logoblog

Cari

Tutup Iklan

Perlawanan Lelaki Tua Dalam Arus Globalisasi

Perlawanan Lelaki Tua Dalam Arus Globalisasi

  Umur boleh tua, tapi jiwa tetap muda; sebuah prinsip hidup yang melekat pada diri Amaq Saliman sehingga dengan umur yang

Sosok Inspiratif

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
20 November, 2017 18:04:03
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 7709 Kali

Umur boleh tua, tapi jiwa tetap muda; sebuah prinsip hidup yang melekat pada diri Amaq Saliman sehingga dengan umur yang sudah memasuki 80 tahun, ia pun masih tetap bersemangat melangsungkan aktifitas hidupnya sebagai pedagang tikar keliling di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Amaq Saliman lahir di Montong Ate Keraning, Kecamatan Pringga Rata, Kabupaten Lombok Tengah. Ia dilahirkan di sebuah lingkungan keluarga yang tidak mampu. Kedua orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh tani musiman, sehingga untuk menempuh pendidikan formal tak sanggup. Hingga ketika berusia remaja, Amaq Saliman mengikuti jejak langkah dari orang tuanya, yaitu bekerja sebagai buruh tani. Namun karena menjadi seorang buruh tani musiman, tentu penghasilannya masih tak mampu untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan keluarganya. Akhirnya, ia pun diajak oleh seorang teman kampungnya untuk ikut bekerja sebagai pedagang tikar keliling di berbagai desa yang ada di Lombok Tengah, dan ternyata penghasilannya memberi keuntungan.

Keterlibatan Amaq Saliman sebagai pedagang tikar daun lontar membuat perubahan sikap pada gaya hidupnya. Ia menyadari bahwa ada perubahan ekonomi yang membaik pada keluarganya. Apalagi pada masa itu, tikar daun lontar masih sangat laris dan menjadi andalan pilihan bagi warga sekitar yang ada di kampung Amaq Saliman.

Seiring dengan perkembangan waktu, aktifitas Amaq Saliman sebagai pedagang tikar keliling semakin lancar dan memberi banyak keuntungan. Ia pun akhirnya menikah pada usia 20 tahun bersama dengan seorang gadis kampung yang tak jauh dari rumahnya. Ia pun akhirnya membina rumah tangga dengan mengandalkan sumber mata pencaharian dari usaha dagang tikar daun lontar. Ia sangat bersyukur kepada Allah karena walaupun profesinya hanya sebagai pedagang tikar keliling, namun ia mampu memenuhi berbagai kebutuhan keluarganya, termasuk membiayai pendidikan anak semata wayangnya.

Keuletan Amaq Saliman dalam menjalani aktifitasnya sebagai pedagang tikar daun lontar tak pandang waktu. Pada musim penghujan, ia pun terkadang menembus lorong-lorong jalan, atau dari kampung ke kampung. Di Musim panas, walaupun bermandikan keringat, ia tetap saja berjalan sambil memikul barang dagangannya pada pundak.
Bagi seorang Amaq Saliman bahwa waktu adalah uang. Dari prinsip inilah, ia selalu berjuang dengan keras dan selalu berupaya untuk mencapai target penjualan yang telah direncanakan.Alhamdulillah, semenjak ia bekerja sebagai pedagang tikar keliling, barang dagangannya selalu habis sebelum kembali ke tempat tinggalnya.

Kesuksesan seseorang dalam menekuni suatu usaha kerja terkadang mengalami suatu kemunduran.Di era arus globalisasi, perekembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ada banyak usaha kerajinan tradisional mengalami kemerosotan. Usaha dagang tikar dari Amaq Saliman yang dulunya mampu meraih keuntungan yang berlimpat ganda nyaris dipunahkan oleh perkembangan teknologi moderen, seperti produksi tikar plastik, karpet dengan berbagai bentuk dan merek. Namun, bagi seorang Amaq Saliman, ia pun masih tetap saja mempertahankan dan memperkenalkan budaya lokal yang berupa tikar daun lontar. Olehnya itu, Amaq Saliman melakukan suatu perlawanan tehadap teknologi modern yaitu dengan melakukan suatu perubahan sistem penjualan. Ia pun merubah lokasi kerjanya, yaitu tidak lagi berkeliling ke desa-desa , namun ia setiap harinya banyak memasuki lorong-lorong jalan di perkotaan yaitu di Kota Mataram. Ia meyakini bahwa dari sejumlah penduduk yang ada di Kota Mataram, Insya Allah pasti masih ada segelintir orang yang membutuhkan dan mencintai tikar daun lontar. Hingga kini, Amaq Saliman yang lahir di zaman Belanda ini mengharuskan dirinya berangkat subuh setelah sholat subuh ke Kota Mataram yaitu dengan menggunakan mobil angkutan umum ke terminal Mandalika Mataram. Dari terminal Mandalika, ia pun harus mulai berjalan dengan sebuah potongan bambu yang membeban pada pundaknya, dan di setiap ujung bambu itu tegantung gulungan tikar daun lontar. Selain itu, ia pun juga tak ketinggalan menenten sebuah tas rajutan rotan yang berisikan perlengkapan sholat dan air minum.

Pada waktu malam, yang mana ketika Amaq Saliman usai menelusuri lorong-lorong jalan di Kota Mataram, ia pun menuju ke Masjid Raya Mataram untuk beristirahat, dan terkadang menginap apabila barang dagangannya belum habis.

Amaq Saliman tak akan pulang ke kampung halamannya sebelum habis barang dagangannya.Ia terkadang menghabiskan waktu selama 4 hingga 5 hari baru barang dagangannya habis terbeli. Namun selama perjalanan waktu dalam menjalankan aktifitas kerjanya  di Kota Mataram, ia selalu menginap saja di Masjid Raya Mataram. Amaq Saliman memilih tidur di Masjid Raya Mataram dengan alasan agar dapat lebih memperbanyak ibadah kepada Tuhan bersama dengan majelis taqlim. Untuk menambah kekuatan fisik, ia pun hanya mencari warung nasi yang harganya sekitar 5 ribu rupiah.

 

Baca Juga :


Mengais rezeki di tengah arus globalisasi, Amaq Saliman tak pernah menyerah. Ia pun meyakini bahwa selagi kita berjuang, Tuhan pasti memberikan pertolongan dan kekuatan. Keyakinan inilah yang membuat jiwa Amaq Saliman untuk selalu melangkah ke berbagai sudut kota dalam mengais rezeki.

Inilah perjuangan seorang Amaq Saliman, yang walaupun usianya sudah tua dan kulit berkeriput, namun tetap berusaha untuk berjuang dalam hidupnya. Ia juga tak mau membebani orang lain, keluarga atau anaknya yang kini sudah mapan dalam kehidupan. Selagi masih ada kekuatan dan jalan yang diberikan oleh Tuhan, ia tetap bersemangat untuk hidup. Walaupun ia kini tinggal sendiri di sebuah gubuk pedesaaan, ia tak mau menjadi pengemis., bahkan ia mengakui kalau dirinya masih sering memberikan uang kepada cucu-cucunuya. “Saya bahagia kalau saya bisa beri uang cucu-cucu saya,” ungkapnya sambil membereskan barang dagangannya di sebuah masjid kecil yang terletak di Jalan Teruno Joyo Mataram.

Mengenai tikar daun lontar yang menjadi sumber mata pencaharian dari Amaq Saliman, ia memperolehnya dari ibu-ibu pengrajin yang ada di kampungnya dengan system borong. Untuk saat ini, ia selalu membawa dua type tikar daun lontar. Type tikar yang berukuran 1 meter persegi dihargai 100.000,-  perlembar, sedangkan type tikar daun lontar yang berukuran 3 meter persegi seharga  200.000,-  rupiah perlembar.

Dari ulasan cerita di atas, dapat dipahami bahwa tak kala seseorang terlahir di dalam suatu lingkungan keluarga yang tak mampu, tentu akan menjadi kendala untuk mengembangkan diri. Amaq Saliman yang lahir di lingkungan keluarga miskin, ia pun tak mampu untuk mengecap pendidikan di sekolah formal. Akan tetapi, ketika kebutuhan itu menuntut, orang itu akan tetap berupaya untuk memenuhinya dengan berbagai cara, seperti yang dialami oleh Amaq Saliman, ia berupaya mengais rezeki lewat dagangan tikar yang sesuai dengan tingkat kemampuannya.

Selanjutnya, keberhasilan seseorang di dalam suatu dunia kerja, terkadang mengalami kemerosotan. Berbagai hal yang dapat menjadi penyebab. Kesuksesan Amaq Saliman sebagai pedagang tikar keliling diterjang oleh arus teknologi yang canggih. Namun Amaq Saliman memiliki kekuatan jiwa, sehingga ia tetap bertahan untuk mempertahankan nilai budaya lokal yang berupa tikar pandang, dan sebagai modal untuk bertahan hidup. []

 



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan