunan mereka. Kreatifitas Hamdan membudidayakan naga di pekarangan rumahnya dapat pula menjadi insfirasi bagi kita semua.

Demikianlah segelumit kisah mengenai kegigihan Hamdan dalam merintis di dunia pendidikan dan dunia usaha yang kemudian kegigihannya itu dijadikan sebagai inspirasi bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Saat ini, Hamdan masih aktif sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah Maraqitta’limat Dusun Lenggorong dan sebagai Ketua Forum Madrasah Maraqitta’limat Kecamatan Bayan. Kreatifitasnya dikembangkan di madrasah dengan melibatkan peserta didik dan rekan kerjanya dalam mengelola madrasah dan usaha Budidaya Buah Naga di sekitar pekarangan rumahnya.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua dan hal yang paling penting untuk kita petik dari kisah Hamdan ini adalah keuletan, ketekunan, serta jiwa sosial-nya yang cukup tinggi. Meskipun hingga saat ini beliau masih bersetatus guru honorer (Guru Tetap Yayasan) namun semangat juang beliau dalam bidang pendidikan tidak pernah surut.

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan