logoblog

Cari

Menghias Hidup Dengan Seutas Benang

Menghias Hidup Dengan Seutas Benang

  Nur Hikmah, begitulah namanya(37). Masih bergulir waktu di saat malam tadi Selasa 20 April 2017 pkl 10:11 menit aku duduk di

Sosok Inspiratif

EMA HUZAIMA. S.
Oleh EMA HUZAIMA. S.
24 April, 2017 12:28:44
Sosok Inspiratif
Komentar: 1
Dibaca: 30807 Kali

Nur Hikmah, begitulah namanya(37). Masih bergulir waktu di saat malam tadi Selasa 20 April 2017 pkl 10:11 menit aku duduk di hadapannya. Di temani suara anak nya yang rewel M. Arziki(2,5) yang berada di pangkuan ibunya, sesekali ia menangis saat aku mencoba memegang sebuah buku milik ibunya. Wanita paruh baya ini sudah menetap di Lombok kurang lebih sudah 10 thn, ia asli Jawa Tengah, Tegal. Ia sendiri kawan lama ibuku dan mereka sudah sangat akrab.

Wanita ini tertawa ketika aku berkata ingin mewawancarainya, dengan logat Jawa yang sangat kental ia berkata “Wah.. saya mau di wawancara? Aduh, saya tumben mau di wawancara!’’, begitu pula dengan kedua anak nya yang masih duduk di bangku SD Sellomita(11) dan Kenaya(7) ikut tertawa sembari menonton Tv.

Saat itu juga di samping ku ada sebuah kantong plastic yang isinya nampak jelas, kantong itu berisi benang-benang Kur yang nantinya akan di sulap menjadi kerajinan tangan yang indah. kegemarannya dengan sesuatu yang baru hingga ia menjalani usaha sampingan berupa kerajinan tangan dengan bahan dasar benang-benang sederhana ini. Memang sudah sejak gadis ia menyukai hal yang berupa seni kerajinan, ia melakukannya atas dasar kesenangan, hobby dan sebuah jiwa yang selalu berfikir positif “saya itu senang ya Ema ya, mencoba sesuatu yang baru, apa ya’ kalo ngeliat orang lain saja bisa, pasti saya juga bisa..” kalimat ini sangat mengekspresikan bahwa ia sosok yang pantang menyerah dengan pemikiran tak ingin mengalah sebelum mencoba.

Sampai suatu ketika ia pernah mencoba membuat sebuah dompet dari kain Panel untuk dirinya sendiri, lalu dua minggu setelah itu di tempat les anaknya yang pertama Selomika(11) banyak wali murid dari anak nya ingin dompet seperti yang ia kenakan, saat ditanya oleh wali murid yang lain “ini beli dimana?” ia pun berkata kalau ini buatan ia sendiri. Hingga pada akhirnya berawal dari ketertarikannya dengan industry kreatif itu akhirnya ia tertarik dengan kerajinan benang kur yang masih berjalan sampai saat ini.

Sudah 2 bulan setengah sejak akhir lebaran tahun kemarin hingga saat ini bisnis itu masih berjalan, dengan perbincangan ku dengan wanita ini tidak ada sesuatu yang baku, ia memberikan sebuah pendapat ketika kita ingin berkreatifitas,  Kita harus melakukannya dengan modal senang, ulet, sabar pasti hasilnya akan terbayar karena ia juga mengamalkan hal yang sama pada apa yang ia pesan.

Suaminya seorang pedagang kaki lima di pinggir Jalan Raya Meninting, dagangannya kadang ramai dan sebaliknya tergantung pembeli dan hari-hari libur besar. Ia seorang penjual Martabak Manis asli Jawa Tengah, Tegal, mereka sama-sama pendatang. Ketika saya menyambangi rumahnya yang sederhana dengan sedikit memasuki gang sempit di belakang toko baju lalu belok kiri, itulah tempat kediamannya di Desa Meninting, kecamatan Batu Layar, Jalan Raya Senggigi.

Ia mengerjakan pekerjaannya seorang diri, pernah minta bantuan tetangganya untuk mengerjakan pembuatan tas dari benang kur itu namun seperti ada yang kurang menurutnya, orang yang belum mahir menurutnya tidak akan bisa sejeli dia, ia takut jika yang membantunya itu kurang faham dan nanti konsumenlah yang akan tak senang, ia berkata “kan gak enak kalau barangnya sudah jadi tapi yang beli jadi kurang puas’’ disini ia tak hanya melihat dari satu sisi tapi wanita ini berusaha melihat dari dua sisi dimana keduanya sama-sama untung baik dari pedagang dan pembelinya, ini saja tidak cukup ia rasa, yang terpenting itu ketika konsumen sangat puas maka ia juga akan sangat puas karena yang ia harapkan disini ialah barangnya bisa di terima dengan layak untuk dipakai, ini bukan hanya sekedar menjual tapi ia berharap jasanya bisa dihargai dan diterima oleh orang banyak.

Ada tas yang kisaran 70,000 keatas kita bisa memilikinya, gelang dan kalung dari 5000 an sampai 50,000 saja tergantung besar, kecil, dan aksesoris barang pemesanan. Ia bercerita kalau kendala yang paling sering di hadapi “paling kalo’ nyambung, kebakar itu tangan pernah kena, itu aja..” balasnya. Melalui dua buku dan memanfaatkan fasilitas internet ia bisa belajar dengan mudah, biasa membeli barang-barang nya di toko Hollywood, “baranganya di hitung kira-kira seminggu lah bisa” ujarnya.

 

Baca Juga :


Jika kita membandingkannya dengan harga luar atau yang biasa bertebaran harga di pasar Online yang kisaran harganya lebih mahal, dan jika kita patokkan dengan harga yang di berikan oleh nya maka akan sangat beda perbandingannya, tak hanya berkata seperti itu, ia juga berkata terkadang jika membeli di Online Shop dengan merk toko tertentu akan di kenai biaya kirim yang jatuhnya pun dua kali yang di tambah harga kirim. Mungkin akan lebih baik kita memesan barang yang sudah dekat dengan area kita. Harga yang sesuai kualitas pula dan tanpa ongkos kirim untuk yang masih berada di dalam daerah Lombok tentunya akan sangat membantu dan memuaskan konsumen pada akhirnya.

Saya masih berada di rumah nya hingga hamper menjelang jam 11, saat itu pula ia sedikit bercerita, dulu ia pernah mengambil jurusan Perawat setamat SMA karena mengaku senang terhadap anak-anak, ia pernah melihat orang tua itu kasar terhadap anak-anak maka dari itu ia ingin masuk Perawat dan ia pernah dikirim ke Jakarta tapi Ia tak ingin, “pengennya Cuma ngurus anak-anak supaya bener” ujarnya lagi. Cita-citanya tak ia pasang terlalu tinggi-tinggi, ia hanya ingin berkeluarga dan mendidik anak-anaknya. Ceritanya membuat kepala saya menganggukkan kepala, sedikit membayangkan kehidupan wanita ini dalam masalalunya yang terrekam di ingatan klasiknya.

Harapan kecilnya pun tak tandus, ia ingin seperti orang-orang yang sukses dan mempunyai karyawan. Ia menjalankan bisnis ini dengan tangan yang telaten, buktinya saya sendiri membeli tas buatannya Rp. 175.000,00 dan beberapa orang pula yang tertarik untuk membelinya. Dari sekian barang-barang yang di buatnya itu semua dikerjakan sendiri dengan hati-hati, ia sangat senang jika ada yang memesan.

Hidup selalu memberikan sesuatu yang baru, bahkan untuk mengambil pengalaman kecil dari orang-orang terdekat kita yang mungkin kita tak sadar bahwa inspirasi itu ada jika kita melihat orang-orang seperti Ibu Nurhikmah yang kesehariannya hanya menganyam benang dengan berbagai pilihan warna, seperti hidup ini yang tak pernah berlalu tanpa warna-warni cobbaan dan rintangan yang silih berganti. Kita bisa menghias sedikit hidup kita dengan kisah dibalik anyaman benang Kur.

Hingga pada akhirnya iklan dari sebuah acara di TV di depan kami saat malam itu pun membuat saya ingin beranjak pulang, selesai menonton dan mewawancarai narasumber saya, saya pun pamit hingga akhirnya senyuman hangat nan sembringah yang terlontar di awal kalimat pertemuan saya dengannya tadi kembali muncul, wanita itu menunjukkannya sekali lagi di akhir malam tadi bersama candaan kecil kedua anaknya yang belum terlihat mengantuk. Kamis 20 April 2017 bersama suara hingar bingar lalu lintas Jalan Pariwisata, Meninting, km 05. [] 01

ilustrasi foto: net



 

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. Pangkat Ali

    Pangkat Ali

    24 April, 2017

    Gerung di mn?, Yuk main ke tmpt krj sy, humas protokol Lobar, kntor Sekretarait Bup. Lobar


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan