logoblog

Cari

Tutup Iklan

Ssssttt..., Ada Kades Penjual Sayur

Ssssttt..., Ada Kades Penjual Sayur

Ini baru unik dan inspiratif. Ada Kepala Desa (Kades) jadi penjual sayur. Di sela-sela kesibukannya mengurus rakyat, mengurus pemerintahan desa, dia

Sosok Inspiratif

Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
21 September, 2017 19:17:36
Sosok Inspiratif
Komentar: 0
Dibaca: 3208 Kali

Ini baru unik dan inspiratif. Ada Kepala Desa (Kades) jadi penjual sayur. Di sela-sela kesibukannya mengurus rakyat, mengurus pemerintahan desa, dia sempatkan diri keliling kampung menjual sayur. Seperti apa sepak terjang sang kades penjual sayur?

Pagi buta, setelah adzan subuh berkumandang, masyarakat kampung Adeng, Desa Jagaraga Indah Kecamatan Kuripan terus berseliweran. Usai sholat subuh, di bawah lampu penerang jalan, mereka berbondong-bondong menuju areal lahan yang sudah menjadi tempat pertemuan. Konon, tempat ini sebagai tempat transaksi segala macam kebutuhan masyarakat sehari-hari. Dari sayur mayur, sembako, hasil bumi bisa didapatkan di sini. Singkatnya, kebutuhan sandang, pangan dan papan bisa dilakukan jual beli di sini. Selanjutnya, mereka bertransaksi lagi di pasar-pasar sekitar Kuripan, Kediri dan Gerung.

Di tengah-tengah warga yang berseliweran, sibuk melakukan transaksi, di sana ada sosok laki-laki paruh baya turut berbaur. Laki-laki itu adalah Muhasim sang kades. Saat ini, dia tidak sedang menjadi orang nomor wahid di Desa Jagaraga Indah. Tetapi menjadi penjual sayur, siap mengantar kebutuhan pesanan dari pelanggannya. “Bukannya tidak tahu, warga tahu kalau saya jadi kepala desa,” tutur Muhasim dibarengi tawa yang renyah tanpa malu. Namun saat melakukan transaksi di kala pagi buta seperti itu, sebagaian besar warga tidak tahu kalau yang melakukan transaksi, pun ada kades mereka. “Wajar saja tidak tahu, kan sedikit gelap, saya pakai sarung, topi pet, berjaket, mereka pasti mengira saya dari desa sebelah,” kisahnya kepada KM.

Mungjkin sudah mendarah daging. Hampir seluruh warga Dusun Adeng semua berprofesi sebagai pedagang. Demikian pula dengan keluarga sang Kades. Seluruhnya menjadi pedagang dan pengusaha. Kalaupun menjadi seorang kades, itu sebuah amanah masyarakat yang harus diemban. Menjadi kepala desa, bukan berarti kemudian, menjadi pedagang harus dilupakan, harus disisihkan karena ada profesi lain. Menjadi pedagang harus tetap dilakoni. Karena menurut Muhasim, menjadi pedagang, sebuah profesi yang bisa membesarkan seluruh keluarganya. Berawal dari adik, kakak, sepupu, semua pedagang dan pengusaha. Menjadi pedagang dan pengusaha, tidak sekedar membesarkannya dari sisi fisik, melainkan dari sisi edukasi, pun membawa putra-putrinya ke jenjang perguruan tinggi, bahkan ada yang sedang menjalani pasca sarjana (S2).

Kadespun tidak ingin kehilangan waktu. Tidak ingin kalah dengan orang kowok aiq (orang Barat) yang mengatakan; time is money. Maksudnya adalah, waktu itu sangat berharga. Untuk itu, makna time is money perlu mendapat penerapan, betul-betul dijalani oleh seluruh warga dusun Adeng. Seluruh warga berkeyakinan, tidak ingin rizki mereka dipatuk ayam duluan. Sebelum rizki itu duluan dipatuk ayam, warga harus lebih dulu mencarinya, harus bangun, bila perlu sebelum ayam berkukuruyuk.

Jeda waktu masih pukul 06.00 pagi. Nasi bungkus, terasi, ikan asing, sayur toge, tahu, tempe, kangkung, sayur kembang, tomat, pisang, gula merah, cabai, kol, buncis, sudah siap diboncengan. Sepeda motor milik kades sudah kelihatan sarat, siap meluncur bersama si joki. Sasarannya diawali dari pasar Kediri. Di sini, titipan nasi bungkus dilepas. Yang dititipi nasi bungkus, sedikit pun tanpa curiga kalau yang menitipkan itu adalah sang kades. Ada pula yang tahu dan kenal, tapi peristiwa unik itu bukan suatu hal yang luar biasa. Bagi mereka, itu sebuah peristiwa transaksi yang biasa saban hari terjadi, kendati pelakunya adalah seorang kepala desa sekalipun.

Hari, minggu, bulan dan tahun terus bergayut. Terus diisi dengan penuh kesibukan. Kesibukan yang sarat makna. Pagi buta menjelang subuh, sang kades harus mengantar kebutuhan pelanggan memasuki lorong-lorong. Di sana sudah menunggu pelanggan setia. Baru menjelang pagi, setelah matahari muncul di ufuk timur, sang kades pulang tentu dengan membawa uang hasil jualan.”Hidup memang berat, butuh perjuangan. tapi jika betul-betul dilakoni atas dasar ikhlas, maka Tuhan akan memberi jalan yang benar,” sebuah tausiah yang tiba-tiba muncul dari mulut sang kades. Keluarga pun menunggu dengan hibah sejumlah uang hasil penjualan sayur. “Dalam tempo satu setengah jam, dari mana kita dapat uang dua ratus sampai empat ratus ribu rupiah,” tantangnya.

 

Baca Juga :


Pagi ini sudah hampir pukul tujuh. Sang kades sudah tiba di rumah. Dia bergegas melakoni drama kehidupan lain. Sekarang, dari sisi tampang, tidak ada lagi dandanan layaknya penjual sayur keliling yang identik dengan sarung, jaket, topi dan boncengan motor yang sarat kebutuhan menu dapur. Tidak ada lagi suara khas pemikat pembeli;......sayuuur....sayuuur...diikuti suara klakson motor yang memecah nuansa pagi.

Sekarang, sang kades nampak gagah dengan badan sedikit sigap.Tubuhnya yang sintal dibungkus baju-celana univorm warna keki. Di pundak baju kiri-kanan dihiasi bet-bet yang sarat makna. Ya, pagi ini tepat pukul tujuh, sang kades sudah siap berangkat ke kantor. Tugasnya melayani masyarakat, tugas-tugas pemerintahan desa harus segera diselesaikan.

Pada waktu sore hari, sang kades pun tidak ingin kehilangan waktu. Terkadang waktu sore digunakan juga untuk menjual sayur lagi. Kali ini khusus untuk kebutuhan anak yatin yang ada di desanya. “Ya sore nanti silahkan datang foto saya yang sedang jualan. Tapi ini khusus saya serahkan untuk anak-anak yatim,” tantang sang kades. Tetapi KM lebih memilih bengong keheranan, ketimbang segera mengabadikan sang kades yang tengah melakoni kehidupan, kehidupan yang sarat makna.....dan inspiratif.......Selamat berjuang Pak Kades, Pak kades Penjual sayur. Setidaknya ini sebuah inspirator bagi warga Desa Jagaraga Indah dan keluarga. []

  



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan