logoblog

Cari

Tutup Iklan

Menari Dengan Alam

Menari Dengan Alam

Menari Dengan Alam Waktu umurku 5 tahun, Ibu selalu mengajak kami untuk menari dengan Alam yang begitu indah, ditemani oleh nyanyian

Sosok Inspiratif

Suparman
Oleh Suparman
21 Desember, 2017 09:40:28
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 3375 Kali

Waktu umurku 5 tahun, Ibu selalu mengajak kami untuk menari dengan Alam yang begitu indah, ditemani oleh nyanyian burung yang merdu dan tumbuh-tumbuhan yang melambaikan tangannya dengan hembusan angin  yang menyabut pagi. Kami berjalan dengan semangat yang membara menyusuri jalan yang berliku-liku dan disambut oleh embun pagi yang bersahaja. Ibu tidak pernah lelah menghabiskan waktu dengan kami, hanya untuk sebuah harapan kepada tanaman padi yang kami titipkan pada Alam.

Kami berjalan menyusuri Alam, sebelum sinar mentari pagi menyinari celah-celah dedaunan pohon yang besar hanya untuk menyapa rerumputan yang terlelap dengan mimpi indah, di selimuti oleh embun pagi yang sunyi.

Orang Tua kami hanyalah seorang petani, yang selalu mengajarkan kepada kami tantang Alam, sejak kecil kami selalu diajarkan untuk kerja keras tanpa mengenal lelah. Mengelolah Alam dengan baik hanya untuk mendapatkan hasil yang baik pula.

Hamparan sawah dengan tanaman yang subur, yang selalu menyapa kami pada pagi hari dan membuat kami sangat bahagia, meskipun kami tidak tahu hasil yang diberikan oleh Alam. Dengan kepolosan anak kecil, yang harus menggatikan waktu bermain dengan bekerja. Karena, kami di lahirkan oleh orang tua yang hidupnya bersahabat dengan Alam, meskipun lelah yang kami rasakan.

Kehidupan kami sebagai petani hanya bergantung pada Alam dan kami harus berbuat baik kepada Alam, meskipun Alam tidak seharusnya berbuat baik kepada kami. Inilah kehidupan kami, yang selalu menanti apa yang Alam berikan untuk kami.

Seorang Ayah sebagai tulang punggung kami, harus memberikan nafkah kepada kami setiap hari, dengan bekerja keras, mengelolah, menanam, dan membajak sawah dengan bantuan dua ekor Sapi atau Kerbau yang kadang-kadang harus mengeluarkan suara yang keras supaya mengikuti apa yang diperintahkan. Kami sebagai seorang anak, menyaksikan bagaimana perjuangan seoarang Ayah yang mengelolah tanah yang begitu keras dengan alat seadanya, namun ada hal lain yang kami rindukan, ketika suara itu dipantulkan oleh lembah-lembah yang bisu membuat kami memahami arti akan sebuah Alam yang bersahabat.

Musim panen mulia terlihat, ketika tanaman mulai menunjukkan warna kuning cerah dan burung-burung mulai beryanyi, menari dengan tumbuh-tumbuhan kemudian angin mulai menyampaikan salam kesejukkan bagi kami, seakan-akan kelelahan yang kami rasakan mulai terbayarkan oleh hasil yang diberikan oleh Alam.

 

Baca Juga :


Para petani mulai berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil yang diberikan oleh Alam, meskipun hasil tidak sebanding dengan usaha yang kami lakukan. Tapi kami tidak pernah menghianati hasil yang diberikan. Kami selalu bersyukur karena Alam selalu memberikan kehidupan bagi kami.

Alam mulai berpesta dengan kami, orang tua kami menari penuh dengan kebahagiaan meskipun kelelahan yang tersembunyi di balik senyuman mereka. Kami hanya berpikir bahwa mereka tidak mengenal lelah, karena terhalang oleh kepolosan kami untuk membanyangkan, bagaimana mereka melakukan semua itu?

Selama lima belas tahun kami habiskan waktu untuk berteman dengan Alam, yang membuat kami mulai menyadari bahwa orang tua tidak ingin anaknya menjadi seorang petani, karena begitu lelah yang mereka rasakan. Orang tua kami selalu mengharapkan bahwa masa depan anaknya harus lebih baik dari mereka.

Dua Malaikat tanpa sayap, tidak pernah terbang di atas angkasa untuk menyaksikan bagaimana Alam yang begitu luas yang memancarkan dekorasi keindahan tiada tara. Sayapnya selalu di patahkan oleh cita-cita anaknya yang melampaui Langit yang tinggi.



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan