logoblog

Cari

Tutup Iklan

Mistradi Menjaring Mimpi Bersekolah Tinggi

Mistradi Menjaring Mimpi Bersekolah Tinggi

KM. Sukamulia – Artikel kali ini menceritakan perjuangan seorang anak yang tidak pernah mengalah demi mewujudkan impiannya bersekolah. Mistradi, ia adalah

Sosok Inspiratif

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
03 November, 2017 22:49:42
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 8358 Kali

KM. Sukamulia – Artikel kali ini menceritakan perjuangan seorang anak yang tidak pernah mengalah demi mewujudkan impiannya bersekolah. Mistradi, ia adalah seorang anak yang dilahirkan di tengah-tengah Komunitas Masyarakat Adat Bayan. Orang tuanya adalah seorang Kiyai Pengulu (Strata Agama Masyarakat Bayan). Sejak kecil anak ini memiliki motivasi sekolah yang tinggi namun keinginannya itu kurang mendapatkan dukung dari keluarganya. Selain kurang dukungan orang tua, keadaan ekonomi keluarganya juga tidak memungkinkannya untuk sekolah hingga sarjana. Namun demikian, anak ini tidak putus asa dan terus berjuang merajut mimpinya sendiri sehingga saat ini ia bisa menjaring sebagain mimpinya dengan duduk di bangku kelas XII SMK NW Kokok Putik.

Hidup memang dalam kendali Yang Maha Kuasa, tidak seorang-pun yang tahu jika ia akan hidup bagaimana dan menjadi apa. Jalan hidup memang tidak bisa ditebak. Ada diantara kita yang dilahirkan di tengah-tengah keluarga berada dan orang tua kita memiliki semangat tinggi untuk menyekolahkan kita, namun kita sendiri tidak memiliki motivasi untuk hal itu dan sebaliknya ada pula diantara kita yang terlahir di tengah-tengah keluarga tidak berada dana tau di tengah masyarakat yang aturan-aturan adatnya sangat kuat namun kita memiliki motivasi bersekolah yang tinggi yang meskipun kita tahu bahwa orang tua kita tidak mampu membiayai keinginan itu dan aturan adat juga tidak memperbolehkan kita untuk bersekolah namun kita tetap berjuang untuk megapai impian untuk bersekolah itu.

Mistradi merupakan anak yang terlahir di tengah-tengah keluarga kurang mampu dan penuh dengan aturan adat, namun demikian ia memiliki motivasi yang tinggi untuk bersekolah sehingga ia melakukan berjuang dengan berbagai usaha untuk mewujudkan keinginannya itu. Saya terkesima mendengar cerita anak ini. Awalnya saya penasaran karena sejak awal minggu ini ia terlihat kurang cerita yang padahal sebelumnya ia selalu terlihat smart. Ahirnya pada hari Kamis (02 November 2017) saya memanggilnya ke ruang Bimbingan Konseling dan pada kesempatan itu saya menanyakan kenapa ia terlihat murung sejak awal minggu ini.

Mistradi pun bercerita mengenai permasalahan yang membuat keceriaannya hilang. Baru kali ini saya mengetahui seluk beluk kehidupan anak ini, ternyata cerita hidupnya sangat luar biasa. Perjuangannya untuk bisa duduk di bangku SMK NW Kokok Putik saat ini sangatlah pelik dan mengharukan. Dan kini ia mulai berpikir bagaimana caranya sehingga setelah tamat SMK ia dapat melanjutkan pendidikannya ke jejang Perguruan Tinggi. Pikiran itulah yang membuat ia kelihatan suntuk dan kurang ceria sejak awal minggu ini.

Pada kesempatan itu, anak yang dilahirkan di Telaga Seguar Bayan pada tanggal 19 Agustus 1999 ini bercerita panjang lebar mengenai perjalanan hidupnya sehingga ia dapat duduk di bangku SMK. Ia bercerita bahwa ayahnya adalah seorang Kiyai Adat Bayan yang taat akan aturan-aturan adat, ia memiliki 7 orang saudara dari 2 orang istri ayahnya. Ia memiliki seorang saudara kandung dari pernikahan Niwanep (ibu) dan Jitrasih (ayah) dan ia adalah anak kedua. Dari delapan orang bersaudara, hanya sendirinannya yang bersekolah. Dan untuk bersekolah itu, ia harus meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya.

Ia bercerita bahwa ayahnya hanya memiliki 50 are tanah garapan dan tanah itulah yang ia kelola untuk menghidupi keluarganya. Pada saat duduk di bangku kelas IV SD sebab sejak itu orang tuanya merasa tidak mampu untuk melanjutkan sekolah-nya karena jarak sekolahnya terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Hal itu membuat kedua orang tuanya harus mengeluarkan biaya transportasi pada setiap harinya, belum lagi belanja hariannya. Merasa tidak mampu untuk membiayainya, kedua orang tuanya pun memutuskan untuk berhenti menyekolahkan Mistradi. Namun hal itu tidak mematahkan semangat dan motivasi Mistradi untuk bersekolah. Ia rela meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya demi menggapai impian untuk bersekolah. Sejak itulah, ia tinggal di rumah Papuk Ganim (warga Desa Bayan) yang merupakan kerabat dari ayahnya. Selama di asuh oleh Papuk Ganim, setiap hari ia bekerja mengembala sapi dan atau mencari rumput untuk pakan sapi yang pelihara oleh Papuk Gani. Kegiatan itu dilaksanakannya setiap pulang sekolah hingga menjelang magrib dan itu adalah kegiatan hariannya hingga ia menamatkan pendidikan dasarnya di SDN 2 Bayan.

Setelah menamatkan pendidikan Sekolah Dasar, ia mengungkapkan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) kepada orang tuanya, namun orang tunya kurang mendukung keinginan tersebut. Meskipun demikian, Mistradi tidak patah semangat dan ia tetap melanjutkan impiannya untuk bersekolah. Selama duduk di bangku SMP SATAP 4 Bayan, ia tinggal di rumah Amaq Naen yang juga merupakan kerabat ayahnya. Selama di asuh oleh Amaq Naen, ia bekerja membantu Amaq Naen mengolah sawah pertaniannya. Ia juga membantu Amaq Naen mengembala dan mencari pakan ternak sapi milik orang yang mengasuhnya itu. Mistradi memang anak yang rajin dan pekerja keras dan itu ia lakukan demi mencapai impiannya bersekolah. Mistradi memang anak yang tingkat kecerdasannya biasa-biasa saja, namun ia sangatlah rajin sehingga ia dapat menamatkan Sekolah Menengah Pertamanya dengan baik.

Tamat SMP, Mistradi sempat putus asa sebab tidak ada hal yang bisa diandalkan untuk membiayai dirinya bersekolah di bangku Sekolah Menengah Atas. Atas rahmat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, sosok yang rajin dan pekerja keras itu-pun dipertemukan dengan Hamdi, S. Pd (Guru SMK NW Kokok Putik). Kepada Hamdi, Mistradi menceritakan keluh kesahnya yang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA/SMK namun orang tuanya tidak mendukung keinginannya terkait dengan tidak adanya biaya.

Mendengar cerita itu, Hamdi memberitahu Kepala SMK NW Kokok Putik mengenai keinginan anak tersebut. Mistradi-pun diterima menjadi siswa SMK NW Kokok Putik dan di sana anak itu mengambil Jurusan Agrobisnis Pertanian dengan Program Keahlian Agrobisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura (ATPH). Setelah masuk SMK, Mistradi bingung mau ke sekolah menggunakan apa sebab ia tidak punya motor sedangkan jarak rumahnya cukup jauh dari SMK tempatnya bersekolah. Selama dua minggu ia harus pulang pergi dari rumahnya dan selama itu ia diantar oleh teman dekatnya. Namun, ia kesulitan untuk pulang sebab tidak ada teman sekolahnya yang pulang searah dengannya. Hal itu menyebabkannya harus berusaha mencari tempat tinggal.